Mengapa Kajian Teori Sering Menjadi Bagian Disertasi yang Terlalu Panjang?
Kajian teori disertasi merupakan salah satu bagian yang paling sering berkembang menjadi terlalu panjang. Mahasiswa doktoral dapat menghabiskan puluhan bahkan ratusan halaman untuk menjelaskan berbagai teori, konsep, definisi, dan hasil penelitian terdahulu. Namun, panjangnya kajian teori tidak selalu menunjukkan kedalaman akademik. Dalam banyak kasus, justru semakin panjang kajian teori, semakin sulit terlihat teori apa yang sebenarnya digunakan untuk membangun argumentasi penelitian.
Persoalannya bukan semata-mata pada jumlah halaman. Masalah yang lebih mendasar adalah apakah kajian teori mampu menjelaskan mengapa penelitian dilakukan, bagaimana fenomena dipahami, dan dengan perspektif apa temuan penelitian akan dianalisis.
Karena itu, mahasiswa S3 perlu memahami bahwa kajian teori bukan ensiklopedia teori. Kajian teori merupakan bagian strategis dari konstruksi argumentasi disertasi.
1. Kajian Teori Sering Disamakan dengan Kumpulan Definisi
Salah satu penyebab utama kajian teori menjadi terlalu panjang adalah kecenderungan menempatkan terlalu banyak definisi.
Misalnya, penelitian tentang organizational resilience dapat memuat definisi dari berbagai penulis selama beberapa dekade. Setiap definisi dijelaskan satu per satu, kemudian dilanjutkan dengan definisi konsep lain yang masih berkaitan.
Cara seperti ini memang menunjukkan bahwa penulis telah membaca banyak literatur. Namun, banyaknya definisi belum tentu menghasilkan kerangka konseptual yang kuat.
Kajian teori seharusnya bergerak dari pertanyaan:
Konsep apa yang benar-benar diperlukan untuk menjelaskan masalah penelitian?
Dengan demikian, definisi yang dipilih harus memiliki fungsi analitis. Definisi bukan sekadar informasi, tetapi menjadi dasar untuk menentukan bagaimana konsep tersebut digunakan dalam penelitian.
2. Terlalu Banyak Teori yang Dianggap Harus Dicantumkan
Mahasiswa S3 sering merasa bahwa semakin banyak teori yang digunakan, semakin kuat disertasinya.
Akibatnya, satu penelitian dapat memasukkan teori organisasi, teori kelembagaan, teori sumber daya, teori kepemimpinan, teori inovasi, teori tata kelola, teori perilaku, hingga teori perubahan sosial sekaligus.
Persoalannya adalah teori yang terlalu banyak dapat membuat posisi teoritis penelitian menjadi kabur.
Disertasi bukan kompetisi untuk menunjukkan berapa banyak teori yang telah dibaca. Yang lebih penting adalah kemampuan peneliti menjelaskan hubungan antara teori dengan pertanyaan penelitian.
Sebuah teori layak dimasukkan apabila memiliki fungsi yang jelas, misalnya:
- menjelaskan fenomena utama;
- membangun variabel atau dimensi penelitian;
- menjelaskan hubungan antarkonsep;
- menjadi perspektif analisis;
- atau membantu menjelaskan temuan penelitian.
Jika sebuah teori tidak memiliki fungsi tersebut, keberadaannya perlu dipertimbangkan kembali.
3. Kajian Literatur Ditulis Secara Deskriptif, Bukan Analitis
Kajian teori menjadi panjang ketika penulis menggunakan pola:
Penulis A mengatakan… Penulis B mengatakan… Penulis C mengatakan… Penulis D mengatakan…
Pola tersebut terus berulang hingga puluhan halaman.
Masalahnya bukan bahwa pendapat para ahli tidak penting. Masalahnya adalah penulis tidak mengambil posisi analitis terhadap literatur tersebut.
Kajian teori doktoral seharusnya menunjukkan adanya sintesis.
Misalnya:
Literatur mengenai tata kelola kolaboratif menunjukkan bahwa kolaborasi tidak hanya membutuhkan keterlibatan berbagai aktor, tetapi juga memerlukan mekanisme deliberasi, pembagian kewenangan, dan kapasitas kelembagaan. Namun, sebagian penelitian masih menempatkan partisipasi terutama sebagai mekanisme konsultatif. Kondisi tersebut membuka ruang untuk mengkaji bagaimana distribusi kewenangan memengaruhi kualitas kolaborasi.
