Kapan Sebuah Konsep Perlu Dijadikan Landasan Teoretis?

Dalam penyusunan disertasi, mahasiswa sering menemukan banyak istilah yang tampaknya penting untuk dimasukkan ke dalam Bab II. Ada konsep yang berasal dari teori, konsep yang digunakan dalam penelitian terdahulu, konsep yang muncul dalam kebijakan, bahkan istilah yang sering digunakan dalam praktik.

Persoalannya kemudian menjadi:

Apakah semua konsep tersebut harus dijadikan landasan teoretis?

Jawabannya adalah tidak.

Sebuah konsep perlu mendapatkan posisi dalam landasan teoretis apabila konsep tersebut memiliki fungsi analitis yang penting dalam menjawab research question dan membangun argumentasi penelitian.

Jika setiap konsep dimasukkan tanpa seleksi, Bab II dapat berubah menjadi kumpulan definisi. Disertasi menjadi panjang, tetapi hubungan antara konsep, teori, data, dan analisis justru semakin sulit dilihat.

Karena itu, mahasiswa S3 perlu memahami kapan sebuah konsep cukup didefinisikan, kapan perlu ditempatkan dalam kerangka konseptual, dan kapan perlu memperoleh landasan teoretis yang lebih kuat.

1. Apa yang Dimaksud dengan Konsep?

Konsep adalah gagasan atau konstruksi pemikiran yang digunakan untuk memahami, mengidentifikasi, mengklasifikasikan, atau menjelaskan suatu fenomena.

Contohnya antara lain:

  • partisipasi;
  • kepercayaan;
  • kekuasaan;
  • inklusi;
  • keberlanjutan;
  • inovasi;
  • keadilan;
  • kolaborasi;
  • ketahanan;
  • dan tata kelola.

Konsep membantu peneliti menentukan apa yang sebenarnya sedang dibicarakan.

Namun konsep tidak selalu sama dengan teori.

Teori merupakan struktur penjelasan yang menghubungkan konsep-konsep tertentu untuk menjelaskan fenomena.

Dengan demikian:

Konsep = gagasan analitis

Teori = sistem penjelasan yang menghubungkan konsep

Perbedaan ini penting agar mahasiswa tidak menganggap setiap konsep sebagai teori.

2. Tidak Semua Konsep Membutuhkan Pembahasan Teoretis yang Panjang

Sebuah konsep tidak harus memperoleh beberapa halaman pembahasan hanya karena istilah tersebut muncul dalam penelitian.

Misalnya penelitian menggunakan istilah stakeholder hanya untuk menjelaskan kelompok yang terlibat dalam objek penelitian.

Peneliti mungkin cukup memberikan definisi operasional atau batasan penggunaan istilah tersebut.

Sebaliknya, jika penelitian menjadikan stakeholder engagement sebagai bagian penting dari research question dan kerangka analisis, konsep tersebut membutuhkan pembahasan yang lebih mendalam.

Artinya, kedalaman pembahasan konsep harus sebanding dengan fungsi konsep dalam penelitian.

3. Kapan Konsep Perlu Dijadikan Landasan Teoretis?

Ada beberapa kondisi yang menunjukkan bahwa sebuah konsep perlu mendapatkan dasar teoretis yang kuat.

Pertama, konsep menjadi bagian dari research question

Jika konsep secara langsung berada dalam pertanyaan penelitian, konsep tersebut biasanya tidak cukup hanya didefinisikan secara kamus.

Peneliti perlu menjelaskan bagaimana konsep tersebut dipahami secara akademik.

Misalnya:

Bagaimana partisipasi masyarakat memengaruhi proses pengambilan keputusan?

Konsep partisipasi memiliki posisi sentral sehingga perlu dibangun berdasarkan literatur dan perspektif teoretis yang relevan.

Kedua, konsep menjadi konstruk utama penelitian

Dalam penelitian kuantitatif, konstruk yang menjadi bagian dari model penelitian membutuhkan dasar konseptual dan teoritis.

Peneliti perlu menjelaskan:

  • apa definisi konstruk tersebut;
  • dimensinya;
  • bagaimana konstruk berhubungan dengan konstruk lain;
  • dan mengapa hubungan tersebut secara teoritis masuk akal.

Ketiga, konsep digunakan sebagai kategori analisis

Dalam penelitian kualitatif, konsep dapat menjadi lensa untuk membaca data.

Misalnya peneliti menggunakan konsep power sharing untuk menganalisis proses pengambilan keputusan.

Dalam kondisi ini, peneliti perlu menjelaskan asal-usul konseptualnya, definisinya, dimensinya, serta bagaimana konsep tersebut digunakan untuk membaca data empiris.

Keempat, konsep memiliki banyak definisi yang berbeda

Beberapa konsep bersifat contested concepts.

Partisipasi, keadilan, governance, empowerment, sustainability, dan resilience, misalnya, dapat memiliki pengertian yang berbeda dalam berbagai literatur.

Jika perbedaan definisi tersebut memengaruhi hasil analisis, peneliti harus menunjukkan posisi konseptualnya.

