Mengapa Semakin Lama Menulis Disertasi, Semakin Sulit Merasa Selesai?

Firdinan M. Fuad
Ada sebuah paradoks yang sering dialami mahasiswa S3: semakin lama menulis disertasi, semakin banyak bagian yang diketahui perlu diperbaiki. Pada awalnya, mahasiswa mungkin berpikir bahwa setelah membaca lebih banyak literatur, mengumpulkan data, dan menulis beberapa bab, disertasi akan terasa semakin dekat dengan selesai.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Semakin lama proses berlangsung, semakin banyak referensi baru ditemukan. Semakin banyak membaca, semakin banyak teori yang terasa relevan. Semakin sering berkonsultasi, semakin banyak revisi muncul. Bahkan ketika sebagian besar naskah sudah selesai ditulis, mahasiswa masih merasa ada sesuatu yang kurang.
Akhirnya muncul pertanyaan:
Mengapa semakin lama menulis disertasi, semakin sulit merasa selesai?
Persoalan ini tidak selalu berarti disertasi memang belum layak selesai. Bisa jadi mahasiswa telah memasuki situasi ketika standar untuk menilai apakah disertasi sudah cukup terus bergerak lebih cepat daripada kemajuan naskah itu sendiri.
Memahami mekanisme ini penting agar proses penyempurnaan tidak berubah menjadi penundaan tanpa akhir.
1. Semakin Banyak Membaca, Semakin Banyak yang Ingin Ditambahkan
Pada awal penelitian, literatur membantu mahasiswa memahami bidang kajian. Namun semakin lama membaca, semakin luas pula pengetahuan yang diperoleh.
Mahasiswa menemukan teori baru, konsep baru, penelitian terbaru, pendekatan metodologis alternatif, dan berbagai perdebatan akademik.
Semua tampak relevan.
Akibatnya, muncul keinginan untuk terus menambahkan literatur ke dalam disertasi. Bab yang sebenarnya sudah cukup kembali diperluas karena ditemukan artikel baru.
Masalahnya, disertasi bukan ensiklopedia seluruh pengetahuan tentang suatu bidang.
Literatur dipilih karena membantu menjawab pertanyaan penelitian dan membangun argumentasi. Jika sebuah referensi tidak mengubah pemahaman terhadap masalah, analisis, atau kontribusi penelitian, penambahannya belum tentu diperlukan.
Karena itu, semakin banyak membaca justru membutuhkan kemampuan yang semakin kuat untuk memilih dan membatasi.
2. Standar Akademik Berubah Seiring Bertambahnya Pengetahuan
Ketika baru mulai menulis, mahasiswa mungkin menganggap sebuah argumentasi sudah cukup kuat. Setelah membaca lebih banyak literatur, ia memahami bahwa persoalannya ternyata lebih kompleks.
Standar penilaiannya meningkat.
Hal ini sebenarnya merupakan bagian normal dari perkembangan akademik. Mahasiswa doktoral diharapkan mampu melihat persoalan secara semakin kritis.
Namun, ada konsekuensi yang perlu diperhatikan: pengetahuan yang meningkat dapat membuat standar internal menjadi semakin tinggi.
Sebuah tulisan yang dulu dianggap baik sekarang terlihat biasa saja. Sebuah analisis yang sebelumnya dianggap mendalam mulai terasa kurang tajam.
Jika standar terus dinaikkan tanpa kriteria batas, mahasiswa dapat terjebak dalam siklus:
menulis โ belajar lebih banyak โ merasa tulisan kurang โ merevisi โ belajar lagi โ merasa kurang lagi.
Siklus tersebut dapat berlangsung tanpa titik akhir yang jelas.
3. Disertasi Terus Berubah karena Revisi Memiliki Efek Domino
Disertasi merupakan sistem yang saling terhubung.
Ketika satu bagian diubah, bagian lain dapat ikut berubah.
Perubahan research question dapat memengaruhi teori. Perubahan teori dapat memengaruhi kategori analisis. Perubahan analisis dapat memengaruhi pembahasan. Perubahan pembahasan dapat memengaruhi kesimpulan.
Karena itu, satu revisi dapat menghasilkan beberapa pekerjaan baru.
