Cara Memilih Teori yang Tepat untuk Disertasi

Memilih teori yang tepat merupakan salah satu keputusan intelektual paling penting dalam penyusunan disertasi. Teori bukan sekadar kumpulan konsep yang ditempatkan dalam Bab II untuk menunjukkan bahwa peneliti telah membaca banyak literatur. Dalam penelitian doktoral, teori seharusnya membantu peneliti menjelaskan fenomena, membangun argumentasi, mengarahkan analisis, dan menempatkan temuan penelitian dalam perkembangan ilmu pengetahuan.

Persoalannya, mahasiswa S3 sering menghadapi terlalu banyak pilihan. Satu topik penelitian dapat dikaitkan dengan berbagai teori dari disiplin yang berbeda. Akibatnya, muncul pertanyaan: bagaimana memilih teori yang benar-benar tepat untuk disertasi?

Jawabannya bukan dengan memilih teori yang paling populer atau paling sering dikutip, melainkan dengan menilai kesesuaian teori dengan pertanyaan penelitian dan kebutuhan analisis.

1. Mulai dari Masalah Penelitian, Bukan dari Teori

Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah mahasiswa menemukan teori terlebih dahulu, kemudian berusaha menyesuaikan masalah penelitiannya dengan teori tersebut.

Logika yang lebih tepat adalah sebaliknya.

Peneliti perlu memulai dari masalah penelitian. Apa fenomena yang ingin dijelaskan? Mengapa fenomena tersebut penting? Bagian mana dari fenomena yang belum dapat dijelaskan secara memadai oleh penelitian sebelumnya?

Misalnya, penelitian membahas mengapa suatu organisasi mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Peneliti dapat mempertimbangkan teori dynamic capabilities, organizational resilience, resource-based view, atau perspektif kelembagaan.

Pilihan tersebut baru dapat dipertimbangkan setelah peneliti memahami jenis persoalan yang hendak dijelaskan.

Dengan demikian, teori berfungsi sebagai alat untuk menjawab masalah, bukan masalah yang dipaksakan agar sesuai dengan teori.

2. Pastikan Teori Menjawab Pertanyaan Penelitian

Hubungan antara teori dan rumusan masalah merupakan salah satu indikator penting dalam memilih teori.

Jika pertanyaan penelitian bersifat:

Bagaimana suatu proses berlangsung?

maka teori yang membantu menjelaskan proses, mekanisme, interaksi, atau dinamika dapat lebih relevan.

Jika pertanyaannya:

Faktor apa yang memengaruhi suatu fenomena?

maka teori yang menjelaskan hubungan antarfaktor mungkin lebih sesuai.

Sementara itu, jika pertanyaannya:

Mengapa suatu fenomena terjadi dalam konteks tertentu?

peneliti mungkin membutuhkan teori yang memberikan penjelasan kausal, institusional, struktural, interpretatif, atau mekanistik, tergantung paradigma dan desain penelitian.

Karena itu, jangan memilih teori hanya berdasarkan kesamaan kata kunci dengan judul disertasi.

Kesamaan topik tidak otomatis berarti kesesuaian teoritis.

3. Bedakan Teori, Konsep, dan Kerangka Konseptual

Kesalahan terminologis juga sering membuat mahasiswa kesulitan memilih teori.

Konsep adalah gagasan atau kategori analitis yang digunakan untuk memahami fenomena.

Teori menyediakan seperangkat konsep yang saling berhubungan dan memberikan penjelasan tertentu mengenai fenomena.

Sementara itu, kerangka konseptual merupakan konstruksi penelitian yang menunjukkan bagaimana peneliti mengorganisasi konsep-konsep tersebut untuk menjawab masalah penelitian.

Contohnya, โ€œkepercayaanโ€, โ€œkolaborasiโ€, dan โ€œakuntabilitasโ€ dapat menjadi konsep. Teori tertentu mungkin menjelaskan hubungan antara konsep-konsep tersebut. Peneliti kemudian dapat menyusun kerangka konseptual yang sesuai dengan konteks penelitiannya.

Pembedaan ini penting karena tidak setiap konsep yang digunakan dalam disertasi harus diperlakukan sebagai teori.

4. Periksa Asumsi Dasar Teori

Teori memiliki asumsi mengenai bagaimana realitas sosial, organisasi, institusi, individu, atau hubungan kekuasaan bekerja.

