7 Alasan Disertasi Tidak Kunjung Selesai dan Solusi Praktisnya

Firdinan M. Fuad
Menyelesaikan disertasi merupakan proses akademik yang kompleks. Tidak sedikit mahasiswa doktoral telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membaca literatur, melakukan penelitian, mengumpulkan data, mengikuti seminar, dan berkonsultasi dengan promotor, tetapi naskah disertasinya tetap belum selesai.
Dalam beberapa kasus, penelitian sebenarnya sudah selesai dan data telah tersedia. Namun, proses penulisan justru menjadi hambatan terbesar. Peneliti merasa tidak tahu harus memulai dari mana, terus melakukan revisi, menambah referensi, atau kembali mengubah struktur yang sebenarnya sudah pernah dibuat.
Disertasi yang tidak kunjung selesai tidak selalu menunjukkan kurangnya kemampuan intelektual atau kurangnya penguasaan terhadap topik penelitian. Sering kali persoalannya terletak pada kombinasi antara ketidakjelasan argumentasi, struktur penulisan, manajemen proses, standar akademik yang terlalu tinggi, dan kesulitan mengubah hasil penelitian menjadi naskah ilmiah yang utuh.
Memahami penyebabnya merupakan langkah penting karena setiap masalah membutuhkan strategi penyelesaian yang berbeda. Berikut tujuh alasan disertasi tidak kunjung selesai beserta solusi praktis yang dapat diterapkan.
1. Rumusan Masalah dan Arah Argumentasi Belum Benar-Benar Jelas
Alasan pertama adalah ketidakjelasan mengenai apa yang sebenarnya hendak dibuktikan atau dijelaskan oleh disertasi.
Seorang mahasiswa dapat memiliki topik penelitian yang menarik, data yang melimpah, dan literatur yang banyak, tetapi jika pertanyaan penelitian belum menjadi pusat argumentasi, proses penulisan mudah berkembang ke berbagai arah.
Akibatnya, peneliti terus menambahkan teori, variabel, konsep, data, atau literatur baru karena merasa masih ada sesuatu yang kurang. Bab-bab disertasi kemudian menjadi semakin panjang tanpa semakin jelas.
Disertasi membutuhkan benang merah argumentasi. Setiap bab, subbab, tabel, kutipan, dan analisis idealnya dapat ditelusuri relevansinya terhadap pertanyaan penelitian.
Solusi praktis: buat peta argumentasi satu halaman
Sebelum melanjutkan penulisan, buat satu halaman yang memuat:
Masalah penelitian โ research gap โ pertanyaan penelitian โ teori/konsep โ metode โ temuan utama โ pembahasan โ novelty โ kontribusi.
Kemudian periksa setiap bab menggunakan pertanyaan:
โBagian ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan penelitian yang mana?โ
Jika sebuah bagian tidak memiliki fungsi yang jelas, pertimbangkan untuk memindahkan, memadatkan, atau menghapusnya.
Cara sederhana ini dapat membantu mengurangi kecenderungan untuk terus menambahkan materi baru ke dalam disertasi.
2. Terlalu Banyak Membaca tetapi Terlambat Menulis
Membaca literatur merupakan aktivitas fundamental dalam penelitian doktoral. Namun, membaca dapat berubah menjadi bentuk penundaan apabila tidak diikuti dengan produksi tulisan.
Mahasiswa merasa belum siap menulis karena masih menemukan jurnal baru, teori baru, atau perspektif baru. Setiap menemukan referensi baru, kerangka tulisan kembali diubah. Akibatnya, penelitian tidak pernah memasuki tahap konsolidasi.
Masalahnya bukan semata-mata terlalu banyak membaca, melainkan tidak adanya batas antara fase eksplorasi dan fase produksi.
Tujuan akhir tinjauan pustaka bukan menunjukkan bahwa peneliti membaca sebanyak mungkin artikel, tetapi menunjukkan di mana posisi penelitian yang dilakukan dalam perkembangan pengetahuan yang sudah ada.
Solusi praktis: terapkan aturan โbacaโolahโtulisโ
Setiap kali membaca literatur penting, jangan hanya menyimpannya di reference manager. Langsung ubah menjadi catatan yang memiliki tiga unsur:
- Apa yang dikatakan penelitian tersebut?
