Teori Utama, Teori Pendukung, dan Konsep: Apa Bedanya?
Salah satu persoalan yang sering muncul dalam penulisan disertasi adalah ketidakjelasan mengenai teori utama, teori pendukung, dan konsep. Ketiganya sering digunakan secara bersamaan dalam Bab II, tetapi tidak selalu dijelaskan secara tegas mengenai fungsi dan kedudukannya.
Akibatnya, kajian teori dapat menjadi sangat panjang. Berbagai teori dicantumkan, definisi dikumpulkan, dan banyak konsep dijelaskan, tetapi pembaca justru kesulitan menemukan teori apa yang sebenarnya menjadi fondasi penelitian.
Pada tingkat doktoral, persoalan ini menjadi penting karena disertasi bukan sekadar menunjukkan penguasaan literatur. Peneliti harus mampu menunjukkan posisi teoritis penelitian dan menjelaskan bagaimana teori digunakan untuk membangun argumentasi, menganalisis data, serta menghasilkan kontribusi ilmiah.
Lalu, apa sebenarnya perbedaan antara teori utama, teori pendukung, dan konsep?
1. Apa yang Dimaksud dengan Teori?
Sebelum membedakan teori utama dan teori pendukung, konsep teori perlu dipahami terlebih dahulu.
Secara sederhana, teori merupakan sistem konsep dan hubungan antarkonsep yang digunakan untuk menjelaskan atau memahami suatu fenomena. Teori tidak hanya berisi definisi. Teori memiliki struktur argumentatif mengenai bagaimana dan mengapa suatu fenomena terjadi.
Karena itu, teori memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar memberikan istilah akademik.
Dalam sebuah disertasi, teori dapat membantu peneliti:
- menjelaskan fenomena penelitian;
- mengidentifikasi mekanisme atau proses;
- menentukan aspek yang perlu dianalisis;
- membangun hubungan antarkonsep;
- membaca data empiris;
- membandingkan temuan dengan pengetahuan yang telah ada;
- serta merumuskan kontribusi teoritis.
Dengan demikian, teori seharusnya memiliki fungsi analitis yang nyata.
2. Apa Itu Teori Utama?
Teori utama adalah perspektif teoritis yang menjadi fondasi utama untuk menjawab masalah dan pertanyaan penelitian.
Teori utama biasanya memiliki hubungan paling langsung dengan fenomena inti yang diteliti.
Misalnya, penelitian ingin menjelaskan bagaimana organisasi mengembangkan kemampuan beradaptasi menghadapi perubahan lingkungan. Peneliti dapat menempatkan Dynamic Capabilities Theory sebagai teori utama apabila teori tersebut menjadi perspektif utama dalam menjelaskan bagaimana organisasi membangun, mengintegrasikan, dan mengonfigurasi kembali sumber dayanya untuk merespons perubahan.
Dalam posisi tersebut, teori utama bukan sekadar disebut dalam Bab II. Teori tersebut seharusnya muncul kembali dalam:
rumusan masalah โ kerangka konseptual โ analisis โ pembahasan โ kontribusi penelitian.
Salah satu cara sederhana untuk menguji apakah sebuah teori benar-benar merupakan teori utama adalah bertanya:
Jika teori ini dihilangkan, apakah struktur argumentasi utama disertasi akan berubah secara signifikan?
Jika jawabannya ya, teori tersebut kemungkinan memiliki posisi sentral.
3. Apa Itu Teori Pendukung?
Teori pendukung merupakan perspektif teoritis yang digunakan untuk melengkapi, memperluas, atau memberikan penjelasan pada aspek tertentu yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh teori utama.
Teori pendukung tidak harus memiliki bobot yang sama dengan teori utama.
Misalnya, penelitian menggunakan Dynamic Capabilities Theory sebagai teori utama untuk menjelaskan kemampuan organisasi menghadapi perubahan. Peneliti kemudian menggunakan Institutional Theory untuk menjelaskan bagaimana regulasi, norma, dan tekanan kelembagaan memengaruhi proses adaptasi organisasi.
Dalam struktur tersebut, kedua teori mempunyai fungsi berbeda.
Teori utama menjelaskan mekanisme inti.
Teori pendukung menjelaskan konteks atau dimensi tambahan yang diperlukan untuk memahami fenomena secara lebih lengkap.
