Beranda / Sampel Terjemahan / Indonesia-Inggris / Sampel 4 – Indonesia-Inggris

Sampel 4 – Indonesia-Inggris

Suhu lingkungan yang panas bisa memberikan pengaruh besar terhadap sistem hormonal ternak akibat perubahan metabolisme. Heat stres menyebabkan ternak mengurangi konsumsi pakan sehingga konsentrasi energi dari pakan yang dikonsumsi oleh ternak perlu ditingkatkan dalam kondisi lingkungan yang panas (Conte et al., 2018). Heat stress dapat meningkatkan sekresi ACTH sehingga meningkatkan kadar kortisol. Peningkatan konsentrasi kortisol pada ternak dapat meningkatkan konsentrasi glukosa darah yang dipengaruhi oleh hormon kortisol (Baumgard dan Rhoads, 2013). Kortisol dapat menekan pulsa luteining hormone (LH), yang berdampak pada penurunan pertumbuhan folikel serta menghambat pembentukan onset pubertas pada hewan muda dan siklus estrus pada induk pasca partus (Stevenson, 2001; Breen et al., 2004). Sementara itu, kandungan nutrisi pakan berdampak pada fisiologi reproduksi ternak. Status nutrisi ternak dapat dievaluasi dari profil biokimia darah yang berhubungan dengan gangguan reproduksi ternak, terutama berkaitan dengan anestrus (Pariza et al., 2013). Profil hormon kortisol dan biokimia darah seperti fosfor, protein, dan urea nitrogen darah penting diteliti untuk sapi potong lokal di Indonesia yang mengalami kawin berulang. Penelitian ini bertujuan mengetahui profil hormon kortisol dan biokimia darah pada bangsa sapi dan status kawin fertil dan kawin berulang.

Terjemahan Inggris

Hot environmental temperature can greatly affects the animal hormonal system due to changes in metabolism. Heat stress causes livestocks to reduce feed intake, so the energy concentration of the feed consumed by them needs to be increased in the hot environmental conditions (Conte et al., 2018). Such stress may increase ACTH secretion, increasing cortisol levels. The increase of cortisol concentration in cattle may increase blood glucose concentrations, being affected by cortisol hormones (Baumgard and Rhoads, 2013). Cortisol can suppress the luteinizing hormone (LH) pulses, thus affecting decrease in follicular growth and inhibiting the puberty onset of young animals and estrous cycles of post-partus parents (Stevenson, 2001; Breen et al., 2004) Meanwhile, the nutrient content of feeds may also greatly affect the physiology of cattle reproduction. The nutritional status of cattle can be evaluated from blood biochemical profiles associated with reproductive disorders, particularly anestrous cycle (Pariza et al., 2013). The blood cortisol and biochemical profiles such as phosphorus, protein, and blood urea nitrogen are important to study for local cattle with repeat breeding in Indonesia. The aim of this study is to examine the blood cortisol and biochemical profiles of cattle and the status of fertile and repeat breeding.

Periksa Juga

Sampel 10 – Inggris-Indonesia

Firm competitiveness in this article denotes the capability of a business enterprise to outwit its …