Cara Menentukan Batasan Penelitian agar Disertasi Tidak Terlalu Luas
Salah satu persoalan yang sering dihadapi mahasiswa S3 adalah disertasi yang terlalu luas. Topiknya menarik, fenomenanya kompleks, dan peneliti ingin membahas sebanyak mungkin aspek agar penelitian dianggap komprehensif. Akibatnya, judul menjadi panjang, rumusan masalah bertambah banyak, variabel semakin banyak, lokasi penelitian melebar, dan data yang harus dikumpulkan semakin sulit dikendalikan.
Pada tahap awal, penelitian yang luas mungkin terlihat ambisius. Namun, dalam praktiknya, keluasan yang tidak terkendali dapat membuat analisis kehilangan kedalaman. Mahasiswa akhirnya memiliki banyak data tetapi kesulitan menentukan mana yang benar-benar penting untuk menjawab pertanyaan penelitian.
Karena itu, menentukan batasan penelitian bukan berarti mempersempit kualitas disertasi. Sebaliknya, batasan penelitian merupakan strategi untuk mencapai kedalaman ilmiah.
Apa yang Dimaksud dengan Batasan Penelitian?
Batasan penelitian adalah ruang lingkup yang secara sengaja ditetapkan peneliti agar penelitian memiliki fokus yang jelas dan dapat dilaksanakan secara realistis.
Batasan dapat mencakup objek penelitian, subjek atau unit analisis, lokasi, periode, konsep, variabel, aspek fenomena, teori, hingga jenis data yang digunakan.
Misalnya, penelitian tentang transformasi energi dapat mencakup aspek teknologi, ekonomi, sosial, politik, kelembagaan, lingkungan, pembiayaan, ketenagakerjaan, dan tata ruang. Jika seluruh aspek tersebut diteliti sekaligus, penelitian akan menjadi sangat luas.
Peneliti perlu menentukan: aspek mana yang benar-benar diperlukan untuk menjawab masalah penelitian?
Di sinilah fungsi batasan penelitian menjadi penting.
Mengapa Disertasi Sering Menjadi Terlalu Luas?
Ada beberapa penyebab utama.
Pertama, mahasiswa ingin memasukkan semua hal yang dianggap penting. Karena fenomena sosial memang kompleks, peneliti merasa tidak nyaman jika harus menghilangkan aspek tertentu.
Kedua, mahasiswa belum membedakan antara konteks penelitian dan fokus analisis. Tidak semua hal yang memengaruhi fenomena harus menjadi objek analisis utama.
Ketiga, rumusan masalah terlalu banyak. Setiap pertanyaan penelitian biasanya membutuhkan data, metode, dan analisis tersendiri. Semakin banyak pertanyaan, semakin besar pula ruang penelitian.
Keempat, konsep penelitian belum dipilih secara selektif. Mahasiswa menggunakan banyak konsep sekaligus tanpa menjelaskan fungsi masing-masing.
Kelima, keinginan menghasilkan disertasi yang terlihat โlengkapโ justru membuat penelitian kehilangan fokus.
Padahal, disertasi yang baik bukan penelitian yang membahas segala sesuatu, melainkan penelitian yang menjelaskan sesuatu secara mendalam dan meyakinkan.
1. Mulai dari Masalah Penelitian
Batasan penelitian seharusnya tidak dibuat secara sembarangan. Titik awalnya adalah masalah penelitian.
Tanyakan:
Apa persoalan utama yang sebenarnya ingin saya jelaskan?
Jika masalah utama berkaitan dengan mekanisme pengambilan keputusan, misalnya, peneliti tidak harus menganalisis seluruh aspek kinerja organisasi.
Hubungan logisnya dapat dibuat sebagai berikut:
Masalah penelitian โ pertanyaan penelitian โ fokus analisis โ batasan penelitian.
Semakin jelas masalah penelitian, semakin mudah menentukan apa yang harus masuk dan apa yang harus dikeluarkan.
2. Bedakan Fenomena dengan Fokus Penelitian
Fenomena penelitian biasanya lebih luas daripada fokus penelitian.
Misalnya, fenomenanya adalah transisi energi. Fenomena tersebut dapat melibatkan perubahan teknologi, investasi, kebijakan, ketenagakerjaan, masyarakat, lingkungan, tata ruang, dan keadilan sosial.