Persoalan muncul ketika mahasiswa menyebut lima atau enam teori sebagai โteori utamaโ. Jika semuanya disebut utama, pembaca akan kesulitan mengetahui pusat gravitasi teoritis penelitian.
4. Teori Pendukung Bukan Sekadar Teori Tambahan
Penting untuk membedakan teori pendukung dengan teori yang hanya โdicantumkanโ.
Teori pendukung harus mempunyai alasan keberadaan yang jelas.
Pertanyaan yang perlu diajukan adalah:
Apa yang dapat dijelaskan oleh teori pendukung yang belum dapat dijelaskan secara memadai oleh teori utama?
Jika teori tambahan tidak memberikan fungsi analitis baru, keberadaannya perlu dipertimbangkan kembali.
Dengan demikian, teori pendukung bukan dekorasi akademik. Ia harus memberikan nilai penjelasan tambahan.
5. Lalu, Apa yang Dimaksud dengan Konsep?
Konsep berbeda dari teori.
Konsep merupakan gagasan atau kategori analitis yang digunakan untuk memahami dan mendeskripsikan suatu fenomena.
Contohnya adalah:
- kepercayaan;
- partisipasi;
- transparansi;
- akuntabilitas;
- inovasi;
- kapasitas organisasi;
- kolaborasi;
- legitimasi;
- ketahanan;
- dan pemberdayaan.
Konsep dapat berasal dari teori, penelitian terdahulu, atau hasil pengembangan konseptual peneliti.
Namun, konsep tidak otomatis menjadi teori.
Misalnya, โkepercayaanโ merupakan konsep penting dalam berbagai teori kolaborasi. Tetapi menyebut โteori kepercayaanโ tanpa menjelaskan struktur teoretis yang dimaksud dapat menimbulkan masalah konseptual.
6. Hubungan antara Teori dan Konsep
Hubungan sederhana antara ketiganya dapat digambarkan sebagai berikut:
TEORI UTAMA
โ
Menjelaskan fenomena inti
โ
TEORI PENDUKUNG
โ
Melengkapi aspek tertentu
โ
KONSEP-KONSEP KUNCI
โ
Digunakan dalam kerangka konseptual dan analisis
Namun, hubungan tersebut tidak selalu linear.
Satu teori dapat mencakup banyak konsep. Satu konsep juga dapat digunakan oleh beberapa teori. Karena itu, peneliti perlu menjelaskan bagaimana konsep tertentu diposisikan dalam kerangka teoritis penelitian.
Yang penting bukan membuat hierarki yang kaku, melainkan menjelaskan fungsi masing-masing.
7. Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Disertasi
Ada beberapa kesalahan yang sering ditemukan ketika mahasiswa menyusun Bab II.
Pertama, semua teori disebut teori utama
Peneliti menggunakan teori A, B, C, D, dan E, kemudian semuanya disebut sebagai teori utama.
Masalahnya adalah tidak ada posisi teoritis yang jelas.
Kedua, konsep diperlakukan sebagai teori
Istilah seperti transparansi, partisipasi, inovasi, atau kepemimpinan disebut sebagai โteoriโ, padahal yang digunakan sebenarnya adalah konsep.
Ketiga, teori hanya muncul di Bab II
Teori dijelaskan panjang lebar, tetapi tidak digunakan secara nyata ketika menganalisis hasil penelitian.
Ini menunjukkan adanya keterputusan antara kajian teori dan analisis.
Keempat, teori pendukung lebih dominan daripada teori utama
Kadang-kadang teori utama hanya dibahas beberapa halaman, sementara teori pendukung justru mendominasi puluhan halaman.
Akibatnya, posisi penelitian menjadi kabur.
Kelima, terlalu banyak definisi
Peneliti mengumpulkan definisi dari berbagai ahli tetapi tidak menjelaskan definisi mana yang digunakan dan mengapa.
Padahal, yang dibutuhkan bukan jumlah definisi, tetapi kejelasan definisi operasional atau konseptual yang digunakan dalam penelitian.
8. Bagaimana Menentukan Posisi Teori dalam Disertasi?
Peneliti dapat menggunakan beberapa pertanyaan berikut.
Pertanyaan 1: Apa fenomena utama penelitian?
Jawaban atas pertanyaan ini membantu menentukan teori yang paling relevan.
Pertanyaan 2: Apa pertanyaan penelitian?