4. Konsep dalam Judul Tidak Otomatis Menjadi Teori

Salah satu kesalahan umum adalah menganggap semua kata penting dalam judul harus menjadi teori.

Misalnya judul:

โ€œPengaruh Kepemimpinan Transformasional terhadap Inovasi Organisasi melalui Knowledge Sharing.โ€

Kata โ€œkepemimpinan transformasionalโ€, โ€œinovasi organisasiโ€, dan โ€œknowledge sharingโ€ memang penting.

Namun ketiganya bukan berarti harus diperlakukan sebagai tiga teori.

Masing-masing merupakan konstruk atau konsep yang perlu memiliki definisi dan dasar teoritis.

Teori yang digunakan justru harus menjelaskan hubungan di antara konstruk tersebut.

Jadi, struktur logisnya dapat berupa:

Teori โ†’ konsep/konstruk โ†’ hubungan โ†’ model penelitian

bukan:

Konsep A = teori A

Konsep B = teori B

Konsep C = teori C

5. Bedakan Definisi Konseptual dan Landasan Teoretis

Ini merupakan perbedaan penting dalam penulisan disertasi.

Definisi konseptual menjelaskan apa yang dimaksud dengan suatu konsep.

Landasan teoretis menjelaskan bagaimana konsep tersebut ditempatkan dalam suatu sistem pemikiran yang dapat digunakan untuk memahami atau menjelaskan fenomena.

Misalnya, peneliti mendefinisikan partisipasi sebagai keterlibatan masyarakat dalam proses tertentu.

Itu baru definisi.

Peneliti kemudian perlu menjelaskan:

  • bentuk partisipasi;
  • tingkat partisipasi;
  • hubungan partisipasi dengan kekuasaan;
  • kondisi yang memungkinkan partisipasi bermakna;
  • dan implikasinya terhadap proses pengambilan keputusan.

Pada tahap tersebut, konsep mulai memperoleh fungsi teoretis.

6. Kapan Konsep Cukup Menjadi Definisi Operasional?

Tidak semua konsep harus menjadi bagian utama kerangka teoretis.

Jika suatu istilah hanya diperlukan untuk memperjelas batas penelitian, istilah tersebut dapat ditempatkan sebagai definisi operasional atau batasan konseptual.

Misalnya penelitian menggunakan istilah:

  • responden;
  • organisasi;
  • wilayah penelitian;
  • sektor tertentu;
  • periode penelitian.

Istilah tersebut penting untuk penelitian, tetapi tidak otomatis membutuhkan pembahasan teoritis.

Pertanyaan sederhananya adalah:

Apakah konsep ini membantu menjelaskan fenomena atau hanya membantu membatasi objek penelitian?

Jika hanya berfungsi sebagai batasan, pembahasan teoretis yang panjang mungkin tidak diperlukan.

7. Jangan Menjadikan Semua Konsep sebagai Subbab Besar

Kesalahan yang sering terjadi dalam Bab II adalah setiap konsep dibuat menjadi subbab tersendiri:

2.1 Konsep A

2.2 Konsep B

2.3 Konsep C

2.4 Konsep D

2.5 Konsep E

Jika tidak ada hubungan argumentatif di antara konsep-konsep tersebut, Bab II akan terasa seperti ensiklopedia.

Struktur yang lebih baik adalah mengelompokkan konsep berdasarkan fungsi dalam argumentasi.

Misalnya:

2.1 Teori Utama

Menjelaskan fondasi penelitian.

2.2 Konsep Inti

Menjelaskan konsep-konsep yang berasal dari teori utama.

2.3 Konsep Pendukung

Menjelaskan aspek tertentu yang diperlukan untuk penelitian.

2.4 Sintesis Teoretis

Menunjukkan hubungan antarkonsep.

Dengan demikian, Bab II bergerak dari definisi โ†’ hubungan โ†’ argumentasi, bukan sekadar definisi demi definisi.

8. Gunakan Prinsip โ€œAnalytical Necessityโ€

Salah satu cara terbaik untuk menentukan apakah sebuah konsep perlu dijadikan landasan teoretis adalah menggunakan prinsip:

Apakah konsep ini secara analitis diperlukan?

Sebuah konsep dapat dianggap penting apabila tanpa konsep tersebut peneliti akan kesulitan:

  • menjawab research question;
  • menjelaskan fenomena;
  • menginterpretasikan data;
  • membangun kerangka konseptual;
  • mengembangkan indikator;
  • atau menghasilkan kontribusi penelitian.

Jika konsep tersebut tidak memiliki fungsi dalam proses tersebut, peneliti perlu mempertimbangkan apakah konsep itu memang perlu dimasukkan.

9. Perhatikan Hubungan Konsep dengan Research Question

Research question merupakan alat seleksi yang sangat efektif.

Misalnya:

Bagaimana proses kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat sipil terbentuk?

Maka konsep seperti collaboration, interaction, trust, power, dan deliberation mungkin relevan.

Tetapi peneliti tidak perlu memasukkan semua konsep yang pernah dibahas dalam literatur governance.