Namun, peneliti mungkin hanya berfokus pada tata kelola kemitraan partisipatif dalam proses transisi energi.
Dengan demikian, aspek teknologi dan pembiayaan dapat tetap muncul sebagai konteks, tetapi tidak semuanya harus dianalisis sebagai variabel atau fokus utama.
Pembedaan ini membantu menghindari kesalahan ketika mahasiswa merasa harus menjelaskan seluruh fenomena secara lengkap.
3. Tentukan Unit Analisis
Salah satu cara paling efektif mempersempit penelitian adalah menentukan unit analisis.
Unit analisis dapat berupa individu, kelompok, organisasi, kebijakan, program, wilayah, institusi, komunitas, atau proses tertentu.
Contohnya, penelitian tentang kebijakan publik dapat dianalisis pada tingkat:
- individu pembuat kebijakan;
- organisasi pemerintah;
- jaringan antarorganisasi;
- program kebijakan;
- komunitas penerima kebijakan; atau
- proses implementasi.
Pemilihan unit analisis akan menentukan jenis data yang dibutuhkan dan tingkat analisis yang digunakan.
Jika unit analisis tidak jelas, penelitian mudah berpindah-pindah dari individu ke organisasi, dari organisasi ke kebijakan, kemudian ke masyarakat tanpa hubungan analitis yang jelas.
4. Batasi Lokasi Penelitian
Kata โdi Indonesiaโ sering membuat ruang penelitian menjadi sangat luas.
Tidak semua penelitian harus mencakup seluruh Indonesia. Jika tujuan penelitian adalah memahami mekanisme tertentu, satu atau beberapa lokasi yang dipilih secara teoritis dapat memberikan kedalaman analisis yang lebih baik.
Pembatasan lokasi harus memiliki alasan akademik.
Misalnya, lokasi dipilih karena merupakan kasus penting, memiliki karakteristik tertentu, mengalami perubahan kebijakan, atau memberikan kondisi yang relevan untuk menjawab pertanyaan penelitian.
Dengan demikian, pemilihan lokasi bukan sekadar pertimbangan praktis, tetapi bagian dari argumentasi metodologis.
5. Batasi Periode Penelitian
Fenomena sosial dan kebijakan berubah dari waktu ke waktu. Karena itu, periode penelitian perlu ditentukan secara eksplisit.
Misalnya:
2019โ2024
lebih jelas daripada hanya mengatakan โperkembangan kebijakan beberapa tahun terakhirโ.
Periode tersebut sebaiknya berkaitan dengan perubahan penting dalam fenomena yang diteliti, seperti munculnya kebijakan baru, perubahan institusional, periode implementasi, atau fase tertentu dalam perkembangan suatu program.
Pembatasan waktu juga membantu peneliti menghindari pengumpulan data yang tidak relevan dengan pertanyaan penelitian.
6. Batasi Konsep dan Variabel
Semakin banyak konsep yang digunakan, semakin besar tuntutan teoritis penelitian.
Mahasiswa perlu membedakan konsep yang utama, pendukung, dan kontekstual.
Konsep utama harus mendapatkan perhatian terbesar dalam kerangka teori dan analisis. Konsep pendukung digunakan untuk membantu menjelaskan masalah. Sementara konsep kontekstual cukup digunakan untuk memahami latar penelitian apabila memang tidak menjadi fokus analisis.
Misalnya, penelitian tentang efektivitas kebijakan dapat melibatkan tata kelola, kepemimpinan, budaya organisasi, sumber daya, partisipasi, teknologi, dan komunikasi.
Tidak semuanya harus menjadi variabel penelitian.
Pertanyaan yang perlu diajukan adalah:
Apakah konsep ini diperlukan untuk menjawab pertanyaan penelitian?
Jika tidak, konsep tersebut mungkin cukup disebut sebagai konteks atau bahkan dikeluarkan dari penelitian.
7. Gunakan Prinsip โApa yang Tidak Ditelitiโ
Batasan penelitian menjadi lebih kuat ketika peneliti secara eksplisit menyatakan apa yang tidak menjadi fokus penelitian.