- Apa keterbatasan atau celahnya?
- Apa relevansinya terhadap penelitian saya?
Kemudian, setiap minggu tetapkan target tulisan, bukan hanya target bacaan.
Misalnya:
- membaca 10 artikel;
- menghasilkan 1โ2 halaman sintesis;
- memperbarui satu bagian tinjauan pustaka.
Dengan cara ini, membaca menjadi input langsung bagi penulisan.
3. Perfeksionisme Membuat Peneliti Sulit Menghasilkan Draf
Perfeksionisme akademik sering tampak sebagai sesuatu yang positif. Peneliti ingin menghasilkan tulisan yang berkualitas tinggi, argumentasi yang kuat, referensi yang lengkap, dan bahasa yang sempurna.
Namun, ketika standar tersebut diterapkan sejak kalimat pertama, perfeksionisme dapat menjadi hambatan produktivitas.
Peneliti menulis satu paragraf berkali-kali. Setelah selesai satu halaman, halaman tersebut kembali diubah. Setelah Bab II selesai, kerangka teori diganti. Setelah Bab IV ditulis, Bab I kembali direvisi.
Siklus tersebut dapat berlangsung tanpa menghasilkan naskah final.
Padahal, penulisan akademik merupakan proses iteratif. Draf pertama berfungsi untuk menuangkan gagasan. Draf berikutnya digunakan untuk memperbaiki argumentasi, struktur, bukti, konsistensi, dan bahasa.
Solusi praktis: pisahkan menulis dari menyunting
Gunakan tiga tahap kerja:
Tahap 1 โ Drafting: tulis gagasan tanpa terlalu banyak mengedit kalimat.
Tahap 2 โ Revising: periksa struktur dan kekuatan argumentasi.
Tahap 3 โ Editing: perbaiki bahasa, sitasi, format, dan kesalahan teknis.
Jangan mencoba menyelesaikan ketiganya sekaligus.
Target awal bukan menghasilkan tulisan sempurna, tetapi menghasilkan draf yang cukup lengkap untuk dievaluasi.
Gunakan target berbasis output, misalnya:
โHari ini menyelesaikan 800 kata Bab IV.โ
bukan:
โHari ini harus menyelesaikan Bab IV.โ
Target kedua terlalu besar dan abstrak sehingga mudah menghasilkan tekanan psikologis.
4. Data Banyak, tetapi Belum Diubah Menjadi Argumentasi
Disertasi yang berbasis penelitian empiris sering menghadapi paradoks: semakin banyak data yang dikumpulkan, semakin sulit menulis hasil penelitian.
Wawancara menghasilkan ratusan halaman transkrip. Dokumen penelitian terus bertambah. Hasil survei menghasilkan banyak tabel. Observasi menghasilkan berbagai catatan lapangan.
Peneliti kemudian merasa semua data tersebut penting dan harus dimasukkan.
Akibatnya, Bab Hasil Penelitian berubah menjadi kumpulan data.
Padahal, disertasi tidak dinilai berdasarkan banyaknya data yang berhasil dikumpulkan, tetapi berdasarkan kemampuan peneliti mengolah data menjadi temuan dan argumentasi ilmiah.
Solusi praktis: buat matriks dataโpertanyaan penelitian
Buat tabel sederhana dengan empat kolom:
| Pertanyaan penelitian | Temuan utama | Bukti/data | Makna analitis |
|---|---|---|---|
| RQ1 | Temuan A | Data 1, 2 | Menjelaskan X |
| RQ2 | Temuan B | Data 3, 4 | Menunjukkan Y |
| RQ3 | Temuan C | Data 5, 6 | Mengembangkan Z |
Matriks tersebut membantu memisahkan data yang relevan dari data yang sekadar menarik.
Gunakan prinsip:
Tidak semua data harus masuk ke disertasi; hanya data yang membantu menjawab pertanyaan penelitian dan membangun argumentasi.
Untuk penelitian kualitatif, prinsip ini dapat diterapkan melalui pengelompokan tema, kategori, dan pola. Untuk penelitian kuantitatif, peneliti dapat menghubungkan analisis statistik dengan hipotesis atau pertanyaan penelitian.
5. Sulit Membedakan Deskripsi, Analisis, dan Pembahasan
Banyak disertasi mengalami stagnasi karena peneliti kesulitan membedakan antara apa yang ditemukan dan apa arti dari temuan tersebut.