Karena itu, pemilihan teori harus mempertimbangkan kesesuaian asumsi epistemologis dan ontologis dengan penelitian.

Misalnya, suatu teori mungkin melihat perilaku sebagai hasil pilihan rasional aktor. Teori lain mungkin lebih menekankan struktur kelembagaan, konstruksi sosial, komunikasi, kekuasaan, atau interpretasi aktor.

Dua teori dapat membahas fenomena yang sama tetapi menghasilkan cara membaca realitas yang berbeda.

Pertanyaan penting yang perlu diajukan adalah:

  • Bagaimana teori memandang aktor?
  • Bagaimana teori menjelaskan perubahan?
  • Apa yang dianggap sebagai faktor penting?
  • Bagaimana hubungan antara struktur dan agensi dipahami?
  • Apa yang dianggap sebagai bukti atau pengetahuan yang valid?

Semakin jelas jawaban atas pertanyaan tersebut, semakin mudah menentukan apakah teori benar-benar sesuai dengan penelitian.

5. Evaluasi Daya Jelaskan Teori

Teori yang tepat bukan hanya teori yang terkenal, tetapi teori yang memiliki daya jelaskan terhadap fenomena yang diteliti.

Peneliti dapat membuat matriks sederhana untuk membandingkan beberapa kandidat teori.

KriteriaTeori ATeori BTeori C
Relevansi dengan masalahTinggiSedangTinggi
Kesesuaian dengan pertanyaan penelitianTinggiTinggiSedang
Daya jelaskanTinggiSedangTinggi
Kesesuaian paradigmaTinggiRendahTinggi
Dukungan penelitian terdahuluTinggiTinggiSedang
Potensi kontribusiSedangTinggiTinggi

Matriks tersebut bukan alat untuk menentukan teori secara mekanis. Fungsinya adalah membantu peneliti membandingkan alasan akademik di balik pilihan teori.

6. Jangan Memilih Teori Hanya Karena Populer

Teori yang sering digunakan dalam jurnal internasional belum tentu merupakan teori yang paling tepat untuk penelitian tertentu.

Popularitas teori tidak sama dengan relevansi teoritis.

Sebuah teori mungkin sangat kuat dalam menjelaskan fenomena tertentu, tetapi memiliki keterbatasan ketika diterapkan pada konteks, unit analisis, atau pertanyaan penelitian yang berbeda.

Karena itu, peneliti perlu membaca teori secara kritis:

Apa yang dapat dijelaskan teori ini?

dan sekaligus:

Apa yang tidak dapat dijelaskan teori ini?

Pertanyaan kedua justru sering menjadi pintu masuk untuk menemukan research gap.

7. Pertimbangkan Konteks Penelitian

Teori tidak selalu dapat diterapkan secara identik pada semua konteks.

Konteks institusional, budaya, geografis, ekonomi, politik, organisasi, atau historis dapat memengaruhi bagaimana suatu teori bekerja secara analitis.

Namun, mempertimbangkan konteks bukan berarti teori harus selalu diganti dengan teori lokal. Yang lebih penting adalah menjelaskan bagaimana teori digunakan dalam konteks penelitian dan apakah terdapat batasan penerapannya.

Hal ini dapat menghasilkan kontribusi teoritis yang lebih kuat.

Misalnya, penelitian dapat menunjukkan bahwa suatu teori yang dikembangkan dalam konteks tertentu memiliki mekanisme yang berbeda ketika diterapkan pada konteks lain. Temuan seperti ini dapat menjadi dasar pengembangan, perluasan, atau pemurnian teori.

8. Hindari Menggunakan Terlalu Banyak Teori

Lebih banyak teori tidak otomatis menghasilkan disertasi yang lebih kuat.

Penggunaan beberapa teori memang dapat dibenarkan apabila masing-masing memiliki fungsi analitis yang berbeda. Namun, jika teori-teori tersebut hanya ditempatkan berdampingan tanpa hubungan yang jelas, disertasi dapat kehilangan fokus.

Sebelum menambahkan teori baru, tanyakan:

Apa fungsi teori tambahan ini yang tidak dapat dilakukan oleh teori utama?

Jika jawabannya tidak jelas, teori tersebut mungkin tidak diperlukan.

