Cara Memilih Teori Berdasarkan Research Question
Memilih teori berdasarkan research question merupakan salah satu cara paling efektif untuk membangun fondasi teoritis disertasi. Banyak mahasiswa S3 memulai kajian teori dengan mengumpulkan berbagai teori yang berkaitan dengan topik penelitian. Namun, pendekatan tersebut sering membuat Bab II menjadi terlalu panjang dan posisi teoritis penelitian tidak jelas.
Masalahnya bukan karena peneliti kekurangan teori, melainkan karena teori dipilih berdasarkan kesamaan tema, bukan berdasarkan kebutuhan untuk menjawab research question.
Dalam penelitian doktoral, hubungan antara research question, teori, metode, analisis, dan kontribusi ilmiah perlu dibangun secara konsisten. Research question menentukan apa yang ingin diketahui, sedangkan teori membantu peneliti menentukan bagaimana fenomena tersebut dapat dipahami dan dijelaskan.
Karena itu, pertanyaan yang perlu diajukan bukan:
โTeori apa yang populer dalam bidang penelitian saya?โ
melainkan:
โTeori apa yang paling membantu saya menjawab research question?โ
1. Mengapa Research Question Penting dalam Pemilihan Teori?
Research question merupakan pertanyaan inti yang mengarahkan penelitian.
Misalnya, topik penelitian adalah kolaborasi antarlembaga dalam pengelolaan lingkungan.
Topik tersebut dapat menghasilkan research question yang sangat berbeda:
Bagaimana kolaborasi berlangsung?
atau:
Faktor apa yang memengaruhi keberhasilan kolaborasi?
atau:
Mengapa kolaborasi menghasilkan hasil yang berbeda di berbagai daerah?
Ketiga pertanyaan tersebut memiliki fokus penjelasan yang berbeda.
Karena itu, teori yang relevan juga dapat berbeda.
Inilah alasan mengapa teori sebaiknya dipilih setelah peneliti memiliki kejelasan mengenai research question.
2. Identifikasi Kata Kunci dalam Research Question
Langkah pertama adalah membaca research question secara analitis.
Perhatikan kata-kata seperti:
- apa;
- bagaimana;
- mengapa;
- faktor apa;
- sejauh mana;
- bagaimana hubungan;
- bagaimana proses;
- dalam kondisi apa.
Kata-kata tersebut memberikan petunjuk mengenai jenis penjelasan yang dibutuhkan.
Contohnya:
โBagaimana proses pembentukan kolaborasi berlangsung?โ
menunjukkan kebutuhan untuk memahami proses dan mekanisme.
Sementara:
โFaktor apa yang memengaruhi efektivitas kolaborasi?โ
menunjukkan kebutuhan untuk mengidentifikasi faktor dan hubungan.
Sedangkan:
โMengapa efektivitas kolaborasi berbeda antarwilayah?โ
mengarah pada pencarian penjelasan mengenai mekanisme, kondisi, atau konteks yang menghasilkan perbedaan.
Dengan demikian, bentuk research question dapat menjadi filter awal dalam memilih teori.
3. Jika Research Question Bertanya โBagaimanaโ
Pertanyaan yang dimulai dengan โbagaimanaโ sering berorientasi pada proses, mekanisme, pengalaman, interaksi, atau perkembangan suatu fenomena.
Contoh:
Bagaimana pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta membangun kolaborasi dalam pengembangan energi terbarukan?
Dalam situasi tersebut, teori yang digunakan sebaiknya memiliki kemampuan untuk menjelaskan:
- interaksi antaraktor;
- proses pengambilan keputusan;
- pembentukan kepercayaan;
- negosiasi;
- deliberasi;
- distribusi kewenangan;
- atau mekanisme kolaborasi.
Namun, kata โbagaimanaโ tidak otomatis menentukan satu teori tertentu. Peneliti tetap perlu melihat apa yang sebenarnya ingin diketahui melalui pertanyaan tersebut.
4. Jika Research Question Bertanya โMengapaโ
Pertanyaan โmengapaโ biasanya membutuhkan penjelasan yang lebih mendalam mengenai mekanisme atau kondisi yang menghasilkan suatu fenomena.
Contoh:
Mengapa partisipasi masyarakat dalam suatu kebijakan menghasilkan tingkat pengaruh yang berbeda?
Peneliti dapat membutuhkan teori yang menjelaskan:
- kekuasaan;
- institusi;
- insentif;
- struktur;
- agensi;
- norma;
- atau mekanisme sosial.
Teori yang dipilih harus membantu menjelaskan mengapa hasil tertentu terjadi, bukan hanya mendeskripsikan bahwa hasil tersebut memang terjadi.
5. Jika Research Question Bertanya โFaktor Apaโ
Research question seperti:
Faktor apa yang memengaruhi keberhasilan transformasi organisasi?
memerlukan teori yang dapat membantu mengidentifikasi variabel, kondisi, kemampuan, mekanisme, atau hubungan yang relevan.
Pada penelitian kuantitatif, teori dapat menjadi dasar untuk membangun konstruk dan hubungan yang kemudian diuji secara empiris.
Pada penelitian kualitatif, teori dapat digunakan untuk membantu mengidentifikasi kategori analitis dan hubungan antarproses.
Karena itu, research question perlu dibaca bersama dengan desain penelitian.
6. Jika Research Question Bertanya โSejauh Manaโ
Pertanyaan seperti:
Sejauh mana implementasi kebijakan energi berkeadilan telah memenuhi prinsip partisipasi?
membutuhkan kejelasan mengenai kriteria atau dimensi yang digunakan untuk menilai fenomena.
Dalam konteks seperti ini, teori atau kerangka konseptual dapat membantu menentukan:
- dimensi;
- indikator;
- kriteria;
- atau standar analisis.
Namun, peneliti harus berhati-hati agar konsep teoritis tidak berubah menjadi daftar indikator tanpa argumentasi.
7. Jangan Memilih Teori Hanya Berdasarkan Variabel dalam Judul
Kesalahan umum adalah menganggap setiap kata dalam judul harus memiliki teori tersendiri.
Misalnya judul memuat:
kepemimpinan โ inovasi โ kinerja organisasi
Kemudian peneliti menggunakan teori kepemimpinan, teori inovasi, teori organisasi, teori sumber daya manusia, dan teori kinerja sekaligus.
Padahal, research question mungkin hanya ingin menjelaskan mekanisme bagaimana kepemimpinan mendorong inovasi organisasi.
Dalam situasi tersebut, peneliti perlu menentukan teori yang paling mampu menjelaskan hubungan inti tersebut.
Jadi:
judul penelitian โ daftar teori yang harus digunakan.
Research question memberikan fokus yang lebih tajam.
8. Cocokkan Research Question dengan Fungsi Teori
Setelah memahami research question, tentukan fungsi teori.
| Research Question | Kebutuhan Teoretis |
|---|---|
| Bagaimana proses X terjadi? | Teori proses/mekanisme |
| Mengapa X terjadi? | Teori penjelasan/kausal atau mekanistik |
| Faktor apa memengaruhi X? | Teori hubungan/kondisi |
| Bagaimana aktor berinteraksi? | Teori interaksi/kolaborasi |
| Bagaimana keputusan terbentuk? | Teori pengambilan keputusan/governance |
| Mengapa hasil berbeda? | Teori mekanisme dan konteks |
| Bagaimana X berubah? | Teori perubahan/dinamika |
| Bagaimana X dimaknai aktor? | Teori interpretatif/konstruktivis |
Tabel tersebut bukan aturan mutlak. Ia hanya membantu peneliti memulai proses pemilihan teori dari kebutuhan pertanyaan penelitian.
9. Periksa Apakah Teori Dapat Menghasilkan Jawaban
Setelah menemukan kandidat teori, lakukan uji sederhana.
Tanyakan:
Jika saya menggunakan teori ini, bagaimana teori tersebut membantu saya menjawab research question?
Misalnya research question:
Bagaimana proses kolaborasi terbentuk?
Jika teori hanya memberikan daftar faktor keberhasilan kolaborasi tetapi tidak menjelaskan proses pembentukan kolaborasi, berarti terdapat ketidaksesuaian.
Sebaliknya, teori yang menyediakan konsep mengenai interaksi, deliberasi, kepercayaan, negosiasi, atau pembentukan keputusan dapat memiliki relevansi yang lebih kuatโtergantung fokus penelitian.
10. Research Question dan Teori Harus Bertemu dalam Analisis
Hubungan teori dan research question tidak berhenti di Bab II.
Keduanya harus bertemu dalam analisis data.
Contohnya:
Research Question
โ
Bagaimana proses kolaborasi berlangsung?
Teori
โ
Konsep interaksi, kepercayaan, deliberasi, dan pembagian kewenangan
Data
โ
Wawancara, dokumen, observasi
Analisis
โ
Identifikasi pola dan mekanisme
Temuan
โ
Bagaimana kolaborasi benar-benar berlangsung
Pembahasan
โ
Perbandingan temuan dengan teori
Kontribusi
โ
Pengembangan atau pemurnian penjelasan teoritis
Jika alur tersebut tidak terbentuk, teori kemungkinan hanya menjadi bagian formal dari Bab II.
11. Bagaimana Jika Satu Research Question Membutuhkan Beberapa Teori?
Penelitian yang kompleks dapat membutuhkan lebih dari satu teori.
Namun, setiap teori harus memiliki fungsi yang berbeda dan dapat dijelaskan.
Misalnya:
Teori utama
โ menjelaskan mekanisme inti.
Teori pendukung
โ menjelaskan konteks kelembagaan.
Konsep tambahan
โ membantu menganalisis dimensi tertentu.
Dengan struktur tersebut, peneliti tetap memiliki pusat argumentasi.
Masalah muncul apabila beberapa teori digunakan secara bersamaan tetapi tidak ada hubungan yang jelas di antara mereka.
12. Gunakan Research Question sebagai โFilter Literaturโ
Mahasiswa S3 sering membaca terlalu banyak literatur karena merasa semua yang berkaitan dengan topik harus dimasukkan ke Bab II.
Research question dapat berfungsi sebagai filter.
Ketika menemukan artikel baru, tanyakan:
Apakah artikel ini membantu saya menjawab research question?
Jika ya, identifikasi fungsi artikel tersebut.
Apakah artikel:
- menjelaskan teori?
- memperkuat konsep?
- menunjukkan perdebatan?
- menunjukkan keterbatasan teori?
- memberikan bukti empiris?
- atau membantu menemukan research gap?
Jika tidak ada fungsi yang jelas, artikel tersebut mungkin tidak perlu mendapatkan ruang besar dalam kajian teori.
13. Hindari Memaksakan Research Question Agar Sesuai Teori
Kesalahan yang lebih serius terjadi ketika peneliti telah memilih teori, kemudian mengubah research question agar sesuai dengan teori tersebut.
Hal ini dapat membuat penelitian kehilangan orientasi terhadap masalah empiris.
Urutan yang lebih sehat adalah:
masalah penelitian โ research question โ kebutuhan penjelasan โ kandidat teori โ teori utama โ kerangka konseptual โ metode โ analisis.
Bukan:
teori yang disukai โ research question dipaksakan โ data disesuaikan.
Teori seharusnya membantu menjelaskan masalah, bukan membatasi pertanyaan penelitian secara tidak perlu.
14. Buat Matriks Research QuestionโTheory
Untuk disertasi yang memiliki beberapa research question, matriks berikut dapat membantu.
| Research Question | Fenomena yang Dijelaskan | Kandidat Teori | Fungsi Teori |
|---|---|---|---|
| RQ1 | Proses kolaborasi | Teori Kolaborasi | Menjelaskan mekanisme |
| RQ2 | Faktor efektivitas | Teori Kelembagaan | Menjelaskan kondisi institusional |
| RQ3 | Perubahan tata kelola | Teori Governance | Menjelaskan konfigurasi aktor |
Matriks tersebut membantu memastikan bahwa setiap teori memiliki hubungan yang jelas dengan pertanyaan penelitian.
Jika satu teori tidak berhubungan dengan RQ mana pun, peneliti perlu mempertanyakan mengapa teori tersebut berada dalam Bab II.
Kesimpulan
Memilih teori berdasarkan research question membantu mahasiswa S3 menghindari salah satu persoalan umum dalam disertasi: penggunaan teori yang terlalu banyak tetapi tidak memiliki fungsi yang jelas.
Prosesnya dapat dilakukan melalui alur:
Research Question โ kebutuhan penjelasan โ kandidat teori โ evaluasi relevansi โ teori utama โ teori pendukung โ kerangka konseptual โ analisis โ kontribusi.
Research question memberi tahu apa yang ingin diketahui, sedangkan teori membantu menjelaskan bagaimana fenomena tersebut dapat dipahami dan dijelaskan.
Karena itu, teori yang tepat bukan teori yang paling populer atau paling sering digunakan dalam penelitian sebelumnya. Teori yang tepat adalah teori yang memiliki kesesuaian substantif dengan pertanyaan penelitian dan mampu menjalankan fungsi analitis dalam keseluruhan proses penelitian.
Pada akhirnya, mahasiswa S3 sebaiknya mampu menjawab tiga pertanyaan:
Apa yang ingin saya ketahui?
Teori apa yang membantu saya menjawabnya?
Bagaimana teori tersebut akan digunakan untuk menganalisis data dan menghasilkan kontribusi ilmiah?
Jika hubungan ketiganya konsisten, pemilihan teori akan menjadi lebih terarah dan Bab II tidak mudah berkembang menjadi kumpulan teori yang panjang tanpa pusat argumentasi.
Konsultasi Disertasi di Mitragama
Kesulitan memilih teori sering berawal dari research question yang belum benar-benar terhubung dengan kebutuhan teoritis penelitian. Mitragama membantu mahasiswa S3 memetakan hubungan antara research problem, research question, research gap, teori utama, teori pendukung, konsep, kerangka konseptual, metode, dan analisis.
Pendampingan dilakukan agar teori yang digunakan bukan sekadar relevan secara tema, tetapi memiliki fungsi yang jelas dalam menjawab research question dan membangun kontribusi ilmiah disertasi.
Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya mengetahui teori apa yang digunakan, tetapi juga mampu menjelaskan secara akademik mengapa teori tersebut dipilih dan bagaimana teori tersebut bekerja dalam penelitian.