Teori harus memiliki kemampuan untuk membantu menjawab pertanyaan tersebut.
Pertanyaan 3: Apa yang harus dijelaskan?
Tentukan mekanisme, hubungan, proses, konteks, atau kondisi yang menjadi fokus.
Pertanyaan 4: Apa keterbatasan teori utama?
Jawaban ini dapat menunjukkan kebutuhan terhadap teori pendukung.
Pertanyaan 5: Konsep apa yang diperlukan?
Pilih konsep yang benar-benar diperlukan untuk membangun kerangka konseptual dan analisis.
Pertanyaan 6: Bagaimana semuanya terhubung?
Inilah pertanyaan paling penting.
Peneliti harus dapat menjelaskan hubungan antara teori utama, teori pendukung, konsep, data, dan kontribusi penelitian.
9. Contoh Struktur Sederhana Bab Teori
Untuk membantu menjaga fokus, struktur berikut dapat digunakan sebagai salah satu alternatif:
2.1 Teori Utama
Menjelaskan teori yang menjadi fondasi utama penelitian.
2.2 Teori Pendukung
Menjelaskan perspektif tambahan yang diperlukan untuk memperluas analisis.
2.3 Konsep-Konsep Kunci
Menjelaskan konsep yang digunakan dalam penelitian beserta definisi dan dimensinya.
2.4 Sintesis Teoretis
Mengintegrasikan teori utama, teori pendukung, dan konsep.
2.5 Posisi Teoretis Penelitian
Menjelaskan bagaimana penelitian menempatkan dirinya dalam perdebatan akademik.
2.6 Kerangka Konseptual
Menggambarkan hubungan antarkonsep dan arah analisis penelitian.
Struktur tersebut tentu perlu disesuaikan dengan paradigma, pendekatan, bidang ilmu, dan pedoman institusi.
10. Jangan Memaksakan Semua Teori ke Dalam Disertasi
Salah satu indikator kematangan akademik adalah kemampuan memilih dan membatasi.
Mahasiswa doktoral memang perlu membaca banyak teori. Tetapi membaca banyak teori tidak berarti semuanya harus masuk ke dalam disertasi.
Prinsipnya sederhana:
Literatur yang dibaca boleh jauh lebih banyak daripada literatur yang ditulis.
Justru dengan membaca luas, peneliti dapat memilih teori yang paling relevan dan menjelaskan mengapa teori tersebut diprioritaskan.
Disertasi yang kuat bukan yang memiliki daftar teori paling panjang, melainkan yang memiliki arsitektur teoritis yang paling koheren dengan pertanyaan penelitian.
Kesimpulan
Teori utama, teori pendukung, dan konsep memiliki fungsi yang berbeda dalam sebuah disertasi.
Teori utama menjadi fondasi utama untuk menjelaskan fenomena dan menjawab pertanyaan penelitian.
Teori pendukung memberikan perspektif tambahan yang memperluas atau melengkapi penjelasan teori utama.
Sementara itu, konsep merupakan gagasan atau kategori analitis yang digunakan untuk memahami dan mengoperasionalkan aspek tertentu dari fenomena penelitian.
Ketiganya perlu ditempatkan secara sadar dalam arsitektur argumentasi disertasi.
Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu dijawab bukan:
โBerapa banyak teori yang digunakan?โ
melainkan:
โApa fungsi setiap teori dan konsep dalam membangun argumentasi penelitian saya?โ
Ketika pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan jelas, Bab II tidak lagi menjadi kumpulan teori dan definisi. Ia berubah menjadi fondasi intelektual yang menghubungkan masalah penelitian, kerangka konseptual, analisis data, dan kontribusi ilmiah disertasi.
Konsultasi Disertasi di Mitragama
Kesulitan membedakan teori utama, teori pendukung, dan konsep sering menjadi penyebab Bab II terlalu panjang dan tidak fokus. Mitragama membantu mahasiswa S3 memetakan arsitektur teoritis penelitian, menyeleksi teori yang relevan, memperjelas posisi setiap konsep, serta menghubungkannya dengan research gap, kerangka konseptual, dan analisis.
Pendampingan dilakukan agar kajian teori tidak sekadar menunjukkan banyaknya literatur yang telah dibaca, tetapi menghasilkan struktur argumentasi yang sistematis, tajam, dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.


