Mengapa Teori yang Populer Belum Tentu Tepat untuk Disertasi?

Dalam penyusunan disertasi, mahasiswa S3 sering mencari teori yang paling banyak digunakan oleh penelitian terdahulu. Teori yang memiliki banyak publikasi, jumlah sitasi tinggi, atau sering muncul dalam jurnal internasional dianggap sebagai pilihan yang aman.

Popularitas memang dapat menjadi salah satu petunjuk awal ketika mencari teori. Namun, teori yang populer belum tentu merupakan teori yang paling tepat untuk sebuah disertasi.

Disertasi tidak membutuhkan teori hanya karena teori tersebut terkenal. Peneliti membutuhkan teori yang mampu menjelaskan masalah penelitian, research question, fenomena, konteks, dan kebutuhan analisis.

Karena itu, salah satu kemampuan penting pada tingkat doktoral adalah membedakan antara popularitas teori dan relevansi teoritis.

1. Apa yang Dimaksud dengan Teori Populer?

Teori dapat disebut populer apabila banyak digunakan, sering dikutip, menjadi rujukan dalam bidang tertentu, atau memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan literatur.

Popularitas dapat memberikan beberapa manfaat. Teori yang banyak digunakan biasanya memiliki:

  • literatur yang relatif luas;
  • banyak penelitian terdahulu;
  • diskusi akademik yang berkembang;
  • berbagai aplikasi empiris;
  • serta kritik dan pengembangan yang terdokumentasi.

Namun, semua keunggulan tersebut tidak otomatis berarti teori tersebut sesuai dengan penelitian tertentu.

Popularitas menunjukkan seberapa luas teori digunakan, bukan seberapa sesuai teori tersebut dengan setiap penelitian.

2. Popularitas Tidak Sama dengan Relevansi

Bayangkan seorang peneliti ingin mengkaji bagaimana komunitas lokal berpartisipasi dalam pengambilan keputusan pembangunan.

Ia menemukan sebuah teori yang sangat populer dalam studi manajemen organisasi. Literatur tentang teori tersebut sangat banyak dan jumlah sitasinya tinggi.

Namun, teori tersebut mungkin tidak memberikan penjelasan yang memadai mengenai:

  • distribusi kekuasaan;
  • partisipasi masyarakat;
  • proses deliberasi;
  • hubungan antaraktor;
  • atau pengambilan keputusan publik.

Dalam situasi tersebut, popularitas teori tidak menyelesaikan persoalan teoritis penelitian.

Pertanyaan yang lebih tepat adalah:

Apa yang dapat dijelaskan teori ini terhadap fenomena yang sedang saya teliti?

3. Teori Harus Sesuai dengan Research Question

Salah satu cara paling kuat untuk menguji teori adalah menghubungkannya dengan research question.

Misalnya research question berbunyi:

Bagaimana proses terbentuknya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat?

Maka teori yang dipilih harus dapat membantu menjelaskan proses tersebut.

Sebaliknya, jika research question berbunyi:

Faktor apa yang memengaruhi efektivitas organisasi?

maka teori yang dibutuhkan mungkin berfokus pada hubungan antara kemampuan, sumber daya, lingkungan, atau kondisi tertentu.

Dengan demikian, teori seharusnya mengikuti kebutuhan research question, bukan sebaliknya.

4. Teori yang Populer Bisa Terlalu Umum

Salah satu persoalan teori populer adalah cakupannya yang sangat luas.

Teori yang dirancang untuk menjelaskan fenomena pada tingkat makro mungkin kurang memberikan detail ketika penelitian berfokus pada mekanisme mikro.

Sebaliknya, teori yang berfokus pada perilaku individu belum tentu cukup untuk menjelaskan perubahan pada tingkat institusi.

Karena itu, peneliti harus mempertimbangkan:

  • tingkat analisis;
  • unit analisis;
  • mekanisme yang ingin dijelaskan;
  • serta cakupan teori.

Teori yang terlalu umum dapat membuat kerangka teoritis disertasi menjadi abstrak tetapi kurang operasional.

5. Teori Populer Belum Tentu Sesuai dengan Paradigma Penelitian

Teori memiliki asumsi mengenai realitas dan cara pengetahuan diperoleh.

Karena itu, teori perlu dipertimbangkan bersama paradigma penelitian.

Penelitian yang berorientasi positivistik, interpretatif, kritis, pragmatis, atau paradigma lainnya dapat memiliki kebutuhan teoritis yang berbeda.

Misalnya, penelitian yang ingin memahami pengalaman dan makna yang dibangun aktor mungkin membutuhkan perspektif yang berbeda dari penelitian yang ingin menguji hubungan antarvariabel.

Jika teori dan paradigma tidak konsisten, penelitian dapat mengalami masalah dalam:

  • menentukan data;
  • membangun kategori;
  • melakukan analisis;
  • dan menarik kesimpulan.

Karena itu, popularitas teori tidak dapat menggantikan kesesuaian filosofis dan metodologis.

6. Teori Populer Mungkin Tidak Sesuai dengan Konteks

Banyak teori dikembangkan berdasarkan penelitian pada konteks tertentu.

Konteks tersebut dapat berupa:

  • negara;
  • sektor industri;
  • jenis organisasi;
  • sistem kelembagaan;
  • budaya;
  • wilayah;
  • atau periode tertentu.

Bukan berarti teori tersebut hanya boleh digunakan dalam konteks asalnya. Teori dapat diterapkan pada konteks lain.

Namun, peneliti harus menjelaskan mengapa teori tersebut tetap relevan dan bagaimana konteks baru dapat memengaruhi penerapannya.

Perbedaan konteks bahkan dapat menjadi sumber kontribusi teoritis apabila penelitian menemukan variasi mekanisme atau kondisi yang belum banyak dijelaskan oleh literatur.

7. Banyak Sitasi Tidak Menjamin Daya Jelaskan

Jumlah sitasi sering digunakan sebagai indikator awal untuk menemukan literatur penting.

Tetapi sitasi bukan ukuran tunggal untuk menentukan apakah teori tepat digunakan.

Sebuah teori dapat memiliki jutaan pembaca tetapi hanya memberikan penjelasan yang terbatas terhadap masalah penelitian tertentu.

Karena itu, mahasiswa S3 perlu membaca teori bukan hanya dari berapa banyak orang yang menggunakannya, tetapi dari:

  • konsep utamanya;
  • proposisi atau hubungan yang ditawarkan;
  • asumsi dasarnya;
  • mekanisme penjelasan;
  • batas penerapan;
  • dan kritik terhadap teori.

Pertanyaan tersebut jauh lebih relevan daripada sekadar menghitung jumlah sitasi.

8. Teori yang Terlalu Sering Digunakan Dapat Membuat Kontribusi Kurang Jelas

Menggunakan teori yang populer bukanlah masalah. Persoalan muncul jika penelitian hanya menerapkan teori secara rutin tanpa menunjukkan apa yang baru.

Misalnya, penelitian menggunakan teori X pada konteks Y hanya untuk menunjukkan bahwa temuan di Y sesuai dengan teori X.

Secara akademik, hal tersebut mungkin berguna. Namun, untuk disertasi doktoral, peneliti perlu mempertimbangkan apakah penelitian juga:

  • menguji batas teori;
  • menemukan mekanisme baru;
  • memperluas konsep;
  • mengembangkan model;
  • menemukan kondisi tertentu;
  • atau menghasilkan penjelasan baru.

Teori populer tetap dapat digunakan, tetapi kontribusi penelitian perlu dirumuskan secara jelas.

9. Jangan Menghindari Teori Populer Hanya Karena Populer

Kebalikan dari kesalahan memilih teori karena populer adalah sengaja menghindari teori populer agar penelitian terlihat โ€œbaruโ€.

Ini juga bukan strategi yang tepat.

Kebaruan penelitian tidak ditentukan oleh apakah teori yang digunakan populer atau tidak.

Teori yang mapan dapat menjadi fondasi yang sangat kuat untuk menghasilkan kontribusi baru jika peneliti menemukan:

  • keterbatasan penerapan;
  • konteks baru;
  • mekanisme baru;
  • hubungan yang belum dijelaskan;
  • atau pengembangan konseptual.

Dengan demikian, yang penting bukan baru atau populer, tetapi fungsi dan posisi teori dalam argumentasi penelitian.

10. Evaluasi Teori dengan โ€œTheory Fitโ€

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah menilai theory fit, yaitu kesesuaian teori dengan penelitian.

Beberapa aspek yang dapat diperiksa adalah:

AspekPertanyaan
Masalah penelitianApakah teori menjelaskan masalah utama?
Research questionApakah teori membantu menjawab RQ?
FenomenaApakah konsep teori sesuai dengan fenomena?
ParadigmaApakah asumsi teori konsisten dengan paradigma?
Unit analisisPada tingkat apa teori bekerja?
KonteksApakah teori dapat diterapkan pada konteks penelitian?
DataApakah teori dapat digunakan untuk membaca data?
KontribusiApakah penelitian dapat menghasilkan pengembangan atau pemurnian penjelasan?

Matriks ini membantu peneliti mengubah proses pemilihan teori menjadi evaluasi yang lebih sistematis.

11. Periksa Keterbatasan Teori

Teori yang relevan bukan teori yang sempurna.

Justru peneliti perlu mengetahui apa yang tidak dapat dijelaskan teori tersebut.

Misalnya, teori utama mampu menjelaskan proses internal organisasi tetapi kurang menjelaskan pengaruh lingkungan kelembagaan.

Keterbatasan tersebut dapat menjadi alasan untuk menggunakan teori pendukung.

Dengan demikian:

teori utama โ†’ menjelaskan mekanisme inti

teori pendukung โ†’ menjelaskan aspek yang belum tercakup

konsep tambahan โ†’ memperjelas objek analisis

Struktur seperti ini lebih kuat daripada memasukkan banyak teori tanpa pembagian fungsi.

12. Gunakan Literatur Terbaru untuk Menguji Posisi Teori

Teori klasik tetap penting, tetapi mahasiswa S3 perlu melihat bagaimana teori tersebut berkembang dalam penelitian terbaru.

Cari artikel yang membahas:

  • perkembangan teori;
  • kritik terhadap teori;
  • aplikasi terbaru;
  • modifikasi konsep;
  • keterbatasan;
  • dan arah penelitian berikutnya.

Dengan cara ini, peneliti dapat mengetahui apakah teori yang dipilih masih menjadi perspektif yang relevan dalam perdebatan ilmiah.

Yang dicari bukan sekadar teori yang paling sering dikutip, tetapi posisi teori dalam perkembangan pengetahuan saat ini.

13. Lima Pertanyaan Sebelum Memilih Teori Populer

Sebelum memasukkan teori populer ke dalam disertasi, ajukan lima pertanyaan:

1. Apa yang sebenarnya dijelaskan teori ini?

Jangan hanya mengetahui nama dan definisinya.

2. Apa hubungannya dengan research question?

Hubungan harus dapat dijelaskan secara logis.

3. Apakah konsep teori muncul dalam fenomena penelitian?

Jika tidak, relevansinya perlu ditinjau.

4. Apa keterbatasan teori?

Jawaban ini dapat membantu membangun research gap.

5. Apa yang dapat diberikan penelitian terhadap teori tersebut?

Inilah pertanyaan yang berkaitan dengan kontribusi teoritis.

Jika kelima pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan baik, teori populer dapat menjadi fondasi yang kuat. Sebaliknya, jika jawabannya lemah, popularitas teori bukan alasan yang cukup untuk menggunakannya.

Kesimpulan

Teori yang populer belum tentu tepat untuk disertasi karena popularitas dan relevansi merupakan dua hal yang berbeda.

Popularitas dapat membantu peneliti menemukan literatur penting, memahami perkembangan bidang, dan memetakan perdebatan akademik. Namun, keputusan akhir harus didasarkan pada kesesuaian teori dengan:

masalah penelitian โ†’ research question โ†’ fenomena โ†’ konsep โ†’ paradigma โ†’ unit analisis โ†’ konteks โ†’ data โ†’ analisis โ†’ kontribusi.

Mahasiswa S3 tidak perlu memilih teori hanya karena teori tersebut paling banyak dikutip. Sebaliknya, teori yang populer juga tidak perlu dihindari hanya demi terlihat berbeda.

Yang paling penting adalah kemampuan memberikan argumentasi akademik mengenai alasan pemilihan teori.

Pertanyaan utamanya adalah:

โ€œMengapa teori ini paling relevan untuk kebutuhan penjelasan penelitian saya?โ€

Jika peneliti dapat menjawab pertanyaan tersebut secara konsisten dan menunjukkan bagaimana teori digunakan dalam analisis, maka pilihan teori memiliki fondasi akademik yang lebih kuat.

Pada akhirnya, teori bukan dipilih untuk memperindah Bab II, tetapi untuk membantu penelitian menghasilkan penjelasan ilmiah yang lebih kuat.

Konsultasi Disertasi di Mitragama

Mahasiswa S3 sering memiliki banyak pilihan teori karena membaca semakin banyak jurnal. Tantangannya kemudian bukan lagi mencari teori, melainkan menentukan teori mana yang benar-benar memiliki theory fit dengan penelitian.

Mitragama membantu mahasiswa memetakan hubungan antara research problem, research question, research gap, teori utama, teori pendukung, konsep, paradigma, konteks, dan kontribusi teoritis.

Pendampingan diarahkan agar pemilihan teori tidak didasarkan semata-mata pada popularitas atau jumlah sitasi, tetapi pada relevansi, daya jelaskan, konsistensi argumentasi, dan fungsi teori dalam keseluruhan arsitektur disertasi.

Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya mampu menjawab โ€œteori apa yang digunakan?โ€, tetapi juga mampu mempertanggungjawabkan secara akademik โ€œmengapa teori tersebut dipilih dan apa yang dilakukan penelitian terhadap teori tersebut?โ€

error: Content is protected !!