{"id":271,"date":"2024-08-14T06:40:57","date_gmt":"2024-08-14T06:40:57","guid":{"rendered":"https:\/\/mitragama.com\/konsultasidisertasi\/?p=271"},"modified":"2024-08-14T06:40:57","modified_gmt":"2024-08-14T06:40:57","slug":"menuliskan-ide-ide-pendukung-disertasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mitragama.com\/konsultasidisertasi\/2024\/08\/14\/menuliskan-ide-ide-pendukung-disertasi\/","title":{"rendered":"Menuliskan Ide-Ide Pendukung Disertasi"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ditulis oleh Firdinan M. Fuad, S.I.P<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">(Tulisan ini memiliki hak cipta. Dikutip dari buku karya Firdinan M. Fuad, 2019, <strong><em>Jalur Cepat Menyusun Disertasi dalam Waktu 1 Tahun<\/em><\/strong>, Yogyakarta: Paramitra Media Grup)     <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\nTuntutan\norisinalitas dan kebaruan temuan penelitian disertasi menuntut\nmahasiswa S3 mampu menuliskan ide-ide pendukung terus-menerus dari\nwaktu ke waktu. Ide-ide ini harus ditelorkan dari proses ekspresi\nide-ide secara imajinatif yang relevan yang telah dikuasai untuk\nmenaungi data penelitian maupun berdasarkan data empiris yang\nbenar-benar ditemukan di lapangan dan telah terpahami secara teoretis\nempiris sesuai dengan kerangka konsep yang telah dirumuskan\nsebelumnya. Ide-ide yang terekspresi tersebut harus benar-benar\nadalah hasil dari proses reformulasi-reformulasi pemikiran yang telah\ndilakukan terus-menerus di dalam kontinum relasi antara kerangka\npemikiran atau konsep penelitian dan data penelitian terpilih.\nIde-ide tersebut harus dituangkan sedemikian rupa sehingga membentuk\nmodel teoretis konseptual baru sebagai wujud utama temuan disertasi.\nDalam proses berpikir, logika pemikiran yang digunakan adalah\nkombinasi dari logika pemikiran deduktif dan induktif. Dari logika\npemikiran deduktif, proses berpikir reflektif guna menelurkan ide-ide\nimajinatif perlu selalu dikaitkan dengan teori-teori dan\nkonsep-konsep yang telah dielaborasi dan ditelaah secara mendalam,\nmendasar dan menyeluruh pada bagian tinjauan atau telaah pustaka,\ndisarikan pada bagian landasan teori, dan dirumuskan dalam kerangka\npemikiran atau konsep penelitian. Dari logika pemikiran induktif\nproses berpikir reflektif dalam menelurkan ide-ide imajinatif perlu\nselalu dikaitkan dengan fakta-fakta yang telah ditemukan sebagai data\nyang telah terpilih setelah melalui proses reduksi data sesuai\nkerangka pemikiran atau konsep penelitian yang digunakan untuk\nmencapai tujuan penelitian. Dengan kombinasi logika pemikiran\ndeduktif-induktif tersebut, ide-ide yang ditelurkan pada proses\nberpikir reflektif imajinatif tersebut dapat merupakan kombinasi\nhasil dua proses, yaitu verifikasi empiris dan abstraksi teoretis\nempiris dengan daya generalisasi temuan penelitian yang lebih tinggi.\n\n<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\nMenuliskan\nide-ide pendukung disertasi yang orisinal dan baru seperti itu dapat\ndilakukan kapan saja dan di mana saja. Cara yang paling utama adalah\nmelakukan refleksi tentang hal-hal yang masih mengganjal untuk\ndielaborasi lebih lanjut dengan tetap mempertimbangkan kerangka\npemikiran atau konsep penelitian yang digunakan dan tujuan penelitian\nyang ingin dicapai. Hal-hal yang mengganjal dan perlu dielaborasi\nlebih lanjut ini perlu dirumuskan menjadi unit-unit pertanyaan yang\nlebih kecil dan spesifik dalam rangka mendukung jawaban di unit-unit\npertanyaan yang lebih besar, serta dirumuskan juga relevansinya\ndengan konteks dari lingkup penelitian yang lebih luas.\nPertanyaan-pertanyaan penelitian itu dapat dituliskan semua dan\ndielaborasi melalui proses berpikir reflektif dan imajinatif\npeneluran ide-ide satu per satu, atau dapat pula menjawab\npertanyaan-pertanyaan penelitian tersebut satu per satu sesuai dengan\nurutan prioritas mana pertanyaan penelitian yang berhasil dirumuskan\nterlebih dahulu. Semakin banyak ide-ide reflektif imajinatif\ndihasilkan dari semakin banyak pertanyaan penelitian yang dirumuskan\ndan dijawab, maka semakin orisinal dan baru pula ide-ide yang\nnantinya dimasukkan ke dalam analisis disertasi. Dalam banyak kasus,\nide-ide yang dirumuskan melalui proses reflektif imajinatif tersebut\nakan menjadi jiwa utama dari disertasi dan alur-alur logika pemikiran\ndeduktif-induktif yang mendasari akan menjadi urat-urat yang\nmembentuk konsistensi logika disertasi