Cara Menentukan Teori Utama dalam Penelitian Disertasi
Menentukan teori utama dalam penelitian disertasi merupakan salah satu keputusan akademik yang sangat penting. Teori utama bukan sekadar teori yang paling sering disebut dalam Bab II atau teori yang paling banyak dikutip dalam literatur. Teori utama seharusnya menjadi fondasi intelektual yang membantu peneliti menjelaskan masalah penelitian, memahami fenomena, mengarahkan analisis, dan membangun kontribusi ilmiah.
Dalam praktiknya, mahasiswa S3 sering mengalami kesulitan ketika harus memilih satu teori utama dari berbagai teori yang tampaknya sama-sama relevan. Satu topik penelitian dapat dikaji melalui perspektif kelembagaan, tata kelola, perilaku, organisasi, ekonomi, sosial, atau politik.
Akibatnya, muncul pertanyaan: bagaimana menentukan teori utama yang benar-benar tepat untuk disertasi?
Kuncinya adalah melihat teori sebagai bagian dari arsitektur argumentasi penelitian, bukan sebagai daftar referensi yang harus ditampilkan.
1. Mulai dari Masalah Penelitian
Langkah pertama dalam menentukan teori utama adalah kembali kepada masalah penelitian.
Peneliti perlu bertanya:
Fenomena apa yang sebenarnya ingin saya jelaskan?
Pertanyaan ini penting karena judul penelitian sering kali masih terlalu luas.
Misalnya, penelitian berjudul โTata Kelola Kolaboratif dalam Pengembangan Ekonomi Berkelanjutanโ dapat dikaji menggunakan berbagai teori. Namun, jika masalah penelitian sebenarnya berfokus pada bagaimana berbagai aktor membangun keputusan bersama, maka teori yang menjelaskan kolaborasi dan proses pengambilan keputusan mungkin lebih relevan daripada teori ekonomi secara umum.
Dengan demikian, teori utama harus ditentukan berdasarkan inti persoalan yang hendak dijelaskan, bukan hanya berdasarkan kata-kata yang terdapat dalam judul.
2. Hubungkan Teori dengan Pertanyaan Penelitian
Setelah masalah penelitian jelas, langkah berikutnya adalah melihat rumusan pertanyaan penelitian.
Teori utama harus mempunyai kemampuan menjawab pertanyaan penelitian secara substantif.
Misalnya, pertanyaan:
Bagaimana proses kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta berlangsung?
memerlukan perspektif yang dapat menjelaskan proses interaksi, deliberasi, negosiasi, dan pengambilan keputusan.
Sementara pertanyaan:
Faktor apa yang memengaruhi keberhasilan kolaborasi?
mungkin memerlukan teori yang memberikan penjelasan mengenai kondisi atau mekanisme yang memengaruhi hasil kolaboratif.
Karena itu, jangan memilih teori hanya karena teori tersebut sering digunakan dalam bidang penelitian yang sama.
Pertanyaan penelitian harus menjadi salah satu filter utama dalam memilih teori.
3. Identifikasi Fenomena Inti yang Perlu Dijelaskan
Sebuah disertasi biasanya memiliki fenomena utama dan beberapa fenomena pendukung.
Teori utama seharusnya diarahkan pada fenomena inti.
Sebagai contoh, penelitian mengenai transformasi digital organisasi mungkin membahas:
- teknologi;
- kepemimpinan;
- budaya organisasi;
- kemampuan sumber daya manusia;
- inovasi;
- perubahan proses bisnis;
- dan kinerja organisasi.
Namun, belum tentu semua aspek tersebut harus memiliki teori tersendiri.
Jika inti penelitian adalah bagaimana organisasi membangun kemampuan untuk merespons perubahan teknologi, teori mengenai kemampuan adaptif organisasi dapat menjadi kandidat teori utama. Sementara teori kepemimpinan atau budaya organisasi dapat berfungsi sebagai perspektif pendukung apabila memang diperlukan.
Langkah ini membantu mencegah penggunaan terlalu banyak teori.
4. Buat Daftar Kandidat Teori
Setelah fenomena utama diketahui, buatlah daftar beberapa teori yang secara akademik berpotensi digunakan.
Misalnya:
| Kandidat Teori | Fokus Utama | Potensi Fungsi |
|---|---|---|
| Teori A | Kapasitas organisasi | Menjelaskan kemampuan internal |
| Teori B | Kelembagaan | Menjelaskan pengaruh institusi |
| Teori C | Kolaborasi | Menjelaskan interaksi antaraktor |
| Teori D | Tata kelola | Menjelaskan struktur dan proses governance |
Pada tahap ini, jangan langsung menetapkan teori utama.
Tujuannya adalah membangun ruang perbandingan teoritis.
5. Bandingkan Daya Jelaskan Masing-Masing Teori
Setiap kandidat teori kemudian perlu diuji berdasarkan daya jelaskannya.
Beberapa pertanyaan yang dapat digunakan adalah:
- Apakah teori ini menjelaskan fenomena utama?
- Apakah teori ini sesuai dengan pertanyaan penelitian?
- Apakah konsep-konsep utamanya relevan?
- Apakah teori tersebut sesuai dengan paradigma penelitian?
- Apakah teori dapat digunakan untuk membaca data empiris?
- Apakah teori memiliki keterbatasan yang perlu dilengkapi?
- Apakah teori memungkinkan penelitian menghasilkan kontribusi?
Teori yang paling banyak memenuhi kebutuhan tersebut dapat menjadi kandidat kuat sebagai teori utama.
Namun, keputusan tersebut tetap membutuhkan argumentasi akademik, bukan sekadar penilaian mekanis.
6. Perhatikan Asumsi Dasar Teori
Dua teori dapat membahas fenomena yang sama tetapi memiliki asumsi yang berbeda.
Ada teori yang lebih menekankan rasionalitas aktor. Ada yang berfokus pada struktur kelembagaan. Ada yang menekankan komunikasi dan pembentukan makna. Ada pula yang melihat kekuasaan sebagai faktor utama dalam membentuk hubungan sosial.
Karena itu, peneliti perlu memahami:
- bagaimana teori melihat aktor;
- bagaimana teori melihat struktur;
- bagaimana perubahan dijelaskan;
- bagaimana hubungan sebab-akibat dipahami;
- bagaimana pengetahuan tentang fenomena dibangun.
Teori utama harus memiliki kesesuaian dengan cara penelitian memandang realitas dan menghasilkan pengetahuan.
7. Lihat Posisi Teori dalam Literatur
Teori utama juga perlu ditempatkan dalam perkembangan literatur.
Jangan hanya bertanya:
โApakah teori ini terkenal?โ
Tetapi tanyakan:
โBagaimana teori ini digunakan dalam penelitian sebelumnya?โ
Kemudian identifikasi:
- perkembangan teori;
- perdebatan utama;
- variasi penerapan;
- keterbatasan;
- kritik;
- serta ruang pengembangan.
Langkah tersebut sangat penting karena disertasi doktoral diharapkan tidak berhenti pada penerapan teori.
Penelitian perlu menunjukkan apa yang dilakukan terhadap teori.
Misalnya, penelitian dapat menguji penerapan teori dalam konteks baru, mengembangkan konsep, mengidentifikasi mekanisme tambahan, mengintegrasikan perspektif, atau menemukan kondisi yang membatasi daya jelaskan teori.
8. Jangan Memilih Teori Berdasarkan Popularitas
Teori yang sangat populer belum tentu menjadi teori utama yang paling sesuai.
Popularitas, jumlah sitasi, atau banyaknya artikel yang menggunakan teori tertentu dapat menjadi informasi awal, tetapi bukan dasar tunggal untuk memilih teori.
Yang lebih penting adalah theoretical fit, yaitu kesesuaian teori dengan masalah, pertanyaan, konteks, unit analisis, dan tujuan penelitian.
Teori yang relatif spesifik tetapi mampu menjelaskan fenomena secara kuat dapat lebih relevan daripada teori yang sangat terkenal tetapi terlalu umum.
9. Uji Teori dengan Kerangka Konseptual
Salah satu cara praktis untuk menguji kandidat teori adalah mencoba menggunakannya dalam kerangka konseptual.
Tanyakan:
Jika teori ini menjadi teori utama, apakah saya dapat menjelaskan hubungan antarkonsep penelitian secara logis?
Misalnya teori utama memiliki konsep A, B, dan C. Penelitian memiliki fenomena X dan Y.
Peneliti perlu melihat apakah teori tersebut memungkinkan terbentuknya hubungan argumentatif:
A โ B โ C โ Fenomena yang diteliti
atau mekanisme lain yang sesuai dengan desain penelitian.
Jika teori sulit dihubungkan dengan kerangka konseptual, hal tersebut merupakan sinyal bahwa teori tersebut mungkin bukan pilihan utama.
10. Pastikan Teori Utama Digunakan dalam Analisis
Teori utama tidak boleh berhenti di Bab II.
Ini merupakan salah satu kesalahan paling umum dalam disertasi.
Peneliti menjelaskan teori secara panjang, tetapi ketika masuk Bab IV atau Bab V, teori tersebut hampir tidak digunakan.
Akibatnya, terjadi ketidaksinambungan antara kajian teori dan analisis empiris.
Teori utama seharusnya membantu peneliti menginterpretasikan temuan.
Misalnya, jika teori menjelaskan tiga mekanisme utama, analisis dapat menunjukkan apakah mekanisme tersebut ditemukan dalam data, bagaimana bentuknya, apa variasinya, dan apakah terdapat temuan yang tidak dapat dijelaskan oleh teori.
Di sinilah hubungan antara teori dan data menjadi produktif.
11. Uji dengan Pertanyaan Sederhana: โMengapa Teori Ini?โ
Setelah menentukan teori utama, peneliti seharusnya mampu menjawab pertanyaan:
Mengapa teori ini dipilih sebagai teori utama, bukan teori lainnya?
Jawaban yang kuat tidak cukup berbunyi:
โTeori ini relevan dengan penelitian.โ
Argumentasi sebaiknya menjelaskan bahwa teori tersebut dipilih karena memiliki kemampuan tertentu dalam menjelaskan fenomena, menyediakan konsep yang diperlukan, sesuai dengan pertanyaan penelitian, dan memiliki ruang pengembangan yang dapat digunakan untuk membangun kontribusi penelitian.
Dengan kata lain, peneliti perlu menunjukkan alasan pemilihan, bukan hanya menyatakan pilihan.
12. Teori Utama Tidak Harus Berdiri Sendiri
Menentukan teori utama bukan berarti teori tersebut harus menjelaskan seluruh fenomena penelitian.
Penelitian yang kompleks dapat membutuhkan teori pendukung.
Misalnya:
Teori Utama
โ
Menjelaskan mekanisme inti
Teori Pendukung
โ
Menjelaskan konteks atau aspek tertentu
Konsep Kunci
โ
Membantu mengoperasionalkan dan menganalisis fenomena
Yang penting adalah terdapat pembagian fungsi yang jelas.
Teori pendukung tidak boleh membuat teori utama kehilangan posisi sentral.
13. Checklist Menentukan Teori Utama
Sebelum menetapkan teori utama, mahasiswa S3 dapat menggunakan checklist berikut:
- Teori sesuai dengan masalah penelitian.
- Teori relevan dengan pertanyaan penelitian.
- Teori memiliki daya jelaskan terhadap fenomena inti.
- Asumsi teori sesuai dengan pendekatan penelitian.
- Konsep utama teori dapat digunakan dalam analisis.
- Teori memiliki dukungan literatur yang memadai.
- Keterbatasan teori dapat diidentifikasi.
- Teori dapat dihubungkan dengan kerangka konseptual.
- Teori akan digunakan dalam pembahasan hasil.
- Pemilihan teori dapat dijelaskan secara argumentatif.
Jika sebagian besar pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan jelas, posisi teori utama biasanya sudah lebih terarah.
Kesimpulan
Menentukan teori utama dalam penelitian disertasi bukan sekadar memilih teori yang paling terkenal atau paling sering digunakan oleh penelitian terdahulu.
Prosesnya perlu dimulai dari:
masalah penelitian โ pertanyaan penelitian โ fenomena inti โ kandidat teori โ perbandingan daya jelaskan โ kesesuaian paradigma โ kerangka konseptual โ analisis โ kontribusi teoritis.
Teori utama harus memiliki posisi yang jelas sebagai fondasi penjelasan penelitian. Teori pendukung dapat digunakan untuk melengkapi aspek tertentu, sedangkan konsep membantu peneliti membangun kategori dan struktur analisis.
Pada akhirnya, kualitas pemilihan teori dapat dilihat dari kemampuan peneliti menjawab tiga pertanyaan sederhana:
Mengapa teori ini dipilih?
Bagaimana teori ini digunakan?
Apa yang dihasilkan penelitian terhadap teori tersebut?
Jika ketiganya dapat dijawab secara konsisten, teori tidak lagi menjadi bagian formal dalam Bab II, tetapi menjadi instrumen intelektual yang menggerakkan keseluruhan argumentasi disertasi.
Konsultasi Disertasi di Mitragama
Menentukan teori utama sering kali membutuhkan lebih dari sekadar mencari teori yang memiliki kata kunci yang sama dengan judul penelitian. Mahasiswa S3 perlu memetakan hubungan antara masalah penelitian, research gap, pertanyaan penelitian, teori kandidat, konsep, kerangka konseptual, dan arah kontribusi ilmiah.
Mitragama membantu proses tersebut secara sistematis agar pemilihan teori memiliki dasar argumentasi yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Pendampingan diarahkan agar mahasiswa tidak sekadar โmemiliki teoriโ, tetapi memahami mengapa teori tersebut menjadi teori utama dan bagaimana teori itu bekerja dalam keseluruhan arsitektur disertasi.


