Beranda / Tips Penulisan Disertasi / Pentingnya Penguasaan Referensi Bagi Mahasiswa S3

Pentingnya Penguasaan Referensi Bagi Mahasiswa S3

Ditulis oleh Firdinan M. Fuad, S.I.P

(Tulisan ini memiliki hak cipta. Dikutip dari buku karya Firdinan M. Fuad, 2019, Jalur Cepat Menyusun Disertasi dalam Waktu 1 Tahun, Yogyakarta: Paramitra Media Grup)

Kumpulkan Referensi dalam Jumlah Memadai

Salah satu faktor yang benar-benar mempercepat penulisan disertasi adalah ketersediaan referensi dalam jumlah memadai. Untuk penulisan disertasi, jumlah referensi paling tidak 200 buah, yang terdiri dari 50 buku berbahasa Indonesia, 50 buku berbahasa Inggris, 50 jurnal berbahasa Indonesia dan 50 jurnal berbahasa Inggris. Pada intinya, semakin banyak referensi, tentunya lebih baik.

Di luar referensi-referensi pokok tersebut, jenis referensi yang dimasukkan sebagai pelengkap utama atau tambahan adalah peraturan perundang-undangan, dokumentasi resmi pendukung hasil penelitian, dan berbagai artikel atau berita yang relevan di berbagai media, baik cetak maupun elektronik.

Fungsi referensi tersebut adalah sebagai pendukung utama di bagian latar belakang, keaslian penelitian, tinjauan atau telaah pustaka, serta landasan teori dan metode penelitian. Dalam penelitian kuantitatif, referensi juga banyak dibutuhkan untuk memperkuat pengembangan hipotesis. Dalam banyak kasus, kendala sering dihadapi oleh mahasiswa S3 dalam proses mempercepat penulisan disertasi adalah sangat terbatasnya referensi yang relevan dan mendukung topik penelitian.

Selain jumlah referensi, masalah sering muncul dalam memperlakukan referensi. Dalam banyak kasus, mahasiswa S3 melihat referensi-referensi sudah banyak terkumpul seperti onggokan sampah referensi yang menggunung. Mereka sering tidak dapat membangun struktur dan sistematika pemikiran tertentu sesuai dengan standar disertasi, yang berakibat mereka tidak mampu memilah-milah dan memilih serta menempatkan referensi-referensi tertentu pada tempat yang tepat, apakah di bagian latar belakang, keaslian penelitian, tinjauan atau telaah pustaka, landasan teori atau metode penelitian. Dalam penelitian kuantitatif, mereka juga sering tidak tahu referensi seperti apa yang cocok digunakan untuk mendukung pengembangan hipotesis.

Banyak mahasiswa merasa bahwa referensi yang sudah terkumpul dalam jumlah banyak tersebut harus dibaca seluruhnya agar mereka dapat memahami benar apa yang terkandung dalam referensi tersebut sehingga mereka tahu apa yang cocok dari referensi tersebut dalam mendukung penulisan disertasi. Karena referensi tersebut sangat banyak dan seringkali masing-masing terdiri dari banyak halaman, bahkan tidak sedikit yang memuat ratusan halaman, banyak mahasiswa merasa beban mereka untuk mengkaji referensi tersebut sangat berat, yang dalam banyak kasus menyebabkan proses penulisan disertasi berhenti, bahkan dalam waktu sangat lama.

Pada dasarnya, referensi hanya digunakan sebagai rujukan saja dan dari sekian banyak halaman dalam referensi tersebut, hanya sebagian kecil saja yang dikutip untuk mendukung apa yang ditulis mahasiswa dalam penulisan disertasi. Dalam kasus ini, kelemahan yang dialami mahasiswa yang bersangkutan adalah terbatasnya kemampuan untuk membaca cepat dan memilah-milah serta memilih bagian tertentu saja yang relevan dan memasukkan ke dalam kerangka penulisan disertasi secara tepat.

Menyusun dan menulis disertasi adalah tugas dan pekerjaan yang sangat kompleks dan rumit, khususnya bagi mahasiswa S3 yang mengalami keterbatasan kemampuan membaca, menerjemahkan, dan memahami teks-teks asing berbahasa Inggris. Memang referensi yang digunakan bisa dalam wujud buku-buku atau jurnal berbahasa Indonesia. Namun, dalam banyak kasus, untuk melihat dasar-dasar teoretis yang pernah dikembangkan dalam suatu topik terbaru di seluruh dunia dalam lingkup suatu topik, pelibatan referensi-referensi berbahasa Inggris benar-benar sangat diperlukan. Karena itu, penguasaan kemampuan membaca, menerjemahkan, dan memahami teks-teks berbahasa asing memang mutlak sangat diperlukan. Namun, banyak mahasiswa sering mengalami kesulitan berbahasa Inggris untuk keperluan ilmiah seperti itu.

Kesulitan yang dialami dlam memperlakukan masalah referensi tersebut bertingkat-tingkat. Pertama, banyak mahasiswa S3 tidak mampu menentukan mana referensi-referensi yang diperlukan untuk mendukung penulisan disertasi. Menentukan mana referensi yang diperlukan saja seringkali tidak tidak mudah, apalagi mencari referensi-referensi yang relevan dan dapat mendukung proses penulisan tingkat doktoral tersebut. Kedua, walau mahasiswa yang bersangkutan merasa dapat menentukan mana referensi-referensi yang diperlukan, tidak semua mampu mencari referensi-referensi yang relevan dan mendukung. Hal ini bisa terjadi karena akses mereka terhadap sumber-sumber referensi tersebut terbatas, mereka memang tidak memiliki kemampuan untuk mengakses referensi-referensi tersebut, atau penyedia referensi seperti penerbit buku atau jurnal, baik berbahasa Inggris maupun Indonesia, memang tidak memilikinya, atau memiliki tetapi tidak mempublikasikannya.

Ketiga, kalau mahasiswa yang bersangkutan tidak menemukan beberapa referensi yang relevan dan mendukung, jika referensi-referensi ini berbahasa Inggris, mereka pada umumnya tidak mampu membaca, menerjemahkan, dan memahami apa yang dimaksud dalam referensi-referensi tersebut. Hal ini sering mempersulit penulisan disertasi karena mereka terbata-bata dalam memilah-milah, apalagi memilih, bagian-bagian yang paling relevan untuk mendukung penulisan disertasi. Keempat, sebagian mahasiswa S3 mengatasi masalah tersebut dengan menggunakan jasa penerjemahan untuk menerjemahkan teks-teks bahasa Inggris. Namun, meminta jasa penerjemahan tersebut juga sering tidak bisa menyelesaikan masalah. Hal ini karena penerjemah seringkali masih mencoba-coba menggeluti dunia penerjemahan, mereka hanya lulusan S1, mereka bukan alumni dari jurusan Bahasa Inggris, mereka adalah alumni jurusan Bahasa Inggris tetapi tidak mampu menguasai subject matter dari program studi S3 yang sedang diambil mahasiswa S3 yang bersangkutan, dan kalau mereka sedikit banyak telah cukup memahami beberapa aspek dari program studi S3 tersebut, mereka seringkali tidak memiliki penguasaan dasar-dasar filosofis, teoretis, dan metodologis dari subject matter tersebut dalam mendukung proses penulisan disertasi.

Kelima, memang terdapat mahasiswa S3 menemukan jasa penerjemahan yang cukup baik sehingga referensi-referensi berbahasa Inggris yang relevan itu dapat diterjemahkan dengan cukup baik dan isinya enak dibaca dan relatif mudah dipahami. Namun, masalah lain telah menanti, yaitu mereka masih belum mampu memilah dan memilih bagian-bagian mana dari teks-teks yang diterjemahkan itu yang akan dimasukkan ke bagian latar belakang, keaslian penelitian, tinjauan atau telaah pustaka, landasan teori, metodologi, atau, dalam penelitian kuantitatif, di bagian pengembangan hipotesis. Masalah ini bagi banyak mahasiswa benar-benar tidak mudah diatasi yang pada gilirannya cenderung akan menghambat penulisan disertasi secara keseluruhan. Akhirnya, keenam, jika mahasiswa S3 tersebut tidak dapat memilah dan memilih bagian-bagian yang relevan untuk mendukung proses penulisan disertasi, pada umumnya mereka kemudian dihadapkan dengan masalah mendasar yang mereka alami, yaitu tidak dapat menyusun dan menuliskan bagian-bagian dari referensi-referensi yang relevan yang telah diterjemahkan tersebut ke dalam kerangka penulisan disertasi secara keseluruhan. Masalah yang berkaitan dengan referensi dalam mendukung penulisan disertasi ini merupakan puncak dari kesulitan awal mahasiswa dalam menyusun proposal penelitian.

Masalah lain yang dihadapi mahasiswa S3 terkait referensi adalah masih lemahnya kemampuan mereka dalam membuat sistematika penulisan yang runtut, konsisten, dan komprehensif. Idealnya, mahasiswa S3 sudah dapat menulis secara runtut, konsisten, dan komprehensif sejak awal mereka memasukkan berbagai referensi secara runtut, konsisten, dan komprehensif pula. Namun, kelemahan mereka dalam menyusun disertasi secara sistematis tersebut membuat mereka menulis dengan memasukkan berbagai referensi secara parsial, yang akhirnya menghasilkan proposal disertasi yang ditulis secara eklektik. Implikasinya, tulisan yang dihasilkan dalam proposal disertasi cenderung terbentuk seperti mozaik, yaitu umumnya terlihat tersusun utuh, tetapi jika dikaji secara lebih mendalam, tulisan yang terlihat utuh tersebut sebenarnya terdiri dari unsur-unsur yang tidak saling berhubungan atau tidak saling melekat secara logis satu sama lain. Kondisi ini berdampak buruk dalam proses konsultasi dengan dosen pembimbing, baik promotor maupun ko-promotor, karena biasanya mereka akan melihat, membaca dan memberikan revisi dan editing secara parsial pula, sehingga koreksi-koreksi yang diberikan umumnya tidak mendasar dan cenderung mudah berubah-ubah dari waktu ke waktu. Inilah penyebab paling mendasar dari sangat lamanya proses penulisan proposal disertasi.

Dalam banyak kasus selama memberikan konsultasi disertasi selama ini, dosen pembimbing, baik promotor maupun kopromotor, yang melihat banyaknya kekurangan mahasiswa S3 dalam penulisan proposal disertasi cenderung merasa berat dalam membimbing, sehingga mereka umumnya menyuruh lanjut dan lanjut lagi ke tahap selanjutnya tanpa ada proses revisi dan editing yang berarti. Hal ini karena proposal yang telah disusun oleh mahasiswa S3 yang bersangkutan terlalu parah untuk direvisi dan diedit. Seolah-olah ada kesan bahwa berbagai kesalahan atau kekurangan yang masih banyak terlihat dalam proses disertasi tersebut biar dikoreksi secara menyeluruh dalam ujian komprehensif. Jika sejak awal proses penulisan proposal disertasi itu memang tidak optimal akibat berbagai kelemahan yang dimiliki oleh mahasiswa tersebut dalam memperlakukan referensi-referensi seperti dijelaskan sebelumnya, maka perombakan sistematika penulisan disertasi cenderung akan terjadi, baik di bagian latar belakang, tinjauan atau telaah pustaka, landasan teori maupun metode penulisan. Masih kurangnya keruntutan, lemahnya konsistensi logika, dan tidak komprehensifnya proposal yang telah disusun sering menyebabkan basis-basis struktural penulisan proposal disertasi menjadi sangat lemah dan mudah dikritik dengan goncangan yang hebat, yang berdampak pada kewajiban dari dosen untuk melakukan perombakan total atau radikal. Tendensi ini tentunya sangat melemahkan dan menghambat proses penulisan disertasi.

Kelemahan mahasiswa dalam memperlakukan referensi berdampak besar dalam proses peninjauan atau penelaahan pustaka yang tidak tepat sesuai dengan topik dalam judul penelitian serta rumusan dan tujuan penelitian. Tinjauan atau telaah pustaka yang disusun secara tidak tepat menyebabkan mahasiswa kurang mampu merumuskan landasan teori dan kerangka konsep penelitian yang tepat, yang pada gilirannya metodologi penelitian yang mereka bangun juga tidak tepat. Hal ini sangat wajar karena dalam proposal disertasi, mahasiswa pada dasarnya dituntut mampu melakukan peninjauan atau penelaahan pustaka berdasarkan referensi-referensi yang ada secara memadai. Dalam penelitian yang bersifat deduktif, peninjauan atau penelaahan pustaka sangat diperlukan, bahkan mutlak harus dilakukan, karena pendekatan ini memang diterapkan untuk menguji kebenaran suatu teori dalam konteks ruang dan waktu tertentu, atau lebih umum dikenal dengan istilah verifikasi empiris. Dalam konteks ini, teori-teori yang relevan dieksplorasi berdasarkan referensi-referensi yang ada untuk menemukan konsep-konsep yang relevan untuk dimasukkan ke dalam tinjauan atau telaah pustaka yang mendukung proses konseptualisasi dalam perumusan landasan teori pada tahap selanjutnya. Dari konsep-konsep yang ditemukan dan telah disusun menjadi landasan teori dan kerangka penulisan atau konsep penelitian, mahasiswa S3 dituntut untuk dapat memikirkan atau menemukan indikator-indikator yang tepat untuk diukur melalui penelitian lapangan. Dalam penelitian kuantitatif, pemahaman mengenai indikator-indikator yang tepat dari konsep-konsep terpilih yang dilibatkan dalam proses konseptualisasi untuk membangun landasan teori dan kerangka pemikiran atau konseptual tersebut sangat menentukan keberhasilan mahasiswa dalam proses pengembangan hipotesis. Oleh karena itu, penguasaan referensi benar-benar mutlak diperlukan dalam proses konseptualisasi tersebut.

Di bagian metodologi penelitian, penguasaan referensi sangat dibutuhkan, khususnya untuk merumuskan konsep-konsep apa yang digunakan dan indikator-indikator yang diterapkan untuk penelitian lapangan. Konsep-konsep yang dipakai didefinisikan melalui apa yang disebut definisi konseptual dan indikator-indikator dari konsep tersebut didefinisikan melalui apa yang disebut definisi operasional. Di fakultas-fakultas tertentu bagian ini biasanya diisi dengan menentukan variabel apa yang digunakan, parameter dari masing-masing konsep yang digunakan serta indikator-indikator yang tepat untuk mengukur parameter-parameter itu sesuai dengan konsep yang digunakan. Kadang ada juga keharusan bagi mahasiswa S3 untuk menunjukkan kira-kira data apa yang nantinya diperlukan untuk mengukur indikator-indikator tersebut. Penguasaan referensi yang lemah seringkali membuat mahasiswa kesulitan merumuskan definisi konseptual dan definisi operasional, atau, dalam konteks yang lain, variabel, parameter, indikator, dan data penelitian di bagian metodologi penelitian.

Dalam tradisi penelitian positivis, baik kuantitatif atau kualitatif, teori-teori yang ditinjau atau ditelaah di bawah kerangka pemikiran atau konsep penelitian tertentu berfungsi utama sebagai alat analisis, baik untuk memilah-milah dan mengkonstruksi hasil penelitian sesuai dengan teori-teori atau konsep-konsep yang telah digunakan dalam proposal, khususnya di bagian landasan teori. Teori-teori dan/atau konsep-konsep tersebut digunakan sebagai pisau untuk membelah data fakta-fakta yang ditemukan di lapangan. Proses yang dikembangkan dalam konteks tersebut adalah analisis, baik dengan verifikasi empiris dalam penelitian deduktif kuantitatif maupun generalisasi melalui abstraksi fakta dalam penelitian induktif kualitatif. Bedanya, dalam penelitian deduktif kuantitatif, teori-teori dan/ atau konsep-konsep yang telah digunakan dalam tinjauan atau telaah pustaka cenderung hanya dijadikan sebagai dasar pembenar atau dasar untuk menyatakan sesuai atau tidak fakta-fakta empiris tersebut dengan teori-teori yang selama ini berlaku. Sementara itu, dalam penelitian induktif kualitatif, teori-teori dan/atau konsep-konsep yang digunakan di bagian tinjauan atau telaah pustaka cenderung hanya digunakan sebagai pengarah untuk membaca dan memahami data fakta-fakta empiris di lapangan dan selanjutnya proses generalisasi dilakukan melalui abstraksi atas data fakta-fakta tersebut untuk menghasilkan temuan teori dan/atau konsep yang baru. Tanpa penguasaan referensi yang memadai, mahasiswa S3 sering mengalami kesulitan besar dalam melakukan analisis untuk sampai pada temuan doktoral.

Jasa Terjemahan

Anda seorang dosen, doktor, profesor dan peneliti yang sangat sibuk dan mengalami kesulitan menyusun jurnal dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris berstandar internasional? Kami di Mitragama siap membantu Anda.

Hubungi kami: 081331977939

Mengenai Layanan Penerjemahan, silakan Klik di sini!