Mahasiswa kemudian merasa:
โSetiap kali saya memperbaiki sesuatu, selalu ada hal lain yang harus diperbaiki.โ
Dalam kondisi seperti ini, penting membedakan antara revisi yang mengatasi masalah fundamental dan revisi yang hanya menyempurnakan detail.
Jika revisi tidak memiliki dampak signifikan terhadap argumentasi utama, mahasiswa perlu mempertimbangkan apakah revisi tersebut memang harus dilakukan sekarang.
4. Perasaan โBelum Selesaiโ Tidak Sama dengan โBelum Selesai Secara Akademikโ
Ini merupakan perbedaan yang sangat penting.
Perasaan bahwa disertasi belum cukup dapat muncul meskipun kriteria akademiknya sebenarnya sudah terpenuhi.
Mahasiswa membaca kembali naskah dan menemukan kalimat yang bisa diperbaiki. Kemudian menemukan satu referensi yang belum dimasukkan. Setelah itu melihat kemungkinan memperkuat satu argumen.
Semua itu benar.
Tetapi fakta bahwa sesuatu masih bisa diperbaiki tidak berarti sesuatu tersebut belum layak dianggap selesai.
Hampir semua karya akademik masih dapat disempurnakan.
Karena itu, status โselesaiโ harus ditentukan berdasarkan kriteria yang jelas, bukan berdasarkan hilangnya seluruh rasa tidak puas terhadap naskah.
5. Terlalu Lama Berada di Dalam Naskah Mengurangi Kemampuan Melihatnya Secara Proporsional
Ketika mahasiswa membaca naskah yang sama selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun, perhatian dapat bergeser dari persoalan besar ke detail kecil.
Kesalahan kecil terlihat sangat menonjol. Satu kalimat yang terasa kurang baik dapat mengganggu perhatian meskipun struktur keseluruhan sudah kuat.
Mahasiswa akhirnya menghabiskan waktu berjam-jam memperbaiki detail yang dampaknya terhadap kualitas akademik sangat kecil.
Pada tahap tertentu, diperlukan jarak evaluatif.
Tanyakan kembali dari perspektif pembaca:
- Apa masalah utama penelitian?
- Apa pertanyaan yang dijawab?
- Apa temuan utama?
- Apa kontribusinya?
- Apakah pembaca dapat mengikuti argumentasinya?
Pertanyaan tersebut lebih penting daripada apakah setiap kalimat sudah terasa sempurna.
6. Menambah Halaman Sering Disalahartikan sebagai Menambah Kualitas
Ketika merasa disertasi belum cukup, respons yang paling mudah adalah menambahkan sesuatu.
Tambah teori.
Tambah referensi.
Tambah data.
Tambah pembahasan.
Tambah tabel.
Akhirnya jumlah halaman bertambah, tetapi argumentasi belum tentu menjadi lebih kuat.
Padahal, kualitas disertasi lebih berkaitan dengan ketajaman hubungan antara masalah, pertanyaan penelitian, teori, data, analisis, temuan, dan kontribusi daripada sekadar jumlah halaman.
Kadang-kadang cara terbaik memperkuat disertasi adalah mengurangi.
Hapus repetisi. Gabungkan argumentasi yang tumpang tindih. Buang teori yang tidak digunakan. Ringkas penjelasan yang terlalu panjang.
Disertasi yang semakin matang tidak selalu menjadi semakin panjang. Ia dapat menjadi lebih selektif dan lebih tajam.
7. Tidak Ada Definisi Operasional tentang โSelesaiโ
Mahasiswa sering memiliki target seperti โdisertasi harus sudah bagusโ.
Masalahnya, โbagusโ merupakan istilah yang terlalu abstrak.
Buat definisi yang lebih operasional.
Misalnya, sebuah bab dianggap siap untuk tahap berikutnya ketika:
- fungsi bab sudah jelas;
- research question terkait sudah terjawab;
- argumentasi utama dapat diidentifikasi;
- bukti yang diperlukan telah tersedia;
- teori digunakan secara relevan;
- tidak terdapat masalah logis atau metodologis yang fundamental;
- komentar utama dari pembimbing telah ditindaklanjuti.
Kriteria seperti ini memberikan garis akhir yang dapat diamati.
Tanpa kriteria, mahasiswa akan terus menilai berdasarkan perasaan.
8. Revisi yang Tidak Memiliki Prioritas Membuat Disertasi Tidak Pernah Benar-Benar Bergerak
Tidak semua masalah harus diselesaikan sekaligus.
Gunakan tiga tingkat prioritas:
Prioritas 1 โ Fundamental:
Masalah yang memengaruhi research question, teori, metode, analisis, atau kontribusi.
Prioritas 2 โ Penting:
Masalah struktur, konsistensi, integrasi antarbab, dan kualitas argumentasi.
Prioritas 3 โ Penyempurnaan:
Bahasa, gaya, pilihan kata, format, dan detail teknis.
Jika semua masalah diperlakukan sebagai prioritas pertama, proses revisi akan terasa tidak pernah selesai.
Karena itu, mahasiswa perlu belajar bahwa menunda penyempurnaan kecil bukan berarti mengabaikannya. Itu berarti menempatkannya pada waktu yang tepat.
9. Semakin Dekat Selesai, Keputusan Menjadi Semakin Penting
Menariknya, fase akhir disertasi bukan hanya persoalan menulis. Ia juga merupakan fase pengambilan keputusan.
Mahasiswa harus memutuskan:
- teori mana yang dipertahankan;
- data mana yang relevan;
- argumentasi mana yang menjadi pusat;
- bagian mana yang perlu dihapus;
- revisi mana yang cukup;
- kapan naskah siap masuk tahap berikutnya.
Kesulitan mengambil keputusan dapat membuat mahasiswa terus membuka kembali bagian yang sebenarnya sudah cukup.
Padahal, penyelesaian disertasi membutuhkan kemampuan untuk mengatakan:
โUntuk tujuan penelitian ini, bagian ini sudah memadai.โ
Itulah yang disebut sebagai academic closureโkemampuan menetapkan batas yang rasional terhadap proses penyempurnaan akademik.
Bagaimana Menentukan Bahwa Disertasi Sudah Cukup?
Gunakan lima pertanyaan sederhana:
Pertama, apakah pertanyaan penelitian telah dijawab?
Kedua, apakah setiap klaim utama memiliki dasar bukti atau argumentasi yang memadai?
Ketiga, apakah teori digunakan untuk menganalisis, bukan sekadar disebut?
Keempat, apakah temuan, pembahasan, dan kesimpulan saling konsisten?
Kelima, apakah kontribusi penelitian dapat dijelaskan secara jelas?
Jika kelima pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan baik, maka pertanyaan berikutnya bukan lagi โApa lagi yang bisa ditambahkan?โ, melainkan:
โPerbaikan apa yang benar-benar masih diperlukan agar disertasi memenuhi standar akademik?โ
Perubahan cara bertanya tersebut sangat penting.
Selesai Bukan Berarti Tidak Ada Lagi yang Bisa Diperbaiki
Tidak ada disertasi yang benar-benar kebal terhadap kritik. Bahkan karya akademik yang telah diterbitkan pun masih dapat diperdebatkan, dikembangkan, atau diteliti lebih lanjut.
Karena itu, menunggu sampai tidak ada lagi sesuatu yang dapat diperbaiki adalah strategi yang hampir tidak mungkin berhasil.
Disertasi selesai ketika tujuan akademiknya telah terpenuhi dalam batas penelitian yang telah ditetapkan.
Bukan ketika seluruh literatur telah dibaca.
Bukan ketika semua kemungkinan teori telah dimasukkan.
Bukan ketika setiap kalimat terasa sempurna.
Dan bukan ketika tidak ada lagi orang yang mungkin memberikan kritik.
Semakin lama menulis disertasi, semakin sulit merasa selesai karena pengetahuan, standar, referensi, dan kemungkinan revisi terus berkembang. Tantangannya bukan menghentikan proses belajar, melainkan menentukan kapan proses belajar tersebut sudah cukup untuk menghasilkan sebuah karya ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Jika disertasi Anda terus direvisi tetapi tidak kunjung terasa selesai, mungkin yang dibutuhkan bukan tambahan waktu semata, melainkan kriteria penyelesaian, prioritas revisi, dan batas kerja yang jelas.
Mitragama.com membantu mahasiswa S3 memetakan masalah disertasi, memperkuat argumentasi, mengelola revisi, dan menyusun strategi penyelesaian secara lebih sistematis.