yang hidup dan kokoh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\nProses\nberpikir reflektif imajinatif tersebut dapat, bahkan perlu, dilakukan\nsebanyak-banyaknya dari proses awal sebelum merumuskan topik\npenelitian sampai perumusan poin-poin rekomendasi kebijakan di bagian\npenutup. Proses berpikir semacam itu pada dasarnya merupakan proses\nmenelurkan hal apa saja yang mengganjal dan ingin disampaikan sebagai\nhasil penelitian melalui ide-ide secara sistematis. Ide-ide itu pada\numumnya benar-benar berasal dari diri peneliti yang terdalam yang\njelas merefleksikan orisinalitas. Oleh karena itu, satu-satunya cara\nterbaik yang perlu dilakukan untuk menuangkan ide-ide reflektif\nimajinatif dengan kesatuan antara pemikiran logika reflektif dan jiwa\nimajinatif itu adalah menuliskan ide-ide tersebut secara manual\ntertulis, bukan menuliskannya berbantuan komputer atau mesin pengolah\nkata yang lain. Bagi peneliti yang sudah sangat mahir menggunakan\nmesin pengolah kata, refleksi ide-ide imajinatif dapat dilakukan\ndengan mesin tersebut. Akan tetapi, bagi peneliti yang belum mahir\nmenggunakannya, proses penulisan ide-ide itu secara manual tertulis\nmenjadi pilihan utama yang sangat dianjurkan. Dalam hal ini, ujung\npena diharapkan menjadi ujung penuangan ide-ide reflektif dan\nimajinatif yang halus, yang menyatukan antara ide-ide dan hasil\npemikiran dengan logika formal dalam kerangka pemikiran atau konsep\npenelitian tertentu dengan ide-ide hasil pemikiran imajinatif yang\nsesuai dengan tendensi-tendensi ideal batin terhadap data penelitian\nyang terpilih. Proses berpikir semacam itu dapat dilakukan setiap\nsaat dan di mana saja terhadap hal-hal yang mengganjal dan perlu\ndielaborasi yang terbersit dalam hati dan pikiran sewaktu-waktu. Oleh\nkarena itu, peneliti harus siap sedia dengan media menulis, khususnya\nbuku besar catatan ide-ide reflektif imajinatif sehingga kapan saja\ndan di mana saja ide-ide itu terbersit hendak muncul ke alam sadar,\npeneliti dapat menuangkannya segera, bahkan seketika, secara manual\ntertulis tanpa menundanya sama sekali. Dalam banyak kasus, ide yang\nterbersit akan muncul ke alam sadar merupakan ide-ide yang memiliki\nserangkaian ekor ide-ide yang panjang dan sistematis di belakangnya,\nyang semuanya akan tersembul dan dapat dielaborasi secara mendalam,\nmendasar dan menyeluruhy jika ide-ide itu segera dituangkan secara\nmanual tertulis. Ide-ide seperti itu benar-benar orisinal dengan jiwa\nyang utuh dan kuat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\nProses\npenulisan manual tertulis berdasarkan proses berpikir yang reflektif\nimajinatif tersebut dapat dilakukan di bagian-bagian yang sangat\nmemerlukan kreativitas dan inovasi yang nantinya melahirkan\norisinalitas. Pada tahap awal, proses berpikir itu diperlukan dalam\nmerumuskan dan menentukan topik dan judul penelitian, yang disusul\ndengan perumusan masalah dan penentuan tujuan penelitian. Proses\nberpikir itu diperlukan dalam meninjau atau menelaah teori-teori dan\nkonsep-konsep yang kita gunakan untuk membangun landasan teori dalam\nmerumuskan kerangka pemikiran atau konsep penelitian aplikatif.\nProses berpikir tersebut juga sangat diperlukan dalam merumuskan\npertanyaan-pertanyaan penelitian aplikatif yang didasarkan pada\nkerangka pemikiran atau konsep penelitian yang digunakan dan dalam\nmenguraikan secara prediktif dan imajinatif kira-kira apa saja data\nyang dibutuhkan dan perlu dikumpulkan agar bisa menjawab\npertanyaan-pertanyaan penelitian tersebut secara optimal. Di tingkat\nmetodologi penelitian, proses penulisan semacam itu jelas sangat\nmembantu dalam mengelaborasi hal-hal yang perlu dilakukan di lapangan\ndan akhirnya dalam memprediksi bagaimana analisis nantinya dilakukan\nterhadap data yang diperoleh di lapangan. Dengan proses penulisan\nyang manual tertulis tersebut, peneliti akan mendapati hasil berupa\nproposal penelitian yang utuh dengan konsistensi logika dan ide-ide\nreflektif dan imajinatif yang kuat dan semua itu didukung dengan\nkerangka yang relatif orisinal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\nDi\nlapangan, proses penulisan manual tertulis berdasarkan proses\nberpikir reflektif imajinatif sangat diperlukan, khususnya untuk\nmembuat catatan-catatan lapangan dan catatan-catatan perjalanan di\nlapangan yang didasarkan pada observasi untuk mengumpulkan data\nberupa fakta-fakta yang menarik dan ditemukan di lapangan