Misalnya:
Penelitian ini berfokus pada aspek kelembagaan dan proses pengambilan keputusan, sehingga tidak menganalisis aspek teknis teknologi secara mendalam.
Pernyataan tersebut bukan kelemahan. Justru, ia menunjukkan bahwa peneliti memahami ruang lingkup penelitiannya.
Peneliti tidak dituntut menjelaskan seluruh aspek sebuah fenomena. Peneliti dituntut menjelaskan mengapa aspek tertentu dipilih dan mengapa aspek lainnya berada di luar cakupan penelitian.
8. Pastikan Batasan Tidak Menghilangkan Kontribusi
Membatasi penelitian bukan berarti membuat penelitian menjadi terlalu kecil.
Batasan yang baik tetap harus menyisakan ruang untuk menjawab pertanyaan ilmiah yang penting.
Gunakan pertanyaan berikut:
Apakah setelah dibatasi penelitian masih memiliki research gap?
Apakah masih ada pertanyaan ilmiah yang signifikan?
Apakah penelitian masih memungkinkan menghasilkan kontribusi?
Jika jawabannya ya, pembatasan tersebut kemungkinan sehat.
Sebaliknya, jika penelitian menjadi terlalu sempit hingga hanya menghasilkan deskripsi sederhana, batasan perlu dievaluasi kembali.
9. Gunakan โUji Fokus Disertasiโ
Sebelum menetapkan batasan penelitian, mahasiswa dapat membuat tabel sederhana:
| Aspek | Pertanyaan |
|---|---|
| Fenomena | Apa yang sedang terjadi? |
| Masalah | Apa yang belum dijelaskan? |
| Unit analisis | Siapa atau apa yang dianalisis? |
| Lokasi | Di mana penelitian dilakukan? |
| Periode | Kapan fenomena dikaji? |
| Konsep utama | Konsep apa yang benar-benar diperlukan? |
| Data | Data apa yang dibutuhkan? |
| Kontribusi | Pengetahuan apa yang ingin ditambahkan? |
Jika semua bagian dapat dijelaskan secara konsisten, ruang lingkup penelitian biasanya sudah lebih terkendali.
Disertasi Tidak Harus Menjelaskan Semuanya
Salah satu perubahan cara berpikir yang penting dalam pendidikan doktoral adalah memahami bahwa kedalaman lebih penting daripada keluasan yang tidak terkendali.
Disertasi tidak harus menjelaskan seluruh persoalan dalam satu fenomena. Penelitian justru menjadi lebih kuat ketika peneliti mampu memilih satu persoalan penting, menetapkan batas yang rasional, kemudian menganalisisnya secara mendalam.
Batasan penelitian membantu mahasiswa menjaga konsistensi antara masalah, pertanyaan penelitian, teori, data, metode, analisis, dan kontribusi.
Dengan demikian, ketika dosen bertanya:
โMengapa aspek ini tidak Anda teliti?โ
jawabannya bukan sekadar:
โKarena terlalu luas.โ
Jawaban akademiknya harus lebih kuat:
โKarena penelitian difokuskan pada aspek yang paling relevan dengan masalah dan research gap yang telah ditetapkan, sementara aspek tersebut ditempatkan sebagai konteks penelitian.โ
Inilah tanda bahwa batasan penelitian telah dibangun berdasarkan logika ilmiah, bukan sekadar keterbatasan waktu.
Mitragama: Mitra Akademik & Pendamping Penelitian Anda
Menentukan batasan penelitian sering menjadi tantangan karena mahasiswa S3 berhadapan dengan fenomena yang kompleks dan berbagai masukan dari literatur maupun pembimbing. Akibatnya, fokus penelitian dapat terus melebar dari satu revisi ke revisi berikutnya.
Mitragama membantu mahasiswa S3 menata kembali hubungan antara masalah penelitian, research gap, fokus, batasan, pertanyaan penelitian, teori, metodologi, dan arah analisis, sehingga disertasi memiliki ruang lingkup yang realistis sekaligus tetap memiliki kedalaman dan kontribusi ilmiah.
Disertasi yang kuat bukan yang membahas semuanya. Disertasi yang kuat adalah yang tahu apa yang harus diteliti, apa yang tidak perlu diteliti, dan mengapa batas tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.


