Berapa Banyak Teori yang Dibutuhkan dalam Sebuah Disertasi?
Salah satu pertanyaan yang sering muncul ketika menyusun disertasi adalah: berapa banyak teori yang harus digunakan?
Sebagian mahasiswa merasa disertasinya belum cukup kuat jika hanya menggunakan satu teori. Akibatnya, berbagai teori dimasukkan ke dalam Bab II dengan harapan landasan teorinya terlihat semakin komprehensif. Sebaliknya, ada pula mahasiswa yang hanya menggunakan satu teori karena khawatir penggunaan beberapa teori akan membuat penelitian terlalu rumit.
Tidak ada angka universal yang menentukan bahwa sebuah disertasi harus menggunakan dua, tiga, lima, atau sepuluh teori.
Yang lebih penting adalah fungsi teoritis setiap teori dan kontribusinya terhadap kemampuan penelitian menjawab research question.
Disertasi bukan kompetisi jumlah teori. Disertasi adalah proses membangun argumentasi ilmiah yang koheren.
1. Tidak Ada Jumlah Teori yang Wajib untuk Semua Disertasi
Jumlah teori yang dibutuhkan sangat bergantung pada karakter penelitian.
Penelitian dengan satu persoalan utama dan research question yang relatif spesifik mungkin dapat dibangun dengan satu teori utama yang kuat.
Sebaliknya, penelitian yang memiliki beberapa dimensi fenomena dapat membutuhkan teori pendukung untuk menjelaskan aspek tertentu yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh teori utama.
Karena itu, pertanyaan:
โBerapa teori yang harus saya gunakan?โ
sebaiknya diubah menjadi:
โBerapa perspektif teoritis yang benar-benar diperlukan untuk menjelaskan persoalan penelitian saya?โ
Perubahan pertanyaan tersebut sangat penting karena menggeser perhatian dari kuantitas teori menuju fungsi teori.
2. Teori Utama Tidak Sama dengan Banyaknya Teori
Dalam sebuah disertasi, peneliti perlu membedakan antara teori utama, teori pendukung, dan konsep.
Teori utama merupakan fondasi teoritis yang paling penting untuk menjawab persoalan inti penelitian.
Teori pendukung digunakan ketika terdapat aspek tertentu yang membutuhkan penjelasan tambahan.
Sementara konsep merupakan gagasan analitis yang membantu peneliti mengidentifikasi atau mengoperasionalkan fenomena tertentu.
Misalnya, sebuah penelitian memiliki teori utama tentang collaborative governance. Peneliti kemudian menggunakan konsep kepercayaan, deliberasi, partisipasi, dan power sharing.
Tidak berarti seluruh konsep tersebut harus dianggap sebagai teori tersendiri.
Kesalahan dalam membedakan ketiganya dapat membuat Bab II terlihat sangat panjang tetapi secara teoritis justru tidak jelas.
3. Satu Teori Bisa Lebih Kuat daripada Banyak Teori
Mahasiswa S3 terkadang menganggap semakin banyak teori, semakin kuat disertasinya.
Padahal, kekuatan landasan teori tidak ditentukan oleh jumlah teori yang dikutip.
Sebuah teori dapat menjadi sangat kuat jika:
- relevan dengan research problem;
- sesuai dengan research question;
- memiliki daya jelaskan;
- konsisten dengan paradigma;
- sesuai dengan konteks penelitian;
- dapat digunakan dalam analisis;
- dan memungkinkan peneliti membangun kontribusi teoritis.
Sebaliknya, lima teori yang tidak memiliki hubungan yang jelas justru dapat menghasilkan fragmentasi argumentasi.
Disertasi akhirnya berubah menjadi kumpulan ringkasan teori, bukan argumentasi teoritis yang terintegrasi.
4. Kapan Satu Teori Sudah Cukup?
Satu teori dapat cukup apabila teori tersebut mampu menjelaskan fenomena utama yang diteliti secara memadai.
Indikasinya dapat dilihat dari beberapa pertanyaan.
Pertama, apakah teori tersebut mampu menjawab research question?
Kedua, apakah konsep-konsep utama dalam teori sesuai dengan fenomena yang diteliti?
Ketiga, apakah teori dapat digunakan secara nyata dalam analisis?
Keempat, apakah keterbatasan teori masih dapat ditangani dalam konteks penelitian?
Kelima, apakah penggunaan teori tersebut memungkinkan munculnya kontribusi ilmiah?
Jika jawabannya sebagian besar positif, menambahkan teori lain hanya demi memperbanyak referensi mungkin tidak diperlukan.
Justru kemampuan menggunakan satu teori secara mendalam dapat menghasilkan analisis yang lebih tajam.
5. Kapan Teori Pendukung Dibutuhkan?
Teori pendukung dibutuhkan ketika teori utama memiliki ruang penjelasan yang terbatas terhadap aspek tertentu dari penelitian.
Misalnya, penelitian utama membahas hubungan antarorganisasi melalui teori governance.
Namun penelitian juga ingin menjelaskan dimensi kelembagaan yang berkaitan dengan aturan formal, norma, dan struktur organisasi.
Dalam kondisi tersebut, teori kelembagaan dapat digunakan sebagai perspektif pendukung.
Namun hubungan tersebut harus dijelaskan.
Bukan:
Teori A + Teori B + Teori C
melainkan:
Teori A menjelaskan X, tetapi tidak cukup menjelaskan Y. Karena itu, Teori B digunakan untuk menjelaskan Y.
Inilah yang disebut argumentasi pemilihan teori.
6. Jangan Menambahkan Teori Hanya karena Ada Variabel atau Konsep Baru
Kesalahan lain yang sering terjadi adalah menganggap setiap variabel membutuhkan satu teori.
Misalnya penelitian memiliki lima variabel, kemudian mahasiswa mencari lima teori yang berbeda.
Logika tersebut belum tentu tepat.
Satu teori dapat menjelaskan beberapa konstruk yang saling berkaitan. Sebaliknya, satu konstruk tertentu juga dapat membutuhkan teori tambahan apabila memiliki kompleksitas konseptual yang tinggi.
Karena itu, hubungan antara variabel dan teori tidak selalu bersifat:
1 variabel = 1 teori.
Yang lebih penting adalah:
1 persoalan penjelasan = perspektif teoritis yang memadai.
7. Terlalu Banyak Teori Dapat Menimbulkan Masalah
Penggunaan terlalu banyak teori memiliki beberapa risiko.
Pertama, Bab II menjadi terlalu deskriptif
Mahasiswa akhirnya menjelaskan teori satu per satu tanpa membangun hubungan antarteori.
Kedua, fokus penelitian menjadi kabur
Semakin banyak perspektif yang digunakan tanpa arsitektur yang jelas, semakin sulit menentukan perspektif mana yang sebenarnya menjadi dasar analisis.
Ketiga, analisis menjadi tidak konsisten
Teori yang dibahas dalam Bab II tetapi tidak digunakan dalam Bab IV atau Bab V akan menjadi beban teoritis.
Keempat, kontribusi penelitian menjadi tidak jelas
Jika terlalu banyak teori digunakan, peneliti dapat kesulitan menentukan teori mana yang sebenarnya dikembangkan atau dikritisi.
Kelima, disertasi menjadi panjang tanpa semakin tajam
Panjang tulisan tidak identik dengan kedalaman argumentasi.
8. Teori Harus Dibawa Sampai ke Tahap Analisis
Salah satu cara menentukan apakah teori benar-benar dibutuhkan adalah melihat penggunaannya dalam analisis.
Tanyakan:
โDi bagian mana teori ini akan digunakan untuk membaca data?โ
Jika jawabannya tidak jelas, teori tersebut perlu dipertanyakan kembali.
Teori seharusnya memiliki jejak yang dapat ditelusuri:
Teori โ konsep โ indikator/kategori analisis โ data โ interpretasi โ temuan โ kontribusi.
Dalam penelitian kualitatif, misalnya, konsep teoritis dapat membantu membangun kategori analisis.
Dalam penelitian kuantitatif, teori dapat menjadi dasar hubungan antarkonstruk dan hipotesis.
Dengan demikian, teori bukan sekadar materi yang harus โadaโ dalam Bab II.
9. Gunakan Prinsip โTheory Sufficiencyโ
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah theory sufficiency, yaitu menilai apakah landasan teoritis yang tersedia sudah cukup untuk menjelaskan keseluruhan persoalan penelitian.
Bukan:
โApakah saya sudah punya banyak teori?โ
tetapi:
โApakah masih ada bagian penting dari research question yang belum dapat dijelaskan?โ
Jika semua aspek utama telah memiliki penjelasan teoritis yang memadai, penambahan teori baru perlu dipertimbangkan secara kritis.
Prinsip ini membantu mencegah theoretical inflation, yaitu kecenderungan menambahkan teori secara berlebihan tanpa meningkatkan kemampuan penjelasan penelitian.
10. Buat Peta Fungsi Teori
Mahasiswa dapat membuat tabel sederhana sebelum menetapkan teori:
| Teori | Fungsi | Research Question | Digunakan dalam Analisis? |
|---|---|---|---|
| Teori Utama | Menjelaskan persoalan inti | RQ1 | Ya |
| Teori Pendukung 1 | Menjelaskan aspek kelembagaan | RQ2 | Ya |
| Teori Pendukung 2 | Menjelaskan aspek tertentu | RQ3 | Ya/Tidak |
| Konsep | Kategori analisis | RQ1โRQ3 | Ya |
Jika sebuah teori tidak memiliki fungsi yang jelas, keberadaannya perlu dievaluasi.
Tabel tersebut juga dapat membantu mahasiswa menjelaskan kepada promotor mengapa teori tertentu dipilih dan teori lainnya tidak digunakan.
11. Bagaimana Jika Promotor Meminta Tambahan Teori?
Dalam proses bimbingan, mahasiswa mungkin mendapatkan masukan:
โTambahkan teori.โ
Respons yang tepat bukan langsung memasukkan teori baru ke dalam Bab II.
Pertama, pahami alasan penambahannya.
Apakah terdapat fenomena yang belum terjelaskan?
Apakah terdapat konsep yang belum memiliki dasar teoritis?
Apakah teori utama memiliki keterbatasan?
Apakah research question berkembang?
Atau apakah yang dimaksud sebenarnya bukan teori baru, tetapi literatur empiris, konsep, atau perspektif pendukung?
Pertanyaan tersebut penting karena โtambahkan teoriโ tidak selalu berarti penelitian membutuhkan teori baru.
12. Berapa Jumlah yang Ideal?
Tidak ada angka ideal yang berlaku untuk seluruh disertasi.
Sebagai prinsip praktis, struktur dapat dibuat mulai dari:
1 teori utama
kemudian ditambah teori pendukung hanya jika diperlukan.
Dengan demikian, sebuah disertasi dapat memiliki satu teori utama dengan beberapa konsep pendukung, atau satu teori utama dengan satu atau dua teori tambahan yang memiliki fungsi spesifik.
Yang harus dihindari adalah menambah teori hanya agar Bab II terlihat lebih akademik.
Kualitas integrasi teoritis lebih penting daripada kuantitas teori.
Kesimpulan
Pertanyaan โberapa banyak teori yang dibutuhkan dalam sebuah disertasi?โ tidak dapat dijawab dengan angka tunggal.
Jumlah teori bergantung pada kompleksitas persoalan penelitian, research question, paradigma, konteks, dan kebutuhan analisis.
Satu teori dapat cukup apabila mampu menjelaskan persoalan utama secara memadai. Teori pendukung diperlukan apabila terdapat aspek penting yang tidak dapat dijelaskan secara memadai oleh teori utama.
Karena itu, prinsip yang sebaiknya digunakan mahasiswa S3 adalah:
Gunakan teori sebanyak yang diperlukan untuk membangun penjelasan, tetapi sesedikit mungkin untuk menjaga fokus argumentasi.
Disertasi yang kuat bukan disertasi yang memiliki teori paling banyak. Disertasi yang kuat adalah disertasi yang mampu menunjukkan mengapa teori dipilih, apa fungsi setiap teori, bagaimana teori digunakan dalam analisis, dan kontribusi apa yang dihasilkan dari penggunaan teori tersebut.
Konsultasi Disertasi di Mitragama
Persoalan landasan teori sering kali bukan kekurangan referensi, melainkan terlalu banyak teori yang belum memiliki fungsi yang jelas.
Mitragama membantu mahasiswa S3 memetakan kebutuhan teoritis penelitian secara sistematis: mulai dari research problem, research question, paradigma, teori utama, teori pendukung, konsep, kerangka konseptual, hingga hubungan teori dengan analisis dan kontribusi disertasi.
Pendampingan diarahkan agar Bab II tidak sekadar panjang dan penuh kutipan, tetapi memiliki arsitektur teoritis yang tajam, koheren, dan siap dipertanggungjawabkan secara akademik.