serta\ndiprediksi kira-kira sangat menarik sebagai pendukung data\npenelitian. Setiap kali melihat fakta yang menarik di lapangan,\npeneliti perlu segera mencatat, baik dalam bentuk poin-poin maupun\ncatatan-catatan terperinci mengenai suatu fakta. Kita jangan sampai\nmelewatkan fakta-fakta yang menarik dan diprediksi akan berguna\nsebagai data penelitian utama tanpa catatan observasi lapangan. Jika\nwaktu sudah longgar dan tidak sibuk dengan kegiatan pengumpulan data\npenelitian, kita dapat melonggarkan proses berpikir menjadi reflektif\nimajinatif berdasarkan catatan-catatan tentang suatu fakta di antara\nfakta-fakta yang telah diperoleh di lapangan dengan tetap\nmempertimbangkan tujuan penelitian, landasan teori, dan kerangka\npemikiran atau konsep penelitian yang digunakan. Elaborasi ide-ide\nyang terkait dan telah tertulis secara manual tersebut dilakukan\nterhadap unit-unit fakta yang berbeda satu per satu hingga akhirnya\nsemua fakta berhasil kita elaborasi secara lebih terperinci sesuai\ndengan tujuan penelitian dan kerangka pemikiran atau konsep\npenelitian yang digunakan. Proses penulisan manual tertulis tersebut\nsangat membantu peneliti untuk memperkaya daya tafsir atas\nfakta-fakta sebagai data penelitian, baik melalui verifikasi empiris\nmaupun abstraksi teoretis empiris.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Proses penulisan manual tertulis juga sangat membantu dalam memberikan tafsir atas data penelitian hasil wawancara mendalam atau hasil FGD. Hasil wawancara biasanya merupakan data mentah yang juga perlu dipilah-pilah dan dipilih melalui proses reduksi data. Data mentah dari hasil wawancara dapat digunakan sebagai lampiran, sedangkan data yang sudah direduksi ditindaklanjuti dengan pencarian relevansi dengan konteks penelitian yang lebih luas. Data hasil wawancara mendalam yang terpilih tersebut perlu dielaborasi dan dimasukkan ke dalam kerangka pemikiran atau konsep yang digunakan dalam penelitian. Dalam proses inilah penulisan manual tertulis sangat diperlukan, terutama untuk dapat membangun alur-alur pengait di antara hasil-hasil wawancara yang ada dengan konteks hasil penelitian yang lebih luas. Proses penulisan manual tertulis berdasarkan proses berpikir reflektif imajinatif atas data hasil wawancara tersebut sangat memperkaya pemahaman peneliti tentang kutipan-kutipan wawancara yang paling relevan untuk dijadikan sebagai data penelitian dan bagaimana menjadikan data tersebut sebagai bagian dari hasil penelitian yang nantinya diharapkan dapat menjadi pijakan yang penting dalam proses menentukan temuan utama penelitian. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ditulis oleh Firdinan M. Fuad, S.I.P (Tulisan ini memiliki hak cipta. Dikutip dari buku karya Firdinan M. Fuad, 2019, Jalur Cepat Menyusun Disertasi dalam Waktu 1 Tahun, Yogyakarta: Paramitra Media Grup) Tuntutan orisinalitas dan kebaruan temuan penelitian disertasi menuntut mahasiswa&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-271","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-tips-penulisan-disertasi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mitragama.com\/konsultasidisertasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/271","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mitragama.com\/konsultasidisertasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mitragama.com\/konsultasidisertasi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mitragama.com\/konsultasidisertasi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mitragama.com\/konsultasidisertasi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=271"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mitragama.com\/konsultasidisertasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/271\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":272,"href":"https:\/\/mitragama.com\/konsultasidisertasi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/271\/revisions\/272"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mitragama.com\/konsultasidisertasi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=271"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mitragama.com\/konsultasidisertasi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=271"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mitragama.com\/konsultasidisertasi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=271"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}