Disertasi yang kuat justru sering menunjukkan ketegasan posisi teoritis: teori utama jelas, teori pendukung memiliki fungsi tertentu, dan hubungan antarteori dapat dijelaskan.

9. Pilih Teori Berdasarkan Fungsi dalam Analisis

Salah satu cara paling efektif memilih teori adalah menentukan fungsi yang diharapkan dari teori tersebut.

Teori dapat berfungsi untuk:

  1. menjelaskan fenomena utama;
  2. mengidentifikasi mekanisme;
  3. membangun kategori analisis;
  4. menjelaskan hubungan antarkonsep;
  5. membaca data empiris;
  6. membandingkan temuan dengan penelitian terdahulu;
  7. mengembangkan proposisi atau model;
  8. menjelaskan kontribusi teoritis penelitian.

Dengan cara ini, pemilihan teori menjadi lebih operasional.

Peneliti tidak lagi mengatakan:

โ€œSaya menggunakan teori X karena teori tersebut relevan.โ€

Tetapi dapat menjelaskan:

โ€œTeori X digunakan karena menyediakan konsep dan mekanisme yang diperlukan untuk menjelaskan aspek tertentu dari fenomena penelitian.โ€

Perbedaan kalimat tersebut tampak sederhana, tetapi menunjukkan tingkat argumentasi akademik yang berbeda.

10. Teori Harus Terhubung dengan Temuan dan Kontribusi Disertasi

Pemilihan teori tidak berhenti pada Bab II.

Teori yang dipilih harus memiliki hubungan dengan metode, analisis data, pembahasan, dan kontribusi penelitian.

Pertanyaan pentingnya adalah:

Setelah data dianalisis, apa yang dilakukan peneliti terhadap teori tersebut?

Ada beberapa kemungkinan. Penelitian dapat memperkuat penjelasan teori, menemukan keterbatasannya, memperluas penerapannya, mengidentifikasi mekanisme baru, mengintegrasikan beberapa perspektif, atau mengembangkan model konseptual baru.

Inilah alasan mengapa teori harus dipilih sejak awal dengan mempertimbangkan arah kontribusi disertasi.

Kesimpulan: Teori yang Tepat adalah Teori yang Fungsional

Memilih teori yang tepat untuk disertasi bukan persoalan mencari teori yang paling terkenal, paling baru, atau paling banyak digunakan oleh peneliti lain.

Teori yang tepat adalah teori yang memiliki kesesuaian dengan masalah penelitian, pertanyaan penelitian, paradigma, konteks, unit analisis, serta kebutuhan penjelasan penelitian.

Proses pemilihannya dapat diringkas menjadi:

Masalah penelitian โ†’ pertanyaan penelitian โ†’ fenomena yang perlu dijelaskan โ†’ kandidat teori โ†’ evaluasi asumsi dan daya jelaskan โ†’ posisi teori โ†’ kerangka konseptual โ†’ analisis โ†’ kontribusi teoritis.

Dengan alur tersebut, teori tidak berhenti sebagai bagian dari Bab II. Teori menjadi alat intelektual yang menghubungkan masalah penelitian dengan analisis dan kontribusi ilmiah.

Bagi mahasiswa S3, kemampuan memilih teori dengan tepat merupakan bagian penting dari kemampuan membangun argumentasi doktoral. Disertasi yang baik bukan disertasi yang menggunakan teori paling banyak, melainkan disertasi yang mampu menunjukkan mengapa teori tertentu dipilih, bagaimana teori tersebut digunakan, dan apa yang dihasilkan penelitian terhadap perkembangan teori tersebut.

Konsultasi Disertasi di Mitragama

Kesulitan memilih teori sering kali bukan karena kurang membaca jurnal, tetapi karena belum menemukan hubungan yang jelas antara masalah penelitian, research gap, pertanyaan penelitian, teori, dan kerangka konseptual.

Mitragama membantu mahasiswa S3 menelaah posisi teoritis penelitian secara sistematis, mulai dari pemetaan teori kandidat, perbandingan daya jelaskan, identifikasi keterbatasan teori, hingga penyusunan argumentasi pemilihan teori yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

Pendampingan diarahkan agar teori dalam disertasi tidak sekadar menjadi kumpulan definisi dan kutipan, tetapi benar-benar berfungsi sebagai fondasi argumentasi, analisis, dan kontribusi ilmiah.

error: Content is protected !!