Bab hasil penelitian sering hanya menjelaskan apa yang dikatakan informan, apa yang terlihat dalam dokumen, atau apa yang ditunjukkan oleh data. Setelah itu, peneliti tidak tahu bagaimana melanjutkannya.
Padahal, pembahasan membutuhkan langkah interpretatif.
Deskripsi menjawab:
Apa yang terjadi?
Analisis menjawab:
Bagaimana dan mengapa hal tersebut terjadi?
Pembahasan kemudian membawa temuan tersebut ke dalam pertanyaan:
Apa arti temuan ini bagi teori dan penelitian terdahulu?
Solusi praktis: gunakan pola โTemuanโPenjelasanโPerbandinganโImplikasiโ
Untuk setiap temuan utama, tuliskan empat bagian:
1. Temuan: Apa yang ditemukan?
2. Penjelasan: Mengapa temuan tersebut muncul?
3. Perbandingan: Apakah temuan tersebut mendukung, berbeda, atau memperluas penelitian sebelumnya?
4. Implikasi: Apa konsekuensi teoretis atau empiris dari temuan tersebut?
Contohnya:
Penelitian menemukan pola X. Pola tersebut muncul karena faktor Y. Temuan ini sejalan dengan penelitian A, tetapi berbeda dari penelitian B. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa teori Z perlu mempertimbangkan faktor Y.
Pola ini membantu mengubah hasil penelitian dari sekadar laporan menjadi argumentasi akademik.
6. Revisi Berulang Tanpa Prioritas yang Jelas
Revisi merupakan bagian normal dari proses penyelesaian disertasi. Namun, revisi dapat menjadi tidak produktif apabila dilakukan tanpa urutan prioritas.
Misalnya, peneliti memperbaiki tanda baca ketika struktur Bab IV masih bermasalah. Ia memperbaiki format sitasi ketika hubungan antara teori dan temuan belum jelas.
Revisi semacam itu menghasilkan perubahan, tetapi belum tentu menghasilkan kemajuan substantif.
Solusi praktis: gunakan sistem revisi bertingkat
Lakukan revisi dalam urutan berikut:
Level 1 โ Struktur
Apakah urutan bab dan subbab sudah logis?
Level 2 โ Argumentasi
Apakah setiap bagian mendukung pertanyaan penelitian?
Level 3 โ Substansi
Apakah teori, data, metode, dan temuan sudah memadai?
Level 4 โ Konsistensi
Apakah istilah, konsep, kategori, dan argumentasi digunakan secara konsisten?
Level 5 โ Bahasa dan teknis
Apakah kalimat, sitasi, tabel, gambar, dan format sudah sesuai?
Jangan menghabiskan banyak waktu pada level 5 jika level 1โ3 masih bermasalah.
Strategi ini juga dapat digunakan ketika menerima komentar dari promotor. Kelompokkan komentar berdasarkan jenisnya sehingga revisi dapat dilakukan secara sistematis, bukan satu komentar demi satu komentar secara acak.
7. Tidak Memiliki Sistem Kerja yang Realistis
Alasan terakhir berkaitan dengan pengelolaan proses. Banyak mahasiswa doktoral memiliki target abstrak seperti โharus segera menyelesaikan disertasiโ, tetapi tidak memiliki sistem kerja yang menerjemahkan target tersebut menjadi aktivitas konkret.
Target seperti โmenyelesaikan Bab IVโ terlalu besar.
Target tersebut perlu dipecah menjadi pekerjaan yang lebih spesifik:
- membuat struktur subbab;
- mengelompokkan data;
- memilih temuan utama;
- menulis analisis tema pertama;
- menyusun pembahasan;
- melakukan revisi.
Dengan demikian, kemajuan disertasi dapat diukur berdasarkan output yang benar-benar dihasilkan.
Solusi praktis: gunakan sistem kerja mingguan
Buat target mingguan yang konkret.
Contohnya:
Senin: menyusun struktur subbab.
Selasa: mengorganisasi data.
Rabu: menulis analisis.
Kamis: mengembangkan pembahasan.
Jumat: melakukan revisi.
Sabtu: mengevaluasi progres dan menentukan target berikutnya.
Selain itu, tetapkan satu blok waktu menulis yang relatif konsisten setiap hari. Durasi tidak harus panjang. Yang lebih penting adalah keberlanjutan.
Gunakan prinsip:
Jangan menunggu waktu luang untuk menulis disertasi. Jadwalkan waktu khusus untuk menulis.
Kemajuan kecil yang konsisten biasanya lebih efektif daripada sesi menulis panjang yang hanya dilakukan sesekali.
Dari โTidak Kunjung Selesaiโ Menjadi โSelesai Bertahapโ
Ketujuh alasan tersebut menunjukkan bahwa disertasi yang tidak kunjung selesai jarang disebabkan oleh satu faktor tunggal.
Ketidakjelasan argumentasi dapat menyebabkan peneliti terus membaca. Terlalu banyak membaca dapat menghambat penulisan. Perfeksionisme dapat memperlambat produksi draf. Data yang terlalu banyak dapat menyulitkan analisis. Analisis yang belum matang dapat menyebabkan revisi berulang. Sementara itu, tidak adanya sistem kerja membuat seluruh persoalan tersebut semakin sulit dikendalikan.
Karena itu, penyelesaian disertasi perlu dipandang sebagai proses pengelolaan argumentasi sekaligus pengelolaan pekerjaan akademik.
Daripada bertanya:
โKapan disertasi saya selesai?โ
lebih produktif untuk bertanya:
โBagian konkret apa yang dapat saya selesaikan hari ini?โ
Pertanyaan kedua mengubah disertasi dari proyek besar yang terasa abstrak menjadi serangkaian pekerjaan yang dapat diselesaikan satu demi satu.
Checklist Praktis Penyelesaian Disertasi
Untuk mengetahui posisi Anda, gunakan checklist berikut:
- Rumusan masalah sudah jelas.
- Pertanyaan penelitian menjadi pusat argumentasi.
- Research gap sudah teridentifikasi.
- Novelty dapat dijelaskan dalam beberapa kalimat.
- Struktur setiap bab sudah jelas.
- Literatur sudah disintesis, bukan hanya dirangkum.
- Data sudah dikelompokkan berdasarkan pertanyaan penelitian.
- Temuan utama sudah dapat dirumuskan.
- Hasil penelitian sudah dibedakan dari pembahasan.
- Setiap temuan sudah dikaitkan dengan teori atau penelitian terdahulu.
- Revisi dilakukan berdasarkan prioritas.
- Terdapat target penulisan mingguan yang terukur.
Jika sebagian besar poin tersebut belum terpenuhi, hambatan penyelesaian disertasi kemungkinan bukan sekadar masalah โkurang rajin menulisโ. Ada persoalan struktural dalam proses penulisan yang perlu diselesaikan terlebih dahulu.
Penutup
Disertasi tidak kunjung selesai bukan selalu karena penelitian terlalu sulit. Dalam banyak kasus, hambatannya terletak pada proses mengubah penelitian menjadi naskah akademik yang terstruktur, argumentatif, dan koheren.
Tujuh persoalan utama yang perlu diperhatikan adalah:
- Rumusan masalah dan arah argumentasi belum jelas.
- Terlalu banyak membaca tetapi terlambat menulis.
- Perfeksionisme menghambat penyelesaian draf.
- Data banyak tetapi belum diubah menjadi argumentasi.
- Deskripsi, analisis, dan pembahasan belum dibedakan secara tegas.
- Revisi dilakukan berulang tanpa prioritas.
- Belum memiliki sistem kerja yang realistis dan terukur.
Masing-masing persoalan dapat diatasi melalui langkah yang konkret: membuat peta argumentasi, mengubah bacaan menjadi sintesis, memisahkan drafting dan editing, membuat matriks data, menggunakan pola temuanโpenjelasanโperbandinganโimplikasi, melakukan revisi bertingkat, serta membangun sistem kerja mingguan.
Pada akhirnya, disertasi tidak selesai karena ditulis sekaligus, tetapi karena diselesaikan bagian demi bagian secara konsisten.
Yang terpenting bukan menunggu sampai semua kondisi sempurna, melainkan menciptakan sistem yang memungkinkan satu bagian diselesaikan hari ini, bagian berikutnya besok, dan keseluruhan argumentasi akhirnya terbentuk menjadi sebuah disertasi yang utuh.


