Bagaimana Menentukan Teori yang Paling Mampu Menjelaskan Masalah Penelitian?

Memilih teori untuk disertasi bukan sekadar mencari teori yang memiliki hubungan dengan topik penelitian. Mahasiswa S3 sering menemukan beberapa teori yang tampaknya sama-sama relevan. Semuanya membahas fenomena yang serupa, memiliki banyak penelitian pendukung, dan sering digunakan dalam bidang yang sama.

Persoalannya kemudian menjadi:

Bagaimana menentukan teori yang paling mampu menjelaskan masalah penelitian?

Pertanyaan ini jauh lebih penting daripada sekadar bertanya teori mana yang paling populer atau paling banyak dikutip.

Dalam penelitian doktoral, teori seharusnya memiliki daya jelaskan (explanatory power) yang memadai. Artinya, teori tidak hanya membantu peneliti mendeskripsikan fenomena, tetapi juga membantu menjawab pertanyaan yang lebih mendasar:

Mengapa fenomena tersebut terjadi, bagaimana prosesnya berlangsung, dan dalam kondisi seperti apa fenomena tersebut dapat terjadi?

Karena itu, pemilihan teori perlu dilakukan melalui proses argumentatif dan sistematis.

1. Mulai dari Masalah, Bukan dari Teori

Kesalahan yang sering terjadi adalah mahasiswa sudah menemukan teori yang menarik, kemudian mencari masalah penelitian yang dapat โ€œdipasangkanโ€ dengan teori tersebut.

Urutan yang lebih tepat adalah sebaliknya.

Mulailah dengan:

fenomena โ†’ masalah penelitian โ†’ research gap โ†’ research question โ†’ kebutuhan penjelasan โ†’ teori.

Masalah penelitian menentukan jenis penjelasan yang dibutuhkan.

Jika masalahnya adalah ketidaksesuaian antara kebijakan dan implementasi, misalnya, teori yang dibutuhkan mungkin harus mampu menjelaskan mekanisme institusional, perilaku aktor, struktur kekuasaan, atau proses implementasi.

Dengan demikian, teori dipilih karena kemampuan menjelaskan masalah, bukan karena sekadar memiliki nama yang mirip dengan topik penelitian.

2. Bedakan Deskripsi dan Penjelasan

Sebuah teori dapat membantu mendeskripsikan fenomena tanpa benar-benar menjelaskannya.

Misalnya penelitian menemukan bahwa partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan rendah.

Pernyataan:

โ€œPartisipasi masyarakat rendah.โ€

merupakan deskripsi.

Pertanyaan teoritis berikutnya adalah:

Mengapa partisipasi rendah?

Apakah karena:

  • informasi tidak tersedia;
  • kewenangan tetap terpusat;
  • institusi tidak menyediakan ruang deliberasi;
  • terdapat ketimpangan sumber daya;
  • kepentingan tertentu lebih dominan;
  • atau terdapat persoalan dalam desain kelembagaan?

Teori yang memiliki daya jelaskan harus membantu peneliti bergerak dari โ€œapa yang terjadiโ€ menuju โ€œmengapa dan bagaimana hal itu terjadi.โ€

3. Identifikasi Pertanyaan Penjelasan Utama

Sebelum memilih teori, tuliskan masalah penelitian dalam bentuk pertanyaan penjelasan.

Misalnya:

Mengapa kolaborasi antaraktor tidak menghasilkan keputusan bersama?

Dari pertanyaan tersebut dapat diidentifikasi beberapa kebutuhan teoritis:

Apa yang terjadi?
Proses kolaborasi.

Mengapa terjadi?
Kemungkinan adanya faktor kelembagaan, kepentingan, atau kekuasaan.

Bagaimana prosesnya?
Negosiasi, deliberasi, interaksi, dan pengambilan keputusan.

Dalam kondisi apa?
Konteks kelembagaan dan politik tertentu.

Teori yang dipilih harus mampu menjawab bagian yang memang menjadi fokus penelitian.

4. Uji Kemampuan Teori Menjawab โ€œMengapa?โ€

Salah satu tes sederhana untuk menguji explanatory power adalah pertanyaan:

โ€œApakah teori ini membantu saya menjelaskan mengapa masalah tersebut terjadi?โ€

Jika teori hanya memberikan definisi mengenai fenomena, daya jelaskannya mungkin terbatas.

Misalnya teori menjelaskan apa yang dimaksud dengan โ€œpartisipasiโ€, tetapi tidak menjelaskan mengapa partisipasi menjadi tokenistik.

Peneliti kemudian perlu mencari apakah teori tersebut memiliki konsep atau mekanisme yang dapat menjelaskan persoalan tersebut.

Teori yang lebih berguna adalah teori yang dapat menghubungkan kondisi, mekanisme, proses, dan konsekuensi sesuai kebutuhan penelitian.

5. Uji Kemampuan Teori Menjawab โ€œBagaimana?โ€

Tidak semua masalah penelitian terutama membutuhkan penjelasan sebab-akibat.

Dalam penelitian tertentu, pertanyaan utama justru:

Bagaimana fenomena terbentuk atau berlangsung?

Misalnya:

Bagaimana hubungan pemerintah dan masyarakat sipil berkembang dari konsultasi menuju co-decision making?

Dalam kondisi tersebut, teori perlu memiliki perangkat konseptual untuk membaca proses, interaksi, negosiasi, pembentukan makna, perubahan hubungan, atau distribusi kewenangan.

Jadi, explanatory power harus disesuaikan dengan jenis research question.

6. Periksa Mekanisme yang Ditawarkan Teori

Teori yang kuat untuk penelitian tertentu biasanya tidak hanya menyatakan bahwa dua hal berhubungan.

Teori juga dapat memberikan gambaran mengenai mekanisme yang menjelaskan hubungan tersebut.

Contohnya:

Kondisi A โ†’ mekanisme B โ†’ proses C โ†’ hasil D

Mekanisme tersebut membantu peneliti menjelaskan bagaimana suatu kondisi menghasilkan konsekuensi tertentu.

Dalam penelitian kualitatif, mekanisme dapat ditelusuri melalui proses dan interaksi aktor.

Dalam penelitian kuantitatif, mekanisme dapat diterjemahkan ke dalam hubungan antarkonstruk yang dapat diuji.

Pertanyaan pentingnya:

โ€œApa yang sebenarnya dijelaskan teori ini di antara kondisi awal dan hasil penelitian?โ€

7. Perhatikan Unit Analisis

Teori harus memiliki kesesuaian dengan unit analisis penelitian.

Sebuah teori mungkin sangat kuat untuk menjelaskan perilaku individu, tetapi belum tentu tepat untuk menjelaskan perubahan institusi.

Sebaliknya, teori kelembagaan mungkin lebih sesuai untuk menjelaskan aturan dan struktur, tetapi belum tentu cukup untuk menjelaskan pengalaman individual.

Karena itu, tanyakan:

Apakah teori ini dirancang untuk menjelaskan individu, kelompok, organisasi, jaringan, institusi, kebijakan, atau sistem?

Ketidaksesuaian unit analisis dapat membuat teori terlihat relevan secara umum tetapi lemah ketika digunakan dalam analisis empiris.

8. Periksa Tingkat Analisis

Selain unit analisis, perhatikan level of analysis.

Fenomena tertentu dapat terjadi pada beberapa tingkatan:

mikro โ†’ meso โ†’ makro

Misalnya keputusan individu berada pada level mikro, dinamika organisasi pada level meso, sedangkan struktur kebijakan dan institusi berada pada level makro.

Jika masalah penelitian berada pada level makro tetapi teori yang digunakan hanya menjelaskan perilaku individu, akan muncul kesenjangan penjelasan.

Teori yang dipilih harus dapat menjangkau level tempat masalah penelitian berlangsung.

9. Perhatikan Asumsi Teori

Dua teori dapat membahas fenomena yang sama tetapi memiliki asumsi yang berbeda.

Satu teori mungkin melihat aktor sebagai individu rasional yang mengejar kepentingan.

Teori lain mungkin menekankan norma, institusi, identitas, atau konstruksi sosial.

Karena itu, jangan hanya bertanya:

โ€œApa yang dijelaskan teori ini?โ€

Tanyakan juga:

โ€œBagaimana teori ini memandang aktor, struktur, realitas, dan hubungan di antara keduanya?โ€

Asumsi tersebut harus konsisten dengan paradigma dan desain penelitian.

10. Bandingkan Teori dengan Theory Matrix

Jika terdapat beberapa kandidat teori, gunakan theory matrix.

KriteriaTeori ATeori BTeori C
Relevansi terhadap masalahTinggi/Sedang/Rendah
Kesesuaian dengan RQ
Daya jelaskan
Kesesuaian unit analisis
Kesesuaian paradigma
Kesesuaian konteks
Kemampuan digunakan dalam analisis
Potensi kontribusi
Keterbatasan

Matriks tersebut bukan alat untuk memberikan skor secara mekanis.

Tujuannya adalah membantu peneliti membandingkan argumentasi mengenai setiap kandidat teori.

11. Jangan Mengabaikan Keterbatasan Teori

Teori yang baik bukan teori yang mampu menjelaskan segala sesuatu.

Setiap teori memiliki batas.

Justru memahami batas teori penting untuk menentukan apakah teori tersebut sesuai dengan masalah penelitian.

Misalnya teori mampu menjelaskan proses kolaborasi, tetapi kurang sensitif terhadap ketimpangan kekuasaan.

Jika ketimpangan kekuasaan merupakan inti masalah penelitian, peneliti perlu mempertimbangkan apakah teori tersebut membutuhkan perspektif pendukung.

Dengan demikian, keterbatasan teori bukan selalu alasan untuk menolaknya. Keterbatasan dapat menjadi dasar untuk menentukan ruang penggunaan teori atau membangun integrasi teoritis.

12. Uji Teori dengan Data yang Akan Dikumpulkan

Teori juga perlu diuji terhadap kemungkinan data.

Tanyakan:

โ€œApakah data saya memungkinkan teori ini digunakan secara nyata?โ€

Jika teori membutuhkan data mengenai proses pengambilan keputusan, tetapi penelitian hanya mengumpulkan data persepsi individual, mungkin terdapat ketidaksesuaian.

Sebaliknya, jika penelitian memiliki data wawancara mendalam, dokumen, observasi, dan proses kebijakan, teori yang membutuhkan pembacaan proses dan institusi mungkin lebih dapat digunakan.

Ini menunjukkan bahwa pemilihan teori harus berhubungan dengan desain empiris.

13. Teori yang Paling Menjelaskan Tidak Selalu Teori yang Paling Sederhana

Teori yang sederhana memang dapat memudahkan penelitian.

Namun, jika masalah penelitian kompleks, teori yang terlalu sederhana dapat kehilangan bagian penting dari fenomena.

Sebaliknya, teori yang terlalu kompleks dapat membuat penelitian kehilangan fokus.

Karena itu, yang dicari bukan teori paling sederhana atau paling kompleks, tetapi teori yang memiliki tingkat kompleksitas yang sesuai dengan kompleksitas masalah penelitian.

Prinsipnya:

Gunakan kompleksitas teoritis yang diperlukan, bukan kompleksitas teoritis yang berlebihan.

14. Explanatory Power Harus Terlihat dalam Bab Analisis

Tes terakhir adalah membawa teori ke Bab Analisis.

Tanyakan:

โ€œApakah teori ini membantu saya menghasilkan temuan yang tidak mungkin saya peroleh hanya melalui deskripsi data?โ€

Jika jawabannya ya, teori sedang menjalankan fungsi analitis.

Misalnya data menunjukkan bahwa suatu forum berlangsung rutin.

Teori kemudian membantu menjelaskan apakah forum tersebut menghasilkan deliberasi, sekadar konsultasi, negosiasi kepentingan, reproduksi kekuasaan, atau bentuk interaksi lainnya.

Di sinilah teori mengubah data menjadi penjelasan.

15. Gunakan Tes Tujuh Pertanyaan

Sebelum menetapkan teori utama, mahasiswa S3 dapat menggunakan tujuh pertanyaan berikut:

  1. Masalah apa yang harus dijelaskan?
  2. Research question apa yang harus dijawab?
  3. Apa mekanisme atau proses yang perlu dipahami?
  4. Pada level dan unit analisis apa masalah tersebut berlangsung?
  5. Apakah asumsi teori sesuai dengan paradigma penelitian?
  6. Apakah data yang tersedia memungkinkan teori digunakan secara empiris?
  7. Apa yang dapat dijelaskan teori ini yang tidak cukup dijelaskan oleh teori alternatif?

Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab secara argumentatif, pemilihan teori memiliki fondasi yang jauh lebih kuat.

Kesimpulan

Menentukan teori yang paling mampu menjelaskan masalah penelitian bukanlah proses memilih teori berdasarkan popularitas, jumlah sitasi, atau kemiripan istilah dengan judul disertasi.

Teori perlu diuji berdasarkan explanatory power: kemampuannya membantu peneliti memahami mengapa dan bagaimana fenomena terjadi, mekanisme yang bekerja, konteks yang memengaruhinya, serta konsekuensi yang dihasilkan.

Prosesnya dapat dimulai dari:

Masalah penelitian โ†’ research question โ†’ kebutuhan penjelasan โ†’ kandidat teori โ†’ uji explanatory power โ†’ batas teori โ†’ kesesuaian data โ†’ fungsi analisis โ†’ kontribusi.

Dengan cara tersebut, pemilihan teori menjadi bagian dari argumentasi ilmiah, bukan sekadar keputusan administratif dalam penyusunan Bab II.

Pada tingkat doktoral, pertanyaan yang paling penting bukan:

โ€œTeori apa yang paling terkenal?โ€

melainkan:

โ€œTeori apa yang paling membantu penelitian saya menjelaskan masalah yang saya ajukan, dengan cara yang konsisten dengan paradigma, research question, data, dan tujuan kontribusi ilmiah?โ€

Konsultasi Disertasi di Mitragama

Menentukan teori utama sering menjadi salah satu tahap paling sulit dalam penyusunan disertasi, terutama ketika terdapat beberapa teori yang sama-sama tampak relevan.

Mitragama membantu mahasiswa S3 melakukan pemetaan dan evaluasi teori berdasarkan research problem, research question, paradigma, unit analisis, konteks penelitian, explanatory power, kebutuhan data, keterbatasan teori, serta potensi kontribusi teoritis.

Pendampingan diarahkan agar pemilihan teori tidak berhenti pada โ€œteori ini relevanโ€, tetapi dapat dijelaskan secara akademik:

mengapa teori dipilih, apa yang mampu dijelaskan, apa keterbatasannya, bagaimana digunakan dalam analisis, dan kontribusi apa yang dapat dibangun dari penggunaannya.

Dengan pendekatan tersebut, landasan teori disertasi dapat menjadi lebih tajam, sistematis, koheren, dan siap dipertanggungjawabkan secara akademik.

error: Content is protected !!