Paragraf seperti ini lebih bernilai daripada sekadar merangkum sepuluh definisi karena memperlihatkan hubungan, perbedaan, dan celah dalam literatur.
4. Semua Literatur yang Dibaca Ingin Dimasukkan
Proses membaca literatur sering menghasilkan persoalan psikologis tersendiri.
Mahasiswa telah membaca puluhan atau bahkan ratusan artikel jurnal. Karena merasa telah menginvestasikan waktu untuk membaca semuanya, muncul dorongan untuk memasukkan sebanyak mungkin referensi ke dalam disertasi.
Akibatnya, kajian teori berubah menjadi tempat penyimpanan seluruh hasil bacaan.
Padahal, prinsip utama penulisan akademik bukan:
โApa saja yang sudah saya baca?โ
melainkan:
โLiteratur mana yang diperlukan untuk membangun argumentasi penelitian?โ
Karena itu, tidak semua literatur yang relevan harus masuk ke dalam naskah utama. Sebagian dapat digunakan untuk memperkuat argumen tertentu, sedangkan literatur lainnya cukup menjadi bahan pemahaman peneliti.
5. Tidak Ada Batas antara Kajian Teori dan Kajian Penelitian Terdahulu
Kajian teori dan penelitian terdahulu memiliki hubungan yang erat, tetapi bukan berarti keduanya harus bercampur tanpa struktur.
Kajian teori berfokus pada konsep, perspektif, proposisi, asumsi, dan hubungan teoretis yang digunakan untuk memahami fenomena.
Sementara itu, penelitian terdahulu terutama digunakan untuk menunjukkan:
- apa yang sudah diketahui;
- bagaimana penelitian sebelumnya mengkaji masalah;
- temuan apa yang telah dihasilkan;
- keterbatasan penelitian sebelumnya;
- serta ruang penelitian yang masih terbuka.
Jika keduanya tidak dibedakan secara konseptual, pembahasan dapat berulang. Satu konsep dijelaskan dalam kajian teori, kemudian dijelaskan kembali ketika membahas penelitian terdahulu.
Inilah salah satu penyebab halaman disertasi bertambah tanpa meningkatkan kekuatan argumentasi secara proporsional.
6. Tidak Ada Pertanyaan Teoretis yang Menjadi Panduan
Kajian teori akan mudah melebar apabila penulis tidak memiliki pertanyaan yang jelas tentang fungsi teori.
Sebelum menulis, mahasiswa S3 sebaiknya bertanya:
Apa yang harus dijelaskan oleh teori dalam penelitian ini?
Kemudian pertanyaan tersebut dapat diturunkan menjadi beberapa pertanyaan:
- Apa fenomena utama yang hendak dijelaskan?
- Konsep apa yang diperlukan untuk memahami fenomena tersebut?
- Teori apa yang memberikan penjelasan paling relevan?
- Apa keterbatasan teori tersebut?
- Bagaimana penelitian ini menggunakan atau mengembangkan perspektif tersebut?
- Bagaimana teori berhubungan dengan pertanyaan penelitian?
Pertanyaan tersebut berfungsi sebagai filter literatur. Literatur yang tidak membantu menjawab pertanyaan tersebut tidak perlu mendapatkan ruang yang besar.
7. Kajian Teori Tidak Memiliki Alur Argumentasi
Kajian teori yang panjang biasanya juga memiliki masalah struktural.
Subbab pertama membahas konsep A, kemudian konsep B, kemudian teori C, lalu konsep D. Semuanya mungkin benar secara individual, tetapi pembaca tidak mengetahui mengapa konsep-konsep tersebut disusun dalam urutan tersebut.
Kajian teori yang kuat seharusnya memiliki alur argumentatif.
Salah satu pola yang dapat digunakan adalah:
fenomena โ konsep utama โ teori yang relevan โ perdebatan teori โ keterbatasan โ posisi penelitian โ kerangka konseptual.
Dengan struktur tersebut, kajian teori tidak lagi menjadi kumpulan literatur, tetapi menjadi perjalanan intelektual yang mengantarkan pembaca menuju posisi penelitian.
8. Ukuran Kajian Teori Bukan Jumlah Halaman
Pertanyaan yang sering muncul adalah: โBerapa halaman kajian teori yang ideal untuk disertasi?โ
Tidak ada satu ukuran universal yang berlaku untuk semua disertasi. Panjang kajian teori bergantung pada bidang ilmu, desain penelitian, kompleksitas konsep, pendekatan metodologis, serta pedoman universitas.
Karena itu, target seperti โkajian teori harus 50 halamanโ tidak selalu tepat.
Ukuran yang lebih penting adalah kecukupan argumentasi.
Kajian teori dapat dikatakan cukup apabila pembaca dapat memahami:
- perspektif teoretis penelitian;
- konsep-konsep kunci;
- hubungan antarkonsep;
- perdebatan dalam literatur;
- keterbatasan penjelasan yang ada;
- serta posisi penelitian yang dilakukan.
Jika semua itu sudah jelas, menambahkan halaman hanya demi memperpanjang kajian teori justru dapat mengurangi fokus disertasi.
9. Bagaimana Memendekkan Kajian Teori Tanpa Mengurangi Kedalaman?
Memadatkan kajian teori bukan berarti menghapus literatur secara sembarangan. Yang dilakukan adalah mengubah fungsi literatur dari deskriptif menjadi argumentatif.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah:
Pertama, tentukan teori inti
Pilih teori yang benar-benar menjadi fondasi penelitian. Teori pendukung dapat digunakan secara proporsional sesuai kebutuhan.
Kedua, kelompokkan literatur berdasarkan tema
Jangan membahas artikel satu per satu. Kelompokkan literatur berdasarkan konsep, perspektif, perdebatan, atau temuan.
Ketiga, lakukan sintesis
Setelah menyajikan beberapa penelitian, jelaskan persamaan, perbedaan, perkembangan, dan keterbatasannya.
Keempat, hubungkan teori dengan masalah penelitian
Setiap bagian teori sebaiknya memiliki hubungan yang dapat dijelaskan dengan pertanyaan penelitian.
Kelima, akhiri dengan posisi teoritis penelitian
Pembaca harus mengetahui teori mana yang digunakan, bagaimana teori tersebut digunakan, dan apa kontribusi penelitian terhadap diskusi teoretis.
Kajian Teori yang Baik Bukan yang Paling Panjang
Pada tingkat doktoral, kualitas kajian teori tidak ditentukan oleh banyaknya halaman, jumlah kutipan, atau jumlah teori yang berhasil dimasukkan.
Kualitasnya lebih ditentukan oleh kemampuan peneliti mengorganisasi literatur menjadi argumentasi ilmiah yang koheren.
Kajian teori yang panjang tetapi deskriptif dapat membuat disertasi kehilangan fokus. Sebaliknya, kajian teori yang terstruktur, kritis, dan sintesis dapat memberikan fondasi kuat bagi keseluruhan penelitian.
Dengan demikian, pertanyaan yang seharusnya diajukan bukan:
โBagaimana membuat kajian teori menjadi lebih panjang?โ
melainkan:
โBagaimana memastikan setiap teori dan literatur yang digunakan memiliki fungsi dalam membangun argumentasi disertasi?โ
Inilah salah satu perbedaan penting antara penulisan akademik pada tingkat biasa dan penulisan disertasi doktoral. Disertasi tidak hanya menuntut peneliti mengetahui literatur, tetapi juga mampu mengolah literatur menjadi posisi ilmiah yang jelas.
Konsultasi Disertasi di Mitragama
Kajian teori sering menjadi bagian yang sulit bukan karena mahasiswa S3 kekurangan referensi, tetapi karena belum menemukan struktur argumentasi yang tepat.
Mitragama membantu mahasiswa S3 mengembangkan kajian teori secara lebih sistematis, mulai dari pemetaan konsep, seleksi teori, sintesis penelitian terdahulu, identifikasi research gap, hingga penyusunan kerangka konseptual.
Pendampingan diarahkan agar kajian teori tidak sekadar panjang dan penuh kutipan, tetapi fokus, kritis, sistematis, dan memiliki fungsi yang jelas dalam membangun argumentasi disertasi.


