Research Gap: Apa Sebenarnya yang Dicari dalam Disertasi?
Salah satu istilah yang paling sering muncul ketika mahasiswa mulai menyusun proposal disertasi adalah research gap. Dosen pembimbing meminta mahasiswa menemukan research gap, reviewer menanyakan kontribusi penelitian, dan proposal penelitian harus menjelaskan mengapa penelitian tersebut penting dilakukan.
Namun, bagi sebagian mahasiswa S3, research gap masih menjadi konsep yang membingungkan. Ada yang menganggap research gap berarti โbelum pernah ada penelitianโ. Ada pula yang hanya menuliskan bahwa penelitian terdahulu โmasih terbatasโ tanpa menjelaskan apa keterbatasannya dan mengapa keterbatasan tersebut penting.
Padahal, research gap memiliki fungsi yang jauh lebih mendasar. Research gap membantu menjelaskan ruang pengetahuan yang belum memadai dan menjadi dasar argumentasi mengapa sebuah disertasi perlu dilakukan.
Apa Itu Research Gap?
Secara sederhana, research gap adalah kesenjangan dalam pengetahuan ilmiah yang masih membutuhkan penjelasan, pengujian, pengembangan, atau reinterpretasi.
Kesenjangan tersebut tidak selalu berarti bahwa suatu topik belum pernah diteliti. Sebuah bidang penelitian dapat memiliki ratusan bahkan ribuan publikasi, tetapi tetap menyimpan research gap.
Mengapa?
Karena pengetahuan ilmiah berkembang melalui proses yang tidak pernah benar-benar selesai. Penelitian baru dapat menghasilkan temuan yang berbeda, memperlihatkan keterbatasan teori, menemukan konteks yang belum terjelaskan, atau menunjukkan bahwa hubungan antarfenomena lebih kompleks daripada yang selama ini diasumsikan.
Dengan demikian, pertanyaan penting bukan:
โApakah sudah ada penelitian tentang topik ini?โ
Melainkan:
โApa yang masih belum cukup dijelaskan oleh penelitian yang sudah ada?โ
Pertanyaan kedua inilah yang membawa mahasiswa menuju research gap.
Research Gap Bukan Sekadar โBelum Pernah Ditelitiโ
Kesalahan paling umum dalam menemukan research gap adalah menggunakan logika sederhana:
โBelum ada penelitian X di Indonesia, maka penelitian saya memiliki gap.โ
Pernyataan tersebut belum cukup kuat untuk disertasi.
Ketiadaan penelitian pada lokasi tertentu memang dapat menjadi bagian dari argumentasi, tetapi mahasiswa perlu menjelaskan mengapa konteks tersebut penting. Apakah konteks tersebut menghasilkan kondisi yang berbeda? Apakah teori yang digunakan dalam penelitian sebelumnya belum memadai untuk menjelaskan konteks tersebut? Apakah terdapat mekanisme yang berbeda?
Sebagai contoh, penelitian tentang partisipasi masyarakat mungkin sudah banyak dilakukan di berbagai negara. Jika seorang mahasiswa ingin meneliti partisipasi masyarakat di Indonesia, kebaruan tidak otomatis muncul hanya karena lokasinya berbeda.
Mahasiswa perlu menemukan pertanyaan yang lebih substantif:
Apakah karakter kelembagaan, distribusi kekuasaan, kondisi sosial, atau struktur kebijakan di Indonesia menghasilkan pola partisipasi yang belum dijelaskan oleh penelitian sebelumnya?
Di sinilah contextual gap dapat berkembang menjadi masalah ilmiah yang lebih bermakna.
Jenis-Jenis Research Gap dalam Disertasi
Tidak ada satu bentuk research gap yang berlaku untuk semua penelitian. Beberapa jenis gap yang sering digunakan antara lain sebagai berikut.
1. Knowledge Gap
Knowledge gap muncul ketika terdapat aspek fenomena yang belum diketahui atau belum dijelaskan secara memadai.
Misalnya, penelitian sebelumnya telah menjelaskan faktor yang memengaruhi keberhasilan suatu kebijakan, tetapi belum menjelaskan bagaimana faktor-faktor tersebut berinteraksi dalam proses implementasi.
Pertanyaan penelitian kemudian dapat diarahkan pada mekanisme atau proses yang belum diketahui tersebut.
2. Theoretical Gap
Theoretical gap muncul ketika teori yang tersedia belum mampu menjelaskan fenomena secara memadai.
Hal ini dapat terjadi karena teori menghasilkan prediksi yang tidak sepenuhnya sesuai dengan temuan empiris, memiliki keterbatasan dalam konteks tertentu, atau belum mengakomodasi dimensi tertentu dari fenomena.
Disertasi dapat menggunakan kondisi tersebut untuk menguji, memperluas, mengintegrasikan, atau mengembangkan perspektif teoritis.
3. Empirical Gap
Empirical gap berkaitan dengan keterbatasan bukti empiris.
Misalnya, sebagian besar penelitian terdahulu menggunakan data dari organisasi besar, sementara organisasi kecil belum banyak dikaji. Atau penelitian sebelumnya dilakukan sebelum terjadi perubahan kebijakan tertentu sehingga kondisi terbaru belum memiliki bukti empiris yang memadai.
Namun, empirical gap harus tetap dikaitkan dengan alasan ilmiah mengapa bukti tersebut diperlukan.
4. Methodological Gap
Gap juga dapat muncul dari pendekatan metodologis yang digunakan penelitian sebelumnya.
Misalnya, sebagian besar penelitian menggunakan survei kuantitatif sehingga mampu menunjukkan hubungan antarvariabel, tetapi belum menjelaskan proses yang menyebabkan hubungan tersebut terjadi.
Penelitian kualitatif kemudian dapat digunakan bukan semata-mata karena โbelum pernah digunakanโ, tetapi karena pendekatan tersebut memungkinkan peneliti menjawab pertanyaan yang belum dapat dijelaskan melalui metode sebelumnya.
5. Contextual Gap
Contextual gap muncul ketika teori atau temuan sebelumnya belum diuji atau dijelaskan dalam konteks tertentu yang memiliki karakteristik berbeda.
Konteks dapat berupa negara, wilayah, sektor, organisasi, kelompok sosial, periode kebijakan, atau kondisi institusional tertentu.
Namun, konteks baru menjadi research gap yang kuat apabila memiliki relevansi teoritis atau empiris, bukan sekadar lokasi penelitian yang berbeda.
Bagaimana Menemukan Research Gap?
Menemukan research gap membutuhkan pembacaan literatur secara aktif. Jangan membaca artikel hanya untuk mengambil definisi atau kutipan.
Ketika membaca jurnal, buat pertanyaan berikut:
Apa pertanyaan penelitian yang diajukan?
Apa temuan utamanya?
Apa keterbatasan penelitian tersebut?
Apa yang belum dijelaskan?
Apa rekomendasi untuk penelitian berikutnya?
Apakah terdapat temuan yang bertentangan dengan penelitian lain?
Apakah teori yang digunakan memiliki batas tertentu?
Apakah konteks penelitian memengaruhi hasil?
Dari jawaban tersebut, mahasiswa dapat mulai memetakan ruang pengetahuan yang masih terbuka.
Jangan Terjebak pada โFuture Researchโ
Bagian future research dalam artikel ilmiah memang sering menjadi sumber inspirasi. Namun, mahasiswa tidak seharusnya langsung mengambil kalimat seperti โpenelitian selanjutnya perlu mengkaji Xโ lalu menjadikannya research gap.
Mengapa?
Karena rekomendasi penulis belum tentu merupakan masalah ilmiah yang paling penting. Peneliti perlu membaca keseluruhan literatur dan membandingkan berbagai studi.
Misalnya, satu artikel merekomendasikan penelitian pada sektor tertentu. Artikel lain justru menunjukkan bahwa masalah utamanya adalah keterbatasan teori. Artikel ketiga menemukan hasil yang bertentangan.
Jika ketiganya dibaca secara bersama, mahasiswa mungkin menemukan gap yang jauh lebih kuat daripada sekadar mengikuti rekomendasi satu artikel.
Research Gap Harus Mengarah pada Contribution
Salah satu cara terbaik menguji kualitas research gap adalah melihat apakah gap tersebut dapat mengarah pada kontribusi ilmiah.
Hubungannya dapat digambarkan sebagai berikut:
Literatur terdahulu โ keterbatasan pengetahuan โ research gap โ pertanyaan penelitian โ temuan โ kontribusi.
Jika research gap tidak menghasilkan pertanyaan penelitian yang jelas, kemungkinan gap tersebut masih terlalu umum.
Sebaliknya, jika gap mampu menghasilkan pertanyaan yang spesifik dan penelitian dapat memberikan penjelasan baru, maka argumentasi disertasi menjadi lebih kuat.
Contohnya:
Gap: penelitian telah menjelaskan pentingnya partisipasi, tetapi belum menjelaskan bagaimana distribusi kekuasaan memengaruhi kualitas partisipasi.
Pertanyaan: bagaimana distribusi kekuasaan membentuk proses dan hasil partisipasi dalam konteks tertentu?
Kontribusi: memberikan penjelasan mengenai mekanisme hubungan antara partisipasi dan distribusi kekuasaan.
Dengan demikian, research gap bukan tujuan akhir. Ia merupakan jembatan menuju kontribusi ilmiah.
Ciri Research Gap yang Kuat
Sebuah research gap untuk disertasi setidaknya perlu memenuhi beberapa karakteristik.
Pertama, jelas. Peneliti dapat menunjukkan apa yang belum diketahui atau belum dijelaskan.
Kedua, berbasis literatur. Gap tidak boleh hanya berdasarkan asumsi peneliti.
Ketiga, relevan. Kesenjangan tersebut memiliki arti bagi pengembangan pengetahuan.
Keempat, dapat diteliti. Data, metode, waktu, dan akses penelitian memungkinkan gap tersebut dikaji.
Kelima, berpotensi menghasilkan kontribusi. Penelitian tidak berhenti pada pengisian kekosongan data, tetapi menghasilkan pengetahuan yang lebih baik.
Research Gap adalah Alasan Mengapa Disertasi Perlu Ada
Pada akhirnya, research gap bukan sekadar bagian formal dalam proposal disertasi. Ia merupakan argumentasi utama yang menjawab pertanyaan: mengapa penelitian ini perlu dilakukan?
Tanpa research gap yang jelas, disertasi mudah berubah menjadi penelitian yang hanya mendeskripsikan fenomena. Sebaliknya, research gap yang kuat membantu membangun alur argumentasi dari literatur menuju masalah penelitian, pertanyaan penelitian, metodologi, temuan, hingga kontribusi.
Karena itu, jangan mencari research gap hanya dengan bertanya โApa yang belum pernah diteliti?โ
Tanyakan pula:
Apa yang belum dijelaskan?
Apa yang masih diperdebatkan?
Apa yang belum konsisten?
Apa yang belum mampu dijelaskan oleh teori?
Apa yang belum terbukti secara empiris?
Dan yang paling penting: apa yang dapat saya tambahkan terhadap pengetahuan setelah penelitian ini selesai?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu mahasiswa S3 bergerak dari sekadar menemukan topik menuju membangun masalah ilmiah yang layak menjadi disertasi.
Mitragama: Mitra Akademik & Pendamping Penelitian Anda
Menemukan research gap sering menjadi tahap yang paling menantang dalam penyusunan proposal disertasi. Mahasiswa mungkin telah membaca puluhan bahkan ratusan jurnal, tetapi masih kesulitan menjelaskan apa sebenarnya yang belum diketahui dan bagaimana penelitian mereka memberikan kontribusi.
Mitragama membantu mahasiswa S3 menelaah literatur, mempertajam masalah penelitian, mengidentifikasi research gap, menyusun pertanyaan penelitian, serta menghubungkan gap dengan teori, metode, analisis, dan kontribusi disertasi.
Disertasi bukan sekadar penelitian tentang sesuatu yang belum pernah diteliti. Disertasi harus menjelaskan sesuatu yang penting untuk diketahui tetapi belum cukup dijelaskan oleh pengetahuan yang tersedia.


