Cara Menemukan Masalah Penelitian yang Layak Menjadi Disertasi
Menemukan masalah penelitian merupakan salah satu tahap paling menentukan dalam penyusunan disertasi. Banyak mahasiswa S3 sebenarnya telah memiliki topik yang menarik, pengalaman profesional yang panjang, bahkan penguasaan terhadap bidang tertentu. Namun, ketika harus menjawab pertanyaan “Apa masalah penelitian yang akan diteliti?”, mereka justru mengalami kebingungan.
Masalah penelitian tidak sama dengan topik penelitian. Topik menunjukkan wilayah kajian, sedangkan masalah penelitian menunjukkan persoalan ilmiah yang membutuhkan penjelasan. Perbedaan ini sangat penting karena disertasi tidak dibangun hanya dari topik yang menarik, tetapi dari masalah yang memiliki relevansi ilmiah, research gap, dasar teoritis, serta kemungkinan untuk diteliti secara empiris.
Lalu, bagaimana cara menemukan masalah penelitian yang layak menjadi disertasi?
1. Mulai dari Fenomena, Bukan Langsung dari Judul
Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah mahasiswa langsung mencari judul disertasi. Mereka mencoba menggabungkan berbagai kata akademik seperti “strategi”, “model”, “pengaruh”, “transformasi”, “efektivitas”, atau “tata kelola” hingga menghasilkan judul yang terdengar ilmiah.
Padahal, proses yang lebih kuat dimulai dari fenomena.
Fenomena dapat berasal dari perubahan sosial, persoalan kebijakan, perkembangan teknologi, perubahan organisasi, konflik kepentingan, ketimpangan, perubahan perilaku, atau persoalan lain yang menarik perhatian peneliti.
Contohnya, seorang peneliti melihat bahwa digitalisasi pelayanan publik berkembang cepat, tetapi kualitas pelayanan di berbagai daerah tidak menunjukkan perubahan yang sama. Fenomena tersebut belum menjadi masalah penelitian. Ia baru menjadi titik awal untuk bertanya:
Mengapa digitalisasi menghasilkan dampak yang berbeda?
Pertanyaan tersebut membuka ruang untuk menemukan persoalan ilmiah yang lebih spesifik.
2. Bedakan Masalah Praktis dan Masalah Ilmiah
Tidak semua persoalan yang terjadi di lapangan otomatis menjadi masalah penelitian disertasi.
Masalah praktis biasanya berkaitan dengan sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Misalnya, produktivitas organisasi menurun, pelayanan publik lambat, program pemerintah tidak mencapai target, atau teknologi baru tidak digunakan secara optimal.
Masalah ilmiah berada satu tingkat lebih dalam. Peneliti tidak hanya bertanya “Apa yang salah?”, tetapi juga “Mengapa hal tersebut terjadi, bagaimana prosesnya berlangsung, faktor apa yang menjelaskannya, dan apakah teori yang tersedia mampu menerangkannya?”
Perbedaan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
Masalah praktis → terdapat persoalan di lapangan.
Masalah ilmiah → terdapat sesuatu yang belum cukup dijelaskan oleh pengetahuan yang tersedia.
Disertasi terutama membutuhkan masalah pada tingkat kedua.
3. Cari Ketidaksesuaian antara Teori dan Realitas
Salah satu cara efektif menemukan masalah penelitian adalah membandingkan apa yang seharusnya terjadi menurut teori dengan apa yang terjadi dalam kenyataan.
Misalnya, teori tertentu menjelaskan bahwa peningkatan partisipasi pemangku kepentingan dapat memperkuat kualitas pengambilan keputusan. Namun, dalam suatu konteks, partisipasi justru tidak menghasilkan perubahan substantif terhadap keputusan.
Kondisi tersebut dapat menghasilkan pertanyaan ilmiah:
- Mengapa partisipasi tidak menghasilkan pengaruh sebagaimana diprediksi teori?
- Apakah terdapat faktor kelembagaan yang menghambat?
- Apakah distribusi kekuasaan memengaruhi proses partisipasi?
- Apakah teori tersebut membutuhkan penyesuaian ketika diterapkan pada konteks tertentu?
Di sinilah masalah penelitian mulai memiliki kedalaman doktoral.
4. Telusuri Research Gap dari Literatur
Masalah penelitian yang kuat hampir selalu memiliki hubungan dengan literatur sebelumnya. Karena itu, membaca artikel ilmiah tidak cukup hanya untuk mengumpulkan kutipan.
Mahasiswa perlu membaca secara kritis.
Ketika membaca penelitian terdahulu, perhatikan:
- Apa yang sudah diketahui?
- Apa yang belum diketahui?
- Apa yang masih diperdebatkan?
- Temuan apa yang tidak konsisten?
- Teori apa yang terlalu sering digunakan?
- Konteks apa yang belum banyak dikaji?
- Metode apa yang memiliki keterbatasan?
- Pertanyaan apa yang terus muncul tetapi belum terjawab?
Dari pertanyaan tersebut, peneliti dapat membangun research gap.
Namun, research gap tidak seharusnya dibuat secara artifisial hanya dengan mengatakan bahwa “belum ada penelitian yang membahas X di Indonesia.”
Ketiadaan penelitian memang dapat menjadi alasan penelitian, tetapi pada level doktoral perlu dijelaskan mengapa kekosongan tersebut penting secara ilmiah.
5. Cari Kontradiksi dalam Temuan Penelitian
Kontradiksi dalam literatur dapat menjadi sumber masalah penelitian yang sangat berharga.
Misalnya, sebagian penelitian menemukan bahwa suatu kebijakan meningkatkan kinerja organisasi, sementara penelitian lain menemukan pengaruh yang lemah atau bahkan tidak menemukan hubungan yang berarti.
Perbedaan tersebut tidak harus dianggap sebagai masalah dalam literatur. Justru, kontradiksi dapat menjadi pintu masuk untuk penelitian yang lebih mendalam.
Peneliti dapat bertanya:
Dalam kondisi apa suatu hubungan terjadi, dan dalam kondisi apa hubungan tersebut tidak terjadi?
Pertanyaan semacam ini dapat membawa penelitian dari sekadar mencari hubungan antarvariabel menuju pencarian mekanisme, kondisi, konteks, atau proses yang menjelaskan suatu fenomena.
6. Jangan Menganggap “Belum Pernah Diteliti” sebagai Satu-Satunya Kebaruan
Mahasiswa S3 sering menganggap bahwa masalah penelitian harus benar-benar belum pernah diteliti oleh siapa pun. Akibatnya, mereka mencari topik yang semakin spesifik sampai sulit memperoleh literatur maupun data.
Padahal, kebaruan (novelty) dapat muncul dalam berbagai bentuk.
Penelitian dapat menawarkan kebaruan melalui:
- konsep atau konstruksi baru;
- hubungan antarkonsep yang belum banyak dijelaskan;
- mekanisme yang sebelumnya belum terlihat;
- konteks empiris yang menghasilkan penjelasan baru;
- integrasi beberapa perspektif teori;
- pengembangan model;
- pendekatan metodologis tertentu; atau
- reinterpretasi terhadap fenomena berdasarkan bukti baru.
Karena itu, masalah penelitian tidak harus sepenuhnya baru. Yang lebih penting adalah pertanyaan dan kontribusi ilmiah yang dihasilkan dari masalah tersebut memiliki nilai tambah.
7. Pastikan Masalah Dapat Diteliti
Masalah yang menarik belum tentu layak menjadi disertasi.
Setelah menemukan persoalan, lakukan uji kelayakan:
Apakah data tersedia?
Apakah informan dapat diakses?
Apakah variabel atau konsep dapat dioperasionalkan atau dianalisis?
Apakah waktu penelitian realistis?
Apakah metode yang digunakan mampu menjawab pertanyaan penelitian?
Apakah aspek etika dan akses penelitian dapat dipenuhi?
Misalnya, seorang mahasiswa ingin meneliti pengambilan keputusan internal organisasi tertentu, tetapi seluruh proses pengambilan keputusan bersifat tertutup dan peneliti tidak memiliki akses kepada dokumen maupun informan utama. Secara akademik masalah tersebut mungkin menarik, tetapi secara empiris perlu dipertimbangkan kembali.
Disertasi membutuhkan keseimbangan antara signifikansi ilmiah dan kelayakan penelitian.
8. Hubungkan Masalah dengan Kontribusi Disertasi
Masalah penelitian yang baik seharusnya memungkinkan peneliti menjawab pertanyaan yang lebih besar:
“Apa yang akan berubah dalam pengetahuan setelah penelitian ini selesai?”
Jika penelitian hanya menghasilkan deskripsi kondisi suatu objek, kontribusinya mungkin masih terbatas. Peneliti perlu mencari kemungkinan penjelasan yang lebih dalam.
Misalnya, bukan hanya:
Bagaimana pelaksanaan kebijakan X?
Tetapi dapat berkembang menjadi:
Mengapa pelaksanaan kebijakan X menghasilkan variasi tertentu di antara konteks yang berbeda?
Perubahan tersebut membuat penelitian bergerak dari deskripsi menuju eksplanasi.
Namun, tidak berarti semua disertasi harus menggunakan desain penelitian kausal. Penelitian kualitatif, interpretatif, kritis, maupun konstruktivis juga dapat menghasilkan kontribusi penting melalui penjelasan proses, mekanisme, makna, relasi kekuasaan, atau konstruksi sosial.
9. Gunakan “Tangga Masalah Penelitian”
Untuk memeriksa apakah masalah sudah cukup matang, mahasiswa dapat menggunakan urutan berikut:
Fenomena → persoalan praktis → pertanyaan kritis → kajian literatur → research gap → pertanyaan penelitian → kontribusi ilmiah.
Jika berhenti pada tahap fenomena, penelitian biasanya masih terlalu umum.
Jika berhenti pada masalah praktis, penelitian berisiko menjadi studi pemecahan masalah tanpa kontribusi teoritis yang memadai.
Jika sudah mencapai research gap, pertanyaan penelitian, dan kontribusi ilmiah, masalah tersebut memiliki fondasi yang lebih kuat untuk dikembangkan menjadi disertasi.
Masalah Penelitian adalah Jantung Disertasi
Disertasi yang kuat tidak dimulai dari judul yang rumit. Ia dimulai dari masalah penelitian yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Masalah penelitian menjadi dasar bagi rumusan masalah, tujuan penelitian, pemilihan teori, desain metodologi, pengumpulan data, analisis, hingga kesimpulan. Jika masalahnya lemah, bagian-bagian berikutnya cenderung ikut kehilangan arah.
Karena itu, mahasiswa S3 sebaiknya tidak terburu-buru menetapkan judul. Luangkan waktu untuk menguji fenomena, membaca literatur secara kritis, menemukan research gap, menilai kelayakan data, dan merumuskan kontribusi yang mungkin dihasilkan.
Masalah penelitian yang layak bukan sekadar masalah yang menarik untuk dibahas, tetapi masalah yang penting untuk dijelaskan secara ilmiah.
Mitragama: Mitra Akademik & Pendamping Penelitian Anda
Menemukan masalah penelitian sering kali menjadi bagian tersulit dalam perjalanan doktoral. Terutama ketika mahasiswa sudah memiliki topik, tetapi belum mampu mengubahnya menjadi persoalan ilmiah yang fokus, memiliki research gap, dan menghasilkan kontribusi.
Mitragama membantu mahasiswa S3 dalam menajamkan masalah penelitian, menyusun research gap, merumuskan pertanyaan penelitian, memperkuat kerangka teori, serta menghubungkan masalah dengan metode dan arah analisis.
Jangan mulai disertasi dari pertanyaan “Apa judul saya?” Mulailah dari pertanyaan yang lebih mendasar: “Masalah ilmiah apa yang benar-benar perlu dijelaskan?”