Konsep dipilih berdasarkan kebutuhan menjawab pertanyaan penelitian.

Dengan demikian, research question menjadi semacam filter konseptual.

10. Konsep Harus Memiliki Jejak dalam Analisis

Tes berikutnya adalah:

Di mana konsep ini digunakan dalam analisis?

Jika konsep dibahas panjang di Bab II tetapi tidak pernah muncul kembali dalam analisis, terdapat kemungkinan bahwa konsep tersebut sebenarnya tidak diperlukan.

Konsep yang penting seharusnya memiliki alur:

Konsep โ†’ definisi โ†’ dimensi โ†’ kategori analisis โ†’ data โ†’ interpretasi โ†’ temuan.

Dalam penelitian kuantitatif, alurnya dapat menjadi:

Konsep โ†’ konstruk โ†’ indikator โ†’ pengukuran โ†’ pengujian โ†’ temuan.

Dengan demikian, konsep memiliki fungsi nyata dalam keseluruhan desain penelitian.

11. Jangan Menggunakan Definisi dari Banyak Sumber Tanpa Sintesis

Kesalahan lain adalah menulis:

Menurut A, konsep X adalah…

Menurut B, konsep X adalah…

Menurut C, konsep X adalah…

Menurut D, konsep X adalah…

Kemudian pembahasan berhenti.

Masalahnya bukan jumlah referensi, tetapi tidak adanya sintesis konseptual.

Setelah membahas beberapa definisi, peneliti perlu menyatakan:

Berdasarkan berbagai perspektif tersebut, penelitian ini menggunakan konsep X dalam pengertian…

Inilah posisi akademik peneliti.

Peneliti tidak sekadar mengumpulkan definisi, tetapi menentukan konsepsi yang digunakan dalam penelitian.

12. Buat Matriks untuk Menyeleksi Konsep

Mahasiswa dapat membuat matriks sederhana:

KonsepAda dalam RQ?Penting dalam Analisis?Memiliki Dasar Teoretis?Posisi
Konsep AYaYaYaKonsep inti
Konsep BYaYaYaKonsep inti
Konsep CTidakYaYaPendukung
Konsep DTidakTidakYaPertimbangkan dihapus
Konsep ETidakTidakTidakTidak diperlukan

Matriks ini membantu mengurangi kecenderungan memasukkan konsep secara berlebihan.

13. Konsep yang Kuat Dapat Menjadi Bagian dari Kontribusi Disertasi

Pada tingkat doktoral, konsep tidak hanya digunakan sebagai alat membaca penelitian terdahulu.

Peneliti dapat menemukan bahwa konsep yang ada belum cukup menjelaskan fenomena dalam konteks tertentu.

Dari situ dapat muncul:

  • modifikasi konsep;
  • pengembangan dimensi;
  • integrasi beberapa konsep;
  • konseptualisasi baru;
  • atau model konseptual baru.

Namun proses tersebut harus dibangun dari analisis empiris dan argumentasi teoritis, bukan sekadar mengganti nama konsep lama.

Kesimpulan

Tidak semua konsep dalam disertasi harus dijadikan landasan teoretis.

Konsep perlu memperoleh posisi teoritis yang kuat apabila konsep tersebut menjadi bagian penting dari research question, konstruk utama, kategori analisis, mekanisme penjelasan, atau kontribusi teoritis penelitian.

Sebaliknya, konsep yang hanya berfungsi sebagai batasan objek atau istilah teknis tidak selalu membutuhkan pembahasan teoritis yang panjang.

Karena itu, mahasiswa S3 perlu membangun hierarki yang jelas:

Paradigma โ†’ teori โ†’ konsep โ†’ kerangka konseptual โ†’ analisis โ†’ kontribusi.

Pertanyaan utama bukan:

โ€œKonsep apa saja yang harus saya masukkan ke Bab II?โ€

melainkan:

โ€œKonsep mana yang benar-benar saya perlukan untuk menjelaskan dan menganalisis persoalan penelitian?โ€

Dengan prinsip tersebut, Bab II dapat menjadi lebih ringkas tetapi justru lebih kuat. Setiap konsep memiliki alasan keberadaan, fungsi analitis, dan hubungan yang jelas dengan keseluruhan argumentasi disertasi.

Konsultasi Disertasi di Mitragama

Dalam proses penyusunan disertasi, mahasiswa sering memiliki banyak konsep tetapi belum mengetahui mana yang harus menjadi landasan teoretis, mana yang cukup menjadi definisi konseptual, dan mana yang sebaiknya dikeluarkan dari penelitian.

Mitragama membantu mahasiswa S3 menata arsitektur konseptual penelitian secara sistematis, mulai dari research problem, research question, teori utama, teori pendukung, konsep inti, definisi konseptual, kerangka konseptual, hingga hubungan konsep dengan analisis dan kontribusi disertasi.

Pendampingan diarahkan agar Bab II tidak menjadi kumpulan definisi, tetapi menjadi fondasi argumentasi ilmiah yang tajam, koheren, dan siap dipertanggungjawabkan.

error: Content